Disabled Traveler

Disabled Traveler

Tak pernah menduga saya bisa menulis tentang pengalaman pribadi menjadi seorang yang disabled alias penyandang cacat. Istilah sopannya zaman sekarang disebut “difabel” yang berarti kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya. Nggak, saya nggak gila, tapi saya pernah cacat fisik selama lebih dari sebulan. Nggak parah, tapi lumayan mengganggu.

Pada Juni 2017, lutut kiri saya terasa ngilu luar biasa, terutama saat berjalan. Berhubung akan trip ke Kazakhstan, maka saya pergi ke dokter speasialis ortopedi. Setelah diperiksa, cek MRI dan X-Ray, hasilnya sungguh tidak menggembirakan: meniskus (bantalan antara sendi lutut) robek, terdapat cairan sehingga lutut bengkak, tulang memar, dan osteoartritis (pengapuran). Karena apa? Kombinasi antara cedera olah raga, overuse (kebanyakan dipake) dan obesitas! Dokter cuman kasih obat anti nyeri sementara. Cara penyembuhannya adalah istirahat, mengurangi pergerakan, dan menurunkan berat badan. Lha, gimana? Profesi saya kan tukang jalan-jalan! Saya pun disuruh berjalan pake tongkat agar mengurangi beban pada lutut kiri. Anjir, gue kayak nenek-nenek jompo!

Singkat cerita, berangkatlah saya ke Kazakhstan dengan muka meringis karena menahan ngilu. Saya baru sadar bahwa kecepatan jalan kaki saya dengan menggunakan tongkat melambat 50%. Saya frustasi sendiri karena saya yang biasanya aktif bet-bet-bet jadi selow banget. Pekerjaan saya literally and figuratively modal dengkul, namun dengkul saya menyerah. Aaaarrgh!

Kazakhstan ternyata bukan negara yang disabled friendly. Di Almaty, hampir semua hotel pasti bertangga untuk naik ke lobi. Saya memang sengaja bawa koper beroda supaya tidak tambah beban, tapi gimana bawanya kalau naik/turun tangga? Naik tangga adalah siksaan, tapi ternyata turun tangga lebih ngilu lagi. Di Metro (kereta bawah tanah) ada tangga jalan, tapi masuk ke dalam stasiun tetap ada tangga dan tidak ada ada lift. Jalan-jalan di kota masih mending, tapi begitu di alam fasilitas difabel tidak ada. Parahnya lagi, toilet umum di luar kota harus jongkok! Wadawww!

Saya extend ke Astana yang merupakan ibu kota modern, tapi tidak lebih baik. Saya meminta tolong teman orang Kazakh untuk menelepon hostel agar saya tidur pada lower bunk bed (ranjang bawah) jadi nggak harus manjat. Eh nggak taunya hostel terletak di lantai dua tanpa lift! Saya terpaksa hanya keluar hostel sekali, dari pagi pulang malam dan nggak keluar lagi.

Yang saya senang di Kazakhstan adalah malnya karena lift yang tersedia khusus untuk difabel. Kalau orang normal masuk, akan dipelototi orang. Namun di bandara saya dicurigai. Tongkat harus masuk X-Ray terpisah dan saya pun disuruh body check di dalam ruangan khusus. Untuk memastikan bahwa saya memang sakit kakinya, eh saya disuruh buka celana! Si mbak petugas malah mencet-mencet lutut saya. Aduh, mbak!

Pulang ke Jakarta, lutut saya belum sembuh jadi ke mana-mana masih pake tongkat. Saya baru memperhatikan bahwa permukaan jalan di Jakarta banyak yang tidak rata, bahkan di dalam rumah sekalipun. Ada anak tangga ada di hampir semua gedung, baik mal, kantor, restoran. Yang paling bahaya adalah ketika berada di keramaian. Jalan di tempat ramai, orang asyik aja mepet sampai tongkat saya jatuh. Lift mal dipenuhi oleh orang normal, padahal selalu ada escalator. Ketika saya naik bus umum, orang tidak memberikan tempat duduk. Keluar bus, ada gap besar antara lantai bus dan halte. Dan yang paling sulit adalah menyebrang jalan! Baru juga beberapa langkah, mobil dan motor tidak ada yang memperlambat kecepatan! Was-wus aja sampe saya stuck di tengah jalan dan ditolong tukang parkir.

Seminggu kemudian, saya diundang ke Inggris. Ada 10 orang media dari 10 negara yang ikut, dengan tema adventure yang membutuhkan banyak aktivitas fisik. Waktu saya konfimasi, saya pikir saya bakal normal kembali. Ternyata tidak. Saya merasa gagal merepresentasikan Indonesia! But the show must go on. Saya pun ke dokter gizi untuk konsultasi menurunkan berat badan dan ke dokter rehabilitasi medik untuk diajarkan cara berjalan agar mengurangi rasa sakit. Dengan tongkat keparat saya tetap berangkat. Untunglah saya masih dikasihani Tuhan. Dalam rombongan itu ternyata ada 4 orang tua, dan salah satunya juga sakit lutut! Jadilah itinerary dibuat 2 versi; aktivitas fisik untuk anak muda dan jalan-jalan untuk orang tua, contohnya yang muda surfing, yang tua ke kastil.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Inggris sebagai negara maju hampir selalu menyediakan fasilitas untuk difabel. Warganya pun sudah biasa memprioritaskan difabel, ada aja orang yang menolong saya. Setiap ada anak tangga, ada pilihan permukaan rata. Hotel kecil di pelosok sekalipun ada lift, tersedia kamar khusus difabel dengan kamar mandi yang banyak pegangan dan tidak harus memanjat bathtub. Hanya sekali saya naik-turun tangga, yaitu ketika saya extend ke Belfast dan naik pesawat berbiaya rendah. Dasar murah, tidak ada belalai dari pintu bandara ke pintu pesawat – ya, nasib!

Eh, ada satu hal lagi yang bikin down dengan ‘kecacatan’ saya. Ternyata saya jadi nggak pede gebet laki! *tutup muka*

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series – which will become a movie in 2017.

26 comments

  • Kalau saya baru sadar bahwa difabel itu terpinggirkan saat punya bayi & toddler tanpa nanny. Digendong anaknya udah berat, pakai stroller repot banget. Setuju banget, kalau di UK banyak orang sigap membantu. Setiap ketemu tangga pasti ada aja yang langsung membantu angkat stroller

    Reply
  • semangatnya luar biasa deh mbak, walau fisik kurang sehat tp tetep jalan, tp dg begitu jadi tau derita temen2 difable yah mbak,, tq for sharing

    Reply
  • Wah.. Semangat terus ya teh, travelingnya! Walaupun terkendala sakit lutut.
    Sayangnya banyak negara yang ternyata belum “ramah difable”, khususnya di negara-negara berkembang, seperti Indonesia

    Reply
  • Saya juga pernah, hari kedua di Korea kepeleset salju di Seoraksan. Alhasil mata kaki keseleo dan bengkak. Sisa seminggu di Korea jalan terpincang-pincang dan malemnya ngabisin waktu di hostel ngompres bengkaknya pake es batu karena mau beli conterpain ga tau bahasa koreanya 😀

    Reply
  • coba Googling tentang Diet Ketofastosis Kak….bisa menyembuhkan (dgn izin Nya), menambah sehat Plus Bonus Badan jd Langsing, Fit & Sehat

    Reply
  • Baru beberapa waktu yang lalu saya naik gunung lagi setelah absen sekitar setahun. Takutnya, keterbatasan fisik saya bakalan ngganggu ritme perjalanan sama 2 orang kawan lain. Untungnya sebulan sebelumnya saya sempat traveling dua minggu, dan tiap hari pasti jalan sekitar 5-10 km. Tapi ya jadi pelajaran banget sih mbak, kalau mau hiking misalnya, olahraga dulu biar fit, biar nggak nyusahin diri sendiri–dan teman-teman. 🙂

    *Lihat lingkar perut sendiri*
    *Ambil sepatu running*

    Reply
  • Walaaah padahal.kan bisa aji mumpung nyari gebetan kak? Hahaha

    Btw, kami di aceh juga mengeluhkan hal yang sama. Kota yang ramah disable.. but ya kayak kakak bilang, kita bukan inggris. Masih indonesia

    Reply
  • Pantesan lihat updet yang baru, miss T kelihatan lebih kurus bet, ternyata pake program penurun berat badan hehehe. Setidaknya dari pengalaman pakai tongkat bantu jadi merasakan seperti apa sudut pandang difabel di negara-negara maju maupun berkembang. Nggak kebayang sih betapa tabahnya hati para difabel di Indonesia yang diam, tidak mengeluhkan keburukan jalanan padahal setiap hari mereka harus beraktivitas. Hiks.

    Reply
  • Udah baca The Naked Traveler dari lama, bukunya jga udah. The Best Traveler i’ve ever seen! Kalo kakak nyari tempat yang indah buat traveling atau surfing, kunjungi g-land.asia sekarang!

    Reply
  • Saya ikutan sedih baca ini. Saya nggak disabled, tetapi kecepatan berjalan saya juga ikutan berkurang semenjak saya melahirkan bayi.

    Saya harus gendong anak ke mana-mana, dan mata saya jadi jeli memperkirakan tempat-tempat mana aja yang ramah buat bayi-dan-ibu. Saya nggak mau pergi ke mall yang nggak ada liftnya. Ketika saya harus naik eskalator, saya kesulitan menyeimbangkan antara pegang handle atau memegangi bayi. Cukup menyusahkan.

    Saya juga lebih empati kepada para disable semenjak orangtua saya mulai menua. Ibu saya juga mulai osteoartritis, sehingga nggak capable lagi buat lari naik-turun tangga. Sekarang tiap kali bepergian bersama orang tua, saya selalu ngecek tempat yang kami datangi, kira-kira nyaman untuk didatangi lansia atau tidak, mengandung jalan setapak yang aman atau tidak, toiletnya sudah modern atau masih tradisional.

    Itu secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pengelola tempat wisata yang bersangkutan. Kalau mau tempat itu laris didatangi orang, ya kudu ramah pada tourist yang disabled dong.

    Reply

Leave a Reply