Iceland indah?

Iceland indah?

Pertama kali mendengar nama negara Iceland (dalam bahasa Indonesia disebut “Islandia”) ini ketika backpacking di Eropa saat masih kuliah. Saat winter, saya sedang duduk menggigil kedinginan di bandara. Pengumuman melalui pengeras suara di bandara menunjukkan kota-kota tujuan penerbangan. Tinggal saya dan seorang lelaki duduk di dekat situ. “Where are you going?” tanya saya sambil gemetaran dingin. “Iceland,” jawabnya yang membuat saya tiba-tiba merasa tambah kedinginan. “Apa tadi? I I Ice land? Ice in the land? Land of the ice?” BRRRR!!!

Dulu Iceland adalah negeri yang tidak pernah saya bayangkan bisa didatangi saking jauh dan mahalnya. Namun sejak krisis ekonomi yang melanda Iceland pada 2008, pariwisatanya mulai digalakkan. Hotel-hotel mulai dibangun, pesawat berbiaya rendah mulai diterbangkan. Alhasil yang tadinya turis asing berjumlah 80 ribu naik menjadi 4 jutaan per tahun – bandingkan dengan jumlah penduduk Iceland yang hanya 300 ribu. Lama-lama mereka pun sebel dengan turis yang kebanyakan.

Anyway, saya tidak menyangka 30 kg kemudian akhirnya sampai juga di Iceland pada Oktober 2016 bareng @RiniRaharjanti, berkat nemu budget airlines yang kami naiki dari Paris seharga 85 Euro. Kami berdua memang malas ‘belajar’ dulu tentang tempat yang akan didatangi – maksudnya biar terbuka mata dan pikiran gitu. Tapi gara-gara ini lah ‘bencana’ berdatangan.

Oktober bukan high season di Iceand, jadi kami pede aja booking hostel hanya untuk 2 malam pertama. Harganya cukup mahal untuk tinggal di dorm rame-rame, sekitar Rp 550 ribu per malam per orang per bed. Itu pun sudah dapat yang agak murah karena tidak terletak di pusat kota. Begitu masuk dan sudah terbukti kamarnya nyaman, kami langsung extend.. eh kamarnya sudah fully booked! Panik browsing ke sana ke mari nggak nemu, akhirnya kami extend di hostel yang sama dengan kamar private untuk berdua yang tentu harganya lebih mahal lagi. Sial.

Makan pertama kami cari yang murah. Si resepsionis bilang yang terdekat ada KFC. Tadaaa! Ternyata makan berdua yang paket combo standar habis sekitar Rp 350 ribu! Emang sih udah dibilangin kalo Iceland mahal, tapi nggak nyangka sampe segitu harganya. Kami langsung belanja di supermarket untuk masak sendiri supaya hemat. Tapi kalau siang lagi jalan-jalan ke mana gitu tidak sempat pulang, jadi harus cari makan siang. So far nemu makan termurah berupa nasi bungkus porsi kecil dari warung India, itu pun harganya sekitar Rp 130 ribu. Alamak!

Dengan waktu hanya seminggu di Iceland kami mengunjungi destinasi wajib turis. Di Reykjavik, kami ikut free walking tour untuk mengetahui lebih dalam tentang Iceland yang ternyata sebagian besar nenek moyangnya berasal dari Norwegia. By the way, tour guide-nya cakep lho! Orang Icelander itu emang rata-rata cakep sih, baik cowok maupun ceweknya. Bodi mereka tinggi besar. Untungnya cukup ramah. Budaya mereka sangat bebas dan tidak ada tabu untuk hal apapun, tak heran mereka kreatif. Negara sekecil itu aja menghasilkan musikus dunia macam Björk dan Sigur Rós. Instalasi seni dan mural bertebaran di penjuru kota. Negaranya pun sangat aman, kantor Perdana Menteri aja tidak berpagar dan tidak ada satpam. Fakta yang menarik, Iceland sebenarnya tidak sedingin es, suhu rata-ratanya hanya -10 sampai 10 derajat Celcius saja.

Tempat favorit saya di Reykjavik ada dua. Pertama adalah Harpa, gedung konser dan konferensi yang strukturnya terdiri dari kerangka baja yang dilapisi dengan panel kaca berbentuk geometris berwarna-warni. Desainnya keren banget dan di manapun sangat Instragamable. Kedua adalah The Icelandic Phallological Museum alias Museum Penis. Iya, segala macam penis, kebanyakan hewan, dipamerkan. Ternyata yang terkecil adalah anunya hamster dan terbesar adalah anunya blue whale. Jadi jangan berkecil hati ya, gaes! 🙂

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Semua destinasi turis di luar kota pun kami kunjungi, seperti jalur Golden Circle yang terdiri dari air terjun Gullfoss, Geysir dan Strokkur, Þingvellir National Park, danau kawah Kerið. Kami sempat juga sewa mobil sendiri dengan jalur South Coast, antara lain ke Vik, air terjun Seljalandsfoss dan Skógafoss, glacier Sólheimajökull, pantai Reynisfjara. Pengen diving di antara lempengan benua tentu batal karena nggak kuat mahalnya, nggak worth it untuk pamer foto doang.

Jalur pantai selatan lebih indah sih: pegunungan hijau berlapis-lapis seperti di film Secret Life of Walter Mitty dan pantai pasir hitam seperti adegan pembuka film Rogue One: A Star Wars Story. Nah masalahnya, kebanyakan pas saya foto pemandangan di Iceland kenapa jadi mirip dengan alam Indonesia ya? Geysir dan air terjun bentuknya sama. Danau kawah malah bagusan punya kita banget. Pantai Star Wars itu malah kayak di Jawa! Saya jadi mikir, ini saya yang dodol motretnya atau para Instagramer yang kebanyakan edit ya?

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Kalau membayangkan Iceland adalah dataran luas tanpa manusia itu tidak seluruhnya benar. Film-film tersebut lokasinya khusus dan bukan berada di jalur turis, kecuali Anda adalah Justin Bieber yang bisa syuting video musik gugulingan sendirian. Mungkin dulu pernah sepi. Tapi sekarang sih udah penuh sama turis Amerika yang super berisik dan rombongan turis Tiongkok yang mendominasi lokasi untuk foto bareng. Mau foto sendirian nggak ada orang? Kecil kemungkinan!

O ya, sebagian besar orang ingin ke Iceland karena ingin melihat langsung aurora borealis. Sebenarnya saya pernah lihat aurora di Finlandia belasan tahun yang lalu, tapi sejak adanya medsos kan mau pamer ya? Aurora hanya bisa dilihat pada musim winter, katanya antara Oktober sampai April – kalau beruntung. Setiap hari kami booking tur liat aurora, tapi setiap sore semua tur selalu dibatalkan karena langit berawan. Padahal kata temen sehostel, dua hari sebelum kami tiba ada aurora terang banget di halaman hostel. Kecewa? Biasa aja sih. Aurora itu ada di negara-negara lain juga kok.

Hari terakhir kami berencana untuk kungkum di Blue Lagoon, kolam hotspring yang sangat terkenal itu. Eh kata teman sehostel kalau ke sana nggak bisa go show tapi harus booking dulu online. Hah? Dodolnya kami! Saya pun tanya ke resepsionis karena mereka menjual segala macam tiket. Ternyata semua jam penuh, kecuali slot yang jam 9 malam – itu pun tutupnya jam 10 malam! Dan di sana, ya ampun, udah kayak cendol! Mana malam itu angin berhembus sangat kencang sehingga air di kolam berombak. Kami bak manusia perahu yang kecebur di kegelapan dan dihajar banjir air bah! Pulangnya kami berjalan kaki ke mobil sampai merangkak-rangkak karena dihajar angin kencang. Lebih ngeri lagi, mobil kami bisa bergoyang-goyang sendiri bahkan mengsle kena angin! Hiyy!

Intinya: Iceland tidak se-wow yang saya kira. Kalau sudah pernah ke New Zealand dan Chile, rasanya Iceland jadi biasa saja. Jangan salah, Iceland tidak bisa dibilang jelek, ia tetap indah dan spektakuler. Hanya saja saya pernah melihat yang lebih indah lagi. Atau mungkin saya kurang lama dan kurang jauh. Pada akhirnya, pergi ke Iceland justru membuat saya makin cinta Indonesia.

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

38 comments

Leave a Reply