Bukan honeymoon di Halimun

Bukan honeymoon di Halimun

Adakah tempat yang Anda merasa cinta sekaligus benci? Jakarta? Pasti! Tapi selain Jakarta, bagi saya adalah Halimun, nama kependekan dari Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) di Jawa Barat.

Dulu waktu saya SMA, di sana lah saya mengikuti pendidikan dasar kelompok Pencinta Alam. Saat itu 40 orang angkatan saya habis-habisan “dididik”. Saya menggunakan tanda kutip karena masa itu orang belum sadar akan pelanggaran hak asasi, bullying, dan lain lain. Saya dibesarkan di zaman guru yang santai memukul murid. Kalau Anda segenerasi dengan saya pasti pernah merasakan pukulan penggaris kayu panjang saat kita dianggap salah atau tidak tertib.

Tak heran pada masa itu Ospek atau semacam “pendidikan” merajalela. Anak baru benar-benar dikerjain nggak karuan. Tambah parahnya lagi pake main fisik, seperti ditendang dan digampar. Di luar Ospek, sering juga ada yang “menggencet”, terutama cewek senior ke cewek junior. Setelah naik kelas, tak heran senior jadi balas dendam ke para junior. Begitu seterusnya. Nggak ada tuh orang tua murid yang protes. Lha, pada masa itu orang tua juga santai main tangan ke anak-anaknya.

Kembali ke cerita Halimun, saya baru menyadari betapa indah alamnya setelah menjadi senior – di mana senior nggak ada kerjaan selain ngerjain junior saat pendidikan. Namanya juga cagar alam, segalanya masih asri. Lansekap yang bergunung-gunung, perkebunan teh yang luas, hutan hujan tropis, sungai berair jernih, udara yang sejuk, dan kabut yang pekat memang lebih cocok sebagai tempat honeymoon daripada Kawah Candradimuka alias “pendidikan”. Setelah dua kali saya jadi senior ngerjain junior, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana.

Setelah lulus SMA, kuliah, dan bekerja, 12 orang seangkatan Pencinta Alam saya kembali ke Halimun untuk napak tilas pada Januari 2016. Kalau dulu kami ke sana naik truk, sekarang bawa mobil pribadi (bukan punya saya sih). Dulu masuk ke Halimun lewat Parung Kuda, namun karena jalan ke arah Sukabumi yang semakin macet tidak terkendali, kami lewat Leuwiliang. Saya takjub karena sepanjang jalan sudah banyak toko, restoran, apalagi jaringan minimarket terkenal itu.

Memasuki gapura Halimun, ada beberapa plang bertanda “Tempat Latihan Brimob”. Buset, Brimob aja pendidikannya di sini. Apalagi dulu kami anak bau kencur! Kami pun terdiam sambil menengok kiri-kanan jendela mobil. Lalu satu per satu berteriak;

“Anjir, dulu kita disuruh jalan kaki hujan-hujanan bawa ransel berat sejauh ini!”

“Oh, ini kan pos yang dulu kita digamparin senior!”

“Wah ini sungai yang dulu kita diceburin lama banget sampe menggigil!”

“Nah ini lapangan yang dulu kita disuruh gampar-gamparan satu sama lain!”

“Ih, ini kan pendopo waktu kita disuruh push up berapa seri tuh!”

“Lha ini hutan yang kita lagi enak-enak tidur ditendang-tendangin senior!”

Dan semua kenangan buruk pun keluar! Betapa kami menderita fisik dan mental ikut pendidikan. Pulang-pulang berat badan kami turun sampai 3 kg dan tidur berhari-hari kemudian saking capeknya. Tapi kami tidak ada yang berani mengeluh, apalagi mengadu ke orang tua. Kelar pendidikan dasar, masih ada pendidikan-pendidikan lain ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, kami masih dihajar lagi sama senior.

Kenangan buruk itu berakhir ketika kami tiba di Halimun. Setelah sekian lama, ternyata Halimun yang terpelosok itu ada perubahannya juga. Sekarang sudah ada home stay yang bisa kami sewa untuk menginap, jadi tidak usah pasang tenda lagi. Sekarang sudah bisa pesan makanan komplit, jadi tidak usah memasak lagi pake kompor parafin. Sekarang sudah ada perkampungan, sinyal hape, listrik, TV, bahkan parabola.

Malam itu kami mengobrol panjang sampai pagi. Mulai dari kisah penderitaan saat Pendidikan Dasar sampai akhirnya kami saling mencela satu sama lain. Siangnya kami sungguh menikmati segarnya alam. Perkebunan teh beserta kabutnya masih sama indahnya, meski dinginnya berkurang. Sungai masih berair segar dan jernih. Hutan tampak tidak seseram dulu, bahkan sekarang sudah ada wisata canopy (yang sudah tutup karena rusak). Sedihnya, sampah banyak bertebaran di mana-mana.

Seharian kami napak tilas ke tempat-tempat “pembantaian”, namun kali ini kami hanya mentertawakan saja sambil foto-foto. 12 orang itu lah yang kami sebut brotherhood. Lebih dari teman, bagaikan saudara sedarah. Geng ceweknya aja masih traveling bareng saya sampai sekarang.

Jadi pertanyaannya, kenapa juga kami mau ikut kelompok Pencinta Alam? Ya pada masa itu jadi anak Pencinta Alam sangatlah keren; pakai jaket seragam petantang-petenteng di sekolah, merasa hebat karena telah menaklukkan gunung-gunung Indonesia. Sekarang siapa sih anak zaman sekarang yang mau bersusah payah pendidikan, kotor-kotoran masuk hutan, dan ngos-ngosan naik gunung? Zamannya sudah beda. Di sekolah saya itu aja paling cuman ada beberapa orang yang ikut organisasi Pencinta Alam, itu pun dengan syarat kalau ada pendidikan tidak boleh di luar Jakarta dan tidak ada kekerasan fisik. Sayangnya ada beberapa sekolah yang bahkan sudah menghapus organisasi Pencinta Alam dengan alasan tidak safety.

Bagi saya pribadi, jadi anak Pencinta Alam tetap membanggakan. Karena itu lah saya merasa pede traveling ke mana pun, terutama dalam hal survivor skill. Soal mentalitas, yang jelas lebih kuat. Setelah menempuh semua “pendidikan” yang penuh perjuangan itu, apa sih yang ditakutkan lagi?

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

20 comments

  • Aku berada di masa peralihan. Saat jadi junior (karena ikutan ekskul Paskibra), ya ngerasain semua prilaku yang mbak T tuliskan (walaupun beda alam-nya), eh pas jadi senior, mulailah kasus penganiayaan sekolah yang itu mencuat.

    Kadang mikir kok dulu bego banget mau dibegituin. Tapi setelah dipikir lagi, ya ambil hikmahnya. Mental emang jadi lebih terasah.

    Reply
  • Saking kerennya anak pecinta alam…saya sampai mau jadi Ibu Ketua Dharma Wanita Pecinta Alam pas kuliah alias pacaran sama ketua Pecinta Alam…hahahaha

    Reply
  • Aku jadi ingat dulu kelas 1 SD guru suka mukul punggung tangan pakai penggaris karena kuku belum dipotong. Sekarang memang pendidikan lebih termonitor. Tapi efek lainnya, bullying merajalela di social media. Untuk ospek kampus, aku juga sempat merasakan ‘dididik’ dalam mlam inisiasi di kawasan Bogor. Berhari-hari setelahnya aku trauma dengar suara ketukan pintu, serasa digedor sama senior untuk bersiap jurit malam. Tapi setelah itu, mental emang jadi terlatih sih, Beda era, beda cara. :))

    Reply
  • Kekerasan verbal pun jadi momok bagi anak sekolah zaman dulu. Guru ngatain “bego”, “bodoh”, ditambah pakai main pukul penggaris kayu itu dianggap biasa karena sudah jadi rantai … Kalau anak zaman sekarang mah bisa laporin aja ke Komnasham kalau gurunya kebangetan hahaha. Untungnya sih era 80-90’an ada permainan-permainan yang jadi pengalihan dalam mencari kesenangan. 😀

    Reply
  • Paling sedih bagian yang banyak buang sampah. Sekarang, banyak oknum pecinta alam. Ngakunya pecinta alam, tapi malah cuma numpang buang sampah dan corat coret 🙁

    Reply
  • Saya dulu pernah mengalaminya, Mbak. Makanya gak pernah suka sama kegiatan ospek itu, sama pramuka juga. Beruntung masa masuk universitas hanya acara di dalam ruangan. Beda jauh sama ospek yang, menurut saya, tidak penting itu.

    Reply
  • Jadi inget, waktu saya SD kelas 4 punya wali kelas yang suka gebukin punggung orang yang dianggap bandel. Belum lagi disuruh jurit malam pas persami pramuka.

    Jaman sekarang guru yang begitu bisa dilaporin polisi. lalu ekskul pramuka mah udah gak laku

    Reply
  • Sama dong mbak trinity, saya juga masuk Pecinta Alam di sma. Kalau disekolah saya anak beken(banyak cowok ganteng berotot disana) sering masuk Pecinta Alam jadi saya yang korban social pressure ikutan, tapi karena badan saya cukup lemah saya terpaksa jadi anggota anak bawang aja karena masa ‘Pendidikan’nya saya lakukan setengah jalan (nggak pakai pukul-pukulan, paling parah didorong ke air becek dan jelajah hutan tanpa petunjuk)

    Reply
  • Anak-anak pecinta alam emang keren dan tangguh dari dulu. Soalnya didikan yang ditanamkan emang keras demi bisa survive di alam bebas. Dan yang bikin iri adalah persaudaraan yang begitu kuat.

    Reply
  • Salam lestari mbak !

    Aku pun kalau “napak tilas” ke lokasi pendidikan ku dulu, rasanya nostalgia banget 🙂
    Inget segala macam didikan yang ada 🙂

    Sekarang, masih banyak kok geliat pencinta alam walau ga sebanyak dulu peminatnya, selain pola pikir yang beda, padatnya waktu belajar di sekolah atau kampus bikin siswa/mahasiswa mikir buat ikut ekskul.

    Btw, sama kita masih jaman masak pake parafin (sebelum kompor trangia/ kompor gas mini menyerang)

    Reply
  • Pingback: Bukan honeymoon di Halimun – Site Title

Leave a Reply