Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.
Hemat ke Maldives

Hemat ke Maldives

Maldives (dalam bahasa Indonesia disebut “Maladewa”) akhir-akhir ini jadi destinasi liburan yang lagi hits. Sejak maskapai penerbangan berbiaya rendah terbang ke sana, liburan ke Maldives jadi makin murah (sedihnya, bisa lebih murah daripada liburan ke Papua). Maldives dulu memang identik dengan mahal karena harus menginap di resort yang terletak di pulau eksklusif. Namun sejak 2009, pemerintah Maldives membuka kebijakan baru yaitu memperbolehkan pulau yang dihuni oleh penduduk lokal membuka bisnis pariwisata untuk para wisatawan asing, antara lain di Male (ibu kota Maldives), Hulhule, Maafushi, dan Gulhi.

 

Saya sendiri sudah pernah ke Maldives 20 kg 15 tahun yang lalu, seperti yang diceritakan pada buku The Naked Traveler 1. Nah, Januari 2017 kemarin ini saya ke Maldives lagi ikutan trip @MaldivesHemat karena tertarik untuk merasakan Maldives dari sisi lain. Kalau tinggal di pulau lokal kan bisa gaul sama cowok orang lokal. Lagipula, harga paketnya terjangkau banget; Rp 8,7 juta all in selama 4 hari 3 malam termasuk tiket pesawat Jakarta-Male-Jakarta, airport transfer pp, makan ala prasmanan, menginap di hotel berbintang, dan aktivitas laut!

Perlu diketahui, Maldives adalah negara Islam yang cukup ketat peraturannya. Alkohol hanya tersedia di resort eksklusif, kalau bawa alkohol dari luar akan ditahan di bandara. Cewek tidak boleh berenang pakai bikini di pulau lokal. Untunglah kami menginap di Maafushi, sebuah pulau lokal yang paling tourist friendly yang terdekat dari bandara. Selain paling banyak pilihan hotel/restoran/kafe/toko, Maafushi punya “Bikini Beach” alias pantai khusus yang diperuntukkan untuk cewek berbikini. Kalau doyan berenang, jangan deh nginep di Male dan Hulhule (pulau tempat bandara) meski sedikit lebih murah.

Bikini Beach, Maafushi

Saya pikir hotel yang termasuk paket itu ecek-ecek, nggak taunya berbintang tiga, bagus, luas, bersih, ber-AC, air panas, dan ada free WiFi. Saya sih upgrade ke hotel bintang empat bernama Arena Beach Hotel yang lokasinya persis di pinggir Bikini Beach jadi tinggal nyebur. Mau main kano, pinjam sepeda, atau pinjam alat snorkeling juga sudah termasuk.

Sebagian besar orang yang ke Maldives adalah para honeymooners. Sebagai solo traveler, saya sih nggak sirik khawatir karena kalau ikutan open trip kemungkinan besar ada barengannnya. Dan kali ini saya pun otomatis bergabung dengan geng ciwi-ciwi (kurus jomblo). Hehe!

A photo posted by Trinity (@trinitytraveler) on

Hari pertama kami island hopping naik speed boat keren yang atapnya bisa untuk jemuran badan. Kami snorkeling di Banana Reef dan Biyadhoo Garden. Lumayan banyak ikan karangnya, terutama unicorn fish. Makan siang ala barbeku kami di Pulau Gulhi sambil piknik pake taplak kotak-kotak di pinggir pantai kece. Karena di sana tidak ada “bikini beach” jadi saya berenang pake rash guard. Lalu foto-foto di sandbank (pasir timbul), dan pulangnya sekalian dolphin cruise melihat lumba-lumba. Nah, kalau pergi sendiri, berapa biaya tuh yang harus dikeluarkan untuk sewa kapal?

A photo posted by Trinity (@trinitytraveler) on

Ke Maldives rasanya kurang afdol kalo nggak ke resort yang punya bungalow di atas air seperti gambaran klasik Maldives. Hebatnya @MaldivesHemat bisa bikin day trip ke resort sesuai dengan preferensi kita. Paket day trip (jam 9 pagi sampai jam 6 sore) ini termasuk antar-jemput naik speed boat, menggunakan fasilitas resort, makan siang ala prasmanan, termasuk free flow alkohol! Dengan biaya ekstra, saya pilih ke Centara Rash Fushi Resort karena anak kecil dilarang masuk (penting!). Eh nggak taunya barengan pula sama geng ciwi-ciwi. Jadilah kami bergembira ria berenang, foto-foto, dan mimi-mimi di bar kolam renang seharian! Sementara anggota rombongan lain ada yang ke resort-resort lain (yang boleh bawa anak kecil) atau berkeliling di Maafushi.

A photo posted by Trinity (@trinitytraveler) on

Malam terakhir, saya dan geng ciwi-ciwi pengen farewel party. Gimana caranya dugem tanpa ada club dan alkohol dong? Robert dan Fajar, dua cowok usia awal 20-an pemilik @MaldivesHemat emang anak gaul. Diajaklah kami dugem di tengah laut! Jadi karena dugem dilarang di pulau lokal di Maldives, dibuatlah diskotek di atas kapal yang parkir jauh dari daratan. Maka jam 11 malam kami pun naik kapal kecil ke kapal berlampu biru. Ternyata kapalnya besar, ada lantai dansa lengkap dengan DJ dan mirror ball, serta bar jual alkohol! Yeayy, kami pun berpesta sampai pagi – meski harus usaha ekstra karena kapal goyang kena ombak!

Hari terakhir kami bersantai di pantai depan hotel. Si @MaldivesHemat emang tau aja bikin foto yang Instagramable, maka disediakanlah floaties berbentuk flamingo untuk foto-foto cantik di pantai. Yep, mereka pula lah yang menyediakan jasa motretin! Sorenya kami city tour di Male, sekalian shopping dan beli oleh-oleh. Indonesia banget kan?

Abis itu saya nggak ikut pulang ke Jakarta karena extend sendiri. Saya menginap di Club Med Kani, resort keren tempat lokasi syuting film “Trinity, The Nekad Traveler”! FYI, kalau mau menginap di Club Med manapun di Maldives, bisa pesan di @MaldivesHemat karena mereka adalah agen resmi jadi bisa lebih murah.

Yuk ah liburan ke Maldives!

Read more
[Adv] Jadi Juri Blue Band Master Oleh-Oleh

[Adv] Jadi Juri Blue Band Master Oleh-Oleh

Lumayan sering saya jadi juri dari berbagai macam kompetisi, terutama di bidang penulisan. Tapi baru kali ini saya diminta jadi juri kompetisi makanan Blue Band Master Oleh-Oleh! Sempat bingung juga kenapa saya yang dipilih Unilever Food Solution (UFS) untuk jadi juri, tapi katanya karena ini adalah kompetisi makanan oleh-oleh maka saya sebagai traveler yang sudah keliling Indonesia dianggap berkompeten menilai oleh-oleh.

Emang bener sih, orang Indonesia kalo traveling itu pasti beli oleh-oleh. Saya yang udah nggak beli oleh-oleh aja pasti beli juga kalau traveling di Indonesia, itu pun belinya berupa makanan. Kalo ngasih oleh-oleh berupa makanan itu pasti habis kok, apalagi ditaro di kantor. Survery membuktikan bahwa 3 dari 4 orang Indonesia memilih produk makanan atau kue sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan kerabatnya. Bayangkan berapa besar potensi industri oleh-oleh bagi pariwisata Indonesia!

Diluncurkan pertama kali pada September 2016, kompetisi Blue Band Master Oleh-Oleh adalah sebuah ajang menciptakan ragam kreasi oleh-oleh khas nusantara bagi para pelaku industri bakery dan pastry dari dari seluruh propinsi di Indonesia. Dalam kurun waktu dua bulan sejak diluncurkan, sebanyak 3.667 pelaku industri bakery dan pastry telah berpartisipasi dalam kompetisi Blue Band Master Oleh-Oleh melalui website www.masteroleholeh.com. Animo masyarakat Indonesia dalam memberikan dukungan pun cukup besar, tampak dari terkumpulnya lebih dari 160 ribu dukungan melalui website dan SMS yang dibuka sepanjang 1 September – 31 Oktober 2016. Proses penjurian yang panjang pun telah dilakukan secara bertahap, mulai dari tahap validasi, tahap penjurian tingkat propinsi, hingga tahap penjurian tingkat nasional hingga akhirnya terpilihlah tiga pemenang utama.

Penjurian diadakan pada 23-29 November 2016 di Jakarta, di mana dewan juri pada final penjurian terdiri dari Chef Rahmat Kusnedi, seorang pastry chef dan President of Indonesia Pastry Alliance yang telah menggeluti dunia baking di Indonesia selama 20 tahun; Ibu Oneng Setya Harini, Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dan saya sendiri. Cihuy banget nggak sih? Hehe!

Oleh-Oleh Corner

Sebagai penggemar serial TV kompetisi masak MasterChef, saya jadi tahu cara kerja juri lomba makanan. Kesimpulannya, it’s not easy at all! Saat penjurian tingkat nasional, kami harus mencicipi kue dari 34 propinsi di Indonesia, masing-masing 3 jenis! Puluhan kue masuk ke mulut selama beberapa hari itu memang bikin eneg, meski cuma sesendok-sesendok aja. Namun selain menilai rasa, komponen penilaian lain yang tak kalah penting adalah rupa (tampilannya, daya tahan, kemasan) dan keunikan. Untunglah ketua juri, Chef Rahmat, banyak memberikan pelajaran tentang bagaimana menilai kue. Masukannya juga sangat berguna untuk kelangsungan industri, seperti perijinan BPOM dan sertifikasi halal, pengemasan yang kokoh, serta pencantuman tanggal kadaluwarsa. Ah, benar-benar pengalaman yang eye-opening!

Setelah diskusi panjang, akhirnya dewan juri telah sepakat menentukan 3 pemenang. Pemenang pertama adalah Bagelen Bekatul kreasi Toko Super Roti dari propinsi Jawa Tengah, pemenang kedua adalah Cake Salak Kilo kreasi Toko Cake Salak Kilo dari propinsi Kalimantan Timur, dan pemenang ketiga ialah Nutsafir Cookies kreasi oleh Toko Nutsafir Cookies dari propinsi Nusa Tenggara Barat. Seluruh pemenang berhak menerima koin emas, paket iklan promosi, dan gelar Master Oleh-Oleh 2016.

Nara sumber dan para pemenang

Kini seluruh oleh-oleh yang terdaftar dalam kompetisi dapat diakses oleh masyarakat melalui Peta Oleh-Oleh di laman www.masteroleholeh.com untuk menjadi referensi saat memilih oleh-oleh dari seluruh Indonesia.

 

Read more
Iran itu berbahaya?

Iran itu berbahaya?

Saat saya ke Iran, ada sebagian follower berkomentar, “Hati-hati ke Iran, Syiah kan bahaya!” Widih, segitunya! Sebagai non-Muslim, saya sih nggak ngerti soal perbedaan Islam aliran Sunni dan Syiah. Apanya yang bahaya juga nggak tahu.

Yang saya amati, mesjid-mesjid di Iran itu luar biasa cakepnya. Baru kali itu liat mesjid sampe nganga! Bentuk mesjid yang terdapat minaret tinggi dan kubah, bukan merupakan satu bangunan besar sekaligus, tapi bagian tengahnya pasti terbuka tanpa atap – dengan cuaca di Iran sih cocok. Dinding-dindingnya berupa kumpulan tegel bermotif cantik yang dihiasi kaligrafi, plus warna yang didominasi warna kesukaan saya: biru.

Ezra pernah ikutan sholat Jumat di mesjid Imam Khomeini di Teheran. Katanya sih ada sedikit perbedaan tata caranya. Beda yang lain adalah saat sujud, kepala harus menempel di tanah. Maka disediakanlah kotak-kotak kecil terbuat dari tanah liat yang dipinjamkan gratis di mesjid.

Pas Idul Adha, ada sih sholat Ied, tapi tidak terlihat ada yang potong kurban. Saya sampai bertanya ke orang-orang lokal. Jawab mereka, “Kami potong kurban tidak di tempat umum, tapi di rumah masing-masing.” Oh, beda ya sama kita yang di tempat umum dan jadi tontonan (berdarah).

Di buku panduan perjalanan Lonely Planet selalu ada bab mengenai highlights dari destinasi setiap negara. Di buku khusus Iran, highlight urutan pertama yang tertulis adalah “People”. Artinya, yang membuat Iran paling menarik adalah orang-orangnya – melebihi destinasi wisatanya. Dan saya mengamininya. Mana mereka cantik-cantik dan ganteng-ganteng pula!

Pertama, saya sebagai turis asing di Iran merasa jadi celebrity! Iran adalah satu-satunya negara di dunia di mana orang-orangnya pengen foto bareng saya! Jadi kayak bule-bule di Indonesia yang sering diminta foto bareng sama orang kita gitu.

Saat lagi asyik jalan kaki di pasar, pasti ada aja orang yang memanggil-manggil, “Excuse me! Excuse me!”. Awalnya saya males nanggepin karena biasanya tukang jualan agresif, atau takutnya malah jebakan betmen semacam tourist scam. Begitu saya nengok, ada seorang bapak-bapak bersama anak perempuannya yang bertanya, “Can I take picture of you and my daughter?” Dan ini terjadi berkali-kali. Sepertinya mereka bangga sekali jika punya foto sama orang asing. Anak-anak pun memberikan senyum terlebar dan tercantik saat foto bareng!

Di berbagai destinasi wisata tak jarang pula saya dan Ezra dipanggil-panggil oleh orang lokal untuk mengajak foto bersama – kalau mereka tidak bisa berbahasa Inggris, jadilah saya ditarik-tarik.  Bukan hanya sama anak-anak, tapi juga sekeluarga besar yang bergantian foto bareng mulai dari nenek sampai ke cucunya! Emangnya nggak ada turis lain? Ada sih. Kebanyaka bule Eropa yang datang serombongan grup tur naik bus, tapi mereka nggak dilirik. Saya bingung, apakah karena tampang Asia atau karena muka kami menggemaskan? #halah

Tak jarang pula kami diajak mampir ke rumah orang lokal. Kalau pun orang dari luar kota, mereka dengan senang hati memberikan alamatnya sambil berpesan, “Kalau kalian ada waktu, mampir ya ke rumah kami!” Bahkan beberapa kali kami dikasih makanan kecil. Pernah sekali saya coba, eh ternyata keju kambing yang asin banget! Terpaksa saya telan karena melihat wajah mereka yang cerah ceria menunggu komentar enak dari saya (setelah mereka pergi, saya muntahkan).

Kedua, bukan karena ngajak foto bareng saya anggap baik. Semua orang ramah dan suka menolong. Kalau lagi sibuk selfie, ada aja yang nawarin motretin. Kalau keliatan bingung nyasar, ada aja yang menyapa dan kasih unjuk jalan. Supir atau tukang jualan yang mukanya seram tanpa senyum pun ternyata nggak menipu karena harganya sesuai. Kalau mau motret orang lokal akan selalu dikasih izin, bahkan dengan senang hati mereka tersenyum dan berpose.

Banyak orang sana memang suka mengajak ngobrol. Sebagian karena ingin praktik ngomong bahasa Inggris. Yang bikin saya merinding, mereka selalu berkata, “Thank you for visiting my country!” (dari situ lah saya belajar untuk berkata hal yang sama kepada turis asing yang saya temui di Indonesia). Aduh, air mata saya sampai menetes karena melihat kebaikan dan ketulusan mereka!

 

Dan trofi kebaikan jatuh kepada Pak Mousavi. Dia adalah resepsionis hotel di Teheran. Karena Iran mirip seperti di Kuba di mana kalau mau booking hotel cukup sulit karena internet hampir tidak eksis, maka saya menyerahkan urusan booking ke Pak Mousavi. Dia cuman minta dikasih tahu sehari sebelum sampai di kota yang dituju. Semua hasil booking-annya aman dan lancar, bahkan beliau mengorganisir penjemputan pula dari terminal bus ke hotelnya. Beliau juga lah yang memberikan tips and trick traveling di Iran. Dan semua servisnya itu tidak bayar sama sekali!

Jadi apa bahayanya ya? Iran menurut saya sih aman, meski negara sekelilingnya masih bergejolak. Tidak semua orang Iran itu Syiah. Ada juga yang Suni, Kristen, Katolik, bahkan mereka mengakui agama Yahudi dan Zoroastrian dan memiliki bangunan ibadahnya masing-masing. Semuanya terlihat aman-aman aja. Pokoknya apa yang kita pikirkan buruk tentang Iran, kenyataannya malah sebaliknya. Entah kenapa Amerika Serikat dan Arab Saudi segitu bencinya sama Iran. Soal Syiah atau bukan, saya juga tidak peduli. Yang penting saya sebagai turis dihargai dan disambut dengan baik.

Read more
Berjilbab di Iran

Berjilbab di Iran

Sebentar lagi pesawat akan mendarat di Teheran. Sesuai dengan peraturan Republik Islam Iran, semua wanita wajib menutup kepalanya, mulai dari sekarang,” kata pramugari mengumumkan melalui pengeras suara. Saya segera mengambil pashmina di ransel dan menutup rambut saya. Secara bersamaan semua wanita di dalam pesawat memakai kerudung, termasuk para pramugari dan cewek bule. Sebagai cewek non-Muslim yang doyannya pake celana pendek dan t-shirt, saya  merasa excited pertama kali memakai jilbab dalam waktu lama. Pengin tahu juga rasanya gimana hidup di negara Islam dengan segala peraturannya.

Revolusi Iran pada 1979 telah menggulingkan dinasti Pahlavi yang didukung Amerika Serikat lalu Iran menjadi negara Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini. Sejak itu ditetapkan peraturan bahwa setiap wanita, termasuk orang asing dan non-Muslim, diharuskan menutup kepala, serta berpakaian panjang dan longgar. Perlu diketahui, di dunia ini hanya ada dua negara yang mewajibkan semua wanita berjilbab, yaitu Arab Saudi dan Iran. Ironisnya, mereka berdua adalah dua kubu yang saling perang dingin.

Terus terang saya nggak pede traveling ke Iran sendirian. Untunglah saya barengan sama sepupu saya, Ezra. Lumayan kami bisa lebih hemat akomodasi dan transportasi. Persoalan selanjutnya, menginap di hotel di Iran harus sesama muhrim. Kalau mengaku suami-istri, bakal ditanya surat nikah. Katanya sih turis asing sih mendapat keringanan, tapi Ezra kan cowok Indonesia dan Muslim –di Aceh aja nggak bakalan bisa sekamar.

Sampai di pusat kota Teheran, kami check in di sebuah hotel. Eh si mas resepsionis bertanya, “So, what is your relationship?”

He’s my brother,” jawab saya menunjuk Ezra.

If you’re brother and sister, why do you have different last names?” tanya resepsionis lagi. Kwak kwuawww!

Baru aja saya mau jawab, “We have same mother, but different fathers,” tapi Ezra duluan menjawab, “In Indonesia, we don’t have last names!”

So what about HXXXXXXX (last name saya) and FYYYYYYYYYYY (last name Ezra)?”

They are all our first names!” jawab saya menyeringai lebar. Aduh, maaf saya terpaksa berbohong, kata saya dalam hati.

Berhasil! Kami pun diberikan kunci kamar. Kamar kami terletak di lantai empat, tanpa lift pula, jadi kami harus menggotong sendiri koper ke atas. Sampai di kamar, saya basah kuyup oleh keringat sehingga saya langsung buka kerudung dan baju. Pas saya mau buang air besar… lha, di dalam kamar mandi hanya ada shower! Ternyata toiletnya ada di hall luar yang sharing dengan tamu-tamu lainnya selantai!

“Lha, ini gue mau keluar berjarak 10 meter kudu pake jilbab lagi nih?” tanya saya ke Ezra.

“Ya, iya lah ya!” jawab Ezra terkikik.

Dengan perut bergemuruh karena kebelet, saya terpaksa memakai ulang semua baju dan kerudung yang sudah basah keringat satu per satu! Duh, pe-er banget yak! Kasihan dengan keribetan saya tengah malam, Ezra pun memberikan advice, “Kalo elo mau pipis doang, di kamar mandi sini aja. Elo jongkok, trus lo pas-pasin deh anu lo sama lubang air!” Hahahaha! (((Pas-pasin!))) Membayangkannya saja saya ngakak!

Besoknya saya memperhatikan cara berpakaian wanita Iran. Di Iran, kepala hanya ditutup scarf sehingga poni dan ujung kuciran rambut terlihat. Tapi baju mereka longgar dan menutup pantat sehingga tidak terlihat lekukan tubuh. Biasanya mereka memakai baju 3 potong, yaitu celana panjang/jeans, blus/kaus, dan semacam jaket panjang model trench coat. Cewek-cewek Iran yang cantiknya luar biasa itu terlihat sangat fashionable dan keren padahal pakaian mereka tidak branded sama sekali (ingat, Iran diembargo Amerika Serikat). Berbeda dengan gaya jilbab di Indonesia; rambut tidak boleh kelihatan, tapi baju malah ketat.

Ada memang sebagian kecil wanita Iran yang memakai cadar, terutama di kota kecil dan pedesaan. Namun cadar di sini bukan jilbab yang hanya matanya saja yang kelihatan. Cadar di Iran adalah hitam yang dikenakan seperti selimut di atas baju, jadi kayak memeluk jubah. Wanita tidak diharuskan memakai cadar, kecuali di tempat tertentu. Saya pernah pakai cadar saat masuk mesjid Shah Cheragh. Sulit juga berjalan karena sambil memeluk cadar, sambil bawa tas dan kantong plastik berisi sepatu. Yang bikin saya ngikik sendiri adalah motif cadar ini animal print macan!

Satu hal lagi yang mengagetkan, banyak cewek Iran yang hidungnya ditutup plester karena hidung mereka habis dioperasi plastik! Ya, Iran adalah “nose job capital of the world”. Jumlah operasi hidung terbanyak di dunia per kapita ada di Iran, atau empat kali lebih banyak daripada di Amerika Serikat! Saya pernah tanya, katanya biayanya murah, sekitar Rp 3 jutaan saja. Saya bingung, padahal hidung orang Persia kan bangir gitu. Rupanya ada unsur gengsi dan status sosial, sehingga mereka dengan bangganya memamerkan plester.

Anyway, lama-lama saya jadi belajar berpakaian ala cewek Iran. Setiap pagi sebelum keluar hotel, Ezra memasangkan jilbab di kepala saya, menyarankan #OOTD (outfit of the day), bahkan meminjamkan tunik dan selendangnya. Mumpung ada yang fotoin, saya jadi sering posting foto diri berjilbab ala Iran di Instagram @TrinityTraveler. Banyak yang likes dan berkomentar positif, bahkan ada yang komen, “Semoga istiqomah, mbak!”

Ternyata memakai jilbab tidak semudah itu! Iran pada bulan September suhunya sekitar 33 derajat dan lembab, tapi baju harus lengan panjang dan pakai celana panjang. Kepala tertutup sih nggak apa-apa, tapi leher yang tertutup itu membuat saya sangat kepanasan! Kadang saya membuka bagian leher untuk kipas-kipas. Saya juga merasa pendengaran berkurang karena tertutup kain. Kadang tanpa sadar jilbab saya buka bagian kuping. Karena lembab, kulit kepala saya kadang gatal. Saya diam-diam membuka jilbab untuk menggaruk kepala. Tidak ada orang yang marah dan protes, kecuali Ezra yang menjerit, “Teteh, jilbabnya yang bener dong!”

Budaya Islam pun terasa di Iran. Karena saya jalan dengan Ezra, dunia antara wanita dan pria itu terasa bedanya. Meski saya yang booking ini-itu, tapi selalu Ezra yang diajak ngomong. Kalau berkenalan, hanya pria yang bersalaman dengan Ezra. Kadang saya lupa menyorongkan tangan untuk bersalaman, maka pria Iran itu akan menaruh tangannya di dadanya. Kalau duduk di mana pun, saya harus duduk di sebelah wanita atau sebelah Ezra, di mana sebelah Ezra harus pria.

Yang katanya duduk di restoran harus dipisah, malah tidak terjadi. Wanita, pria, keluarga, semua duduk di ruangan yang sama. Yang katanya cewek dan cowok dilarang jalan berduaan apalagi bermesraan, malah sering ketemu pasangan anak muda yang begitu. Yang jarang lihat memang cewek jalan sendiri.

Pelajaran lagi nih. Iran bukan bangsa Arab. Orang Iran akan tersinggung kalau dibilang Arab karena mereka adalah bangsa Persia. Meski tulisannya Arab, tapi itu adalah bahasa Persia.

Balik lagi ke soal menginap di hotel, di kota-kota selanjutnya kami tidak pernah ada masalah. Namun entah kenapa oleh staf hotel di mana pun, kami disebut sebagai “brother and sister from Indonesia”. Sampai suatu kali seorang staf hotel bertanya, “You are from Indonesia? So you are Moslem?”

I am,” jawab Ezra. “I’m not,” jawab saya. Berbarengan sampai kami saling berpandangan. Nah lho!

Why you’re brother and sister but you have different religions?” tanyanya. Nah, kan?

In Indonesia, we are free to choose whatever religion we want to have,” jawab saya perlahan. Meski kurang yakin tapi paling tidak saya bersyukur tinggal di Indonesia, negara sekuler.

Katanya Iran yang syiah itu bahaya. Masa sih? (Bersambung)

Read more
[Adv] Liburan dan kerja di Solo

[Adv] Liburan dan kerja di Solo

Setelah launching buku “The Naked Traveler 7” di Jakarta, saatnya promosi ke kota-kota lain. Kali ini kota Solo-Yogyakarta-Semarang disambangi duluan pada akhir Agustus 2016. Tapi bukan Trinity namanya kalau tidak sekalian jalan-jalan. Cukup sering saya merambah Yogyakarta dan Semarang, namun Solo yang masih kurang. Jadilah saya menyediakan waktu 3 hari/2 malam untuk jalan-jalan di Solo.

Saya menginap di Hotel Ibis Styles dan Novotel Solo dengan pertimbangan mereka punya paket jalan-jalan di sekitar Solo yang menarik – cocok lah untuk saya yang travel solo. Eh, it rhymes! Travel solo in Solo! 🙂 Kedua hotel tersebut letaknya bersebelahan dan fasilitasnya bisa sama-sama digunakan bila menginap di salah satunya.

20160825_114816

Mendarat siang di bandara, saya dijemput mobil hotel dan langsung ke situs arkeologi Sangiran. Perlu diketahui, Indonesia memiliki 8 situs yang termasuk ke dalam UNESCO Heritage Site, Sangiran adalah salah satunya. Homo erectus ditemukan di sini lho! Museumnya besar dan cukup banyak informasi. Sangiran ini memang banyak ditemukan fosil manusia dan hewan yang hidup sejak sejuta tahun yang lalu. Yang bikin saya gemas adalah informasi yang tertulis itu sering typo dan tidak menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hehehe, maklum penulis!

20160825_143416

Sorenya saya diajak ke perkebunan teh Kemuning yang berkabut. Pemandangan bukit serba hijau dengan kabur memang terkesan magis. Saya cuma nongkrong di saung sambil bengong aja nikmat banget!

Malamnya saya menginap di hotel Ibis Styles Solo. Perbedaan Ibis Styles dengan Ibis Hotel dan Ibis Budget adalah luas kamar, fasilitas dan dekorasinya. Ibis Styles ini yang “pangkatnya” paling tinggi di antara ketiganya. Interiornya memang lebih segar dengan warna-warni terang. Paling oke sih kolam renangnya yang luas! #penting

20160825_111520Keesokan paginya saya ikut Bicycle Tour alias tur naik sepeda. Awalnya ke Museum Batik Danar Hadi yang menampilkan koleksi ribuan batik berusia ratusan tahun. Yang paling menarik adalah koleksi Batik Belanda dengan motif tokoh cerita Snow WhiteLittle Red Riding Hood, hingga Hansel and Gretel. Di bagian belakangnya terdapat pembuatan Batik tulis dan Batik cap yang bisa dilihat langsung prosesnya yang rumit itu yang dikerjakan oleh karyawannya yang telah bekerja puluhan tahun.

20160826_113340

Setelah menggoseh sampai naik sampan menyebrangi Sungai Bengawan Solo dan melewati sawah, sampailah di pabrik pembuatan Ciu, minuman beralkohol tradisional terbuat dari penyulingan tetes tebu yang telah difermentasi. Melihat drum-drum dan botol-botol plastik di area yang tidak steril ini malah bikin tambah serem bagi saya.

20160826_130311Paling menarik dari tur sepeda ini adalah mengunjungi pabrik shuttlecock alias bola kok pada olah raga bulu tangkis. Kok di sini terbuat dari bulu ayam karena memang bukan kualitas utama, hanya untuk latihan. Ternyata untuk membuat sebuah kok dibutuhkan 16 helai bulu ayam yang diambil dari 2 ekor ayam berbulu putih masing-masing 4 helai bulu pada masing-masing sayap! Ada sekitar 40 orang yang membuat kok dengan tangan (hand made), bahkan dijahit manual oleh nenek-nenek! Ternyata perjuangannya berat banget untuk jadi 1 kok yang umurnya paling hanya 5 menit!

Sorenya saya ikut Becak Tour, mayan tinggal duduk dan dibawa ke mana-mana. Diawali dengan mengunjungi daerah Kauman, pusat batik Solo. Selanjutnya adalah tur kuliner Solo yang legendaris, mulai dari makan Nasi Liwet, Wedang Ronde, dan Gudeg. Aduh, perut sampai mau pecah!

Malam itu saya menginap di hotel Novotel Solo yang merupakan hotel berbintang pertama di Solo. Sebagai hotel berbintang empat, kamarnya memang luas dan berseni. Dari kamar saya di lantai 8, kota Solo terlihat asri. Paginya saya sarapan enak yang sudah termasuk dalam paket kamar dan bersantai di kolam renang sebelum launching buku dan talk show di Toko Buku Togamas.

20160826_152637Dari Solo, saya pindah ke Yogyakarta dan Semarang untuk launching buku. Sudah nyaman dengan menginap di hotel grup Accor, saya pun tinggal di hotel The Phoenix MGallery Yogyakarta dan Novotel Semarang. Saya pernah menginap sebelumnya di kedua hotel tersebut dengan alasan utama lokasinya yang strategis. Kelebihan lain, Hotel Phoenix berbintang lima yang menggunakan bangunan bersejarah dan dekorasi tradisional Jawa. Sementara Novotel Semarang hotel berbintang empat yang luas, nyaman, dan fasilitas lengkap.

Terima kasih NTers yang datang di acara launching buku “The Naked Traveler 7“! Kota-kota lainnya menyusul, ya? Terima kasih Novotel & Ibis Styles Solo dan grup hotel Accor! Mau ah menginap dan jalan-jalan lagi di kota-kota lain!

Read more