The power of female travelers

The power of female travelers

Sangat sering saya ditanyakan orang “sebagai cewek, ngeri nggak sih traveling?” dan sungguh saya nggak ngerti kenapa pertanyaan semacam itu masih ada di tahun 2014? Bahkan orang-orang tua (untungnya bukan orang tua saya) hari gini masih ada yang bilang, “Traveling? Tapi kamu kan cewek!”

Sebagai cewek, harus diakui umumnya kita memang lebih rentan dibanding cowok secara fisik. Tapi ingat lah bahwa resiko ditipu, dicuri, dirampok, bahkan diperkosa adalah sama juga dengan yang ditanggung cowok. Kriminalitas itu tidak pandang jenis kelamin, umur, fisik dan lain-lain. Secara kasarnya, kalau sial ya sial aja. Jalan-jalan sendiri di malam hari ke tempat yang sepi? Itu sih bukan hanya cewek, tapi cowok pun akan jadi sasaran kejahatan. Dengan menggunakan common sense, semua resiko itu bisa diminimalisasi, dan tentunya ditambah doa agar kita selalu dalam lindunganNya.

Perhatikan nggak? Buku-buku travel di Indonesia sebagian besar ditulis oleh cewek. Semakin lama pun semakin banyak cewek yang traveling. Bahkan perjalanan setahun saya keliling dunia 2012-2013 saya bertemu lebih banyak cewek daripada cowok. Kalaupun ada cowok, sebagian besar dia datang bersama ceweknya.

Apakah karena populasi cewek lebih banyak di dunia? Salah! Saat ini perbandingan pria dan wanita adalah 101:100 kok. Jadi kenapa cewek lebih banyak traveling? Teori saya sih karena umumnya cowok itu lebih serius memikirkan masa depan karena secara kodrat mereka lah yang nantinya wajib menjadi breadwinner (pencari nafkah untuk keluarga). Jadi, cowok lebih cenderung untuk mengejar karir supaya duluan mapan dan bisa menikahi cewek. Sementara cewek, apalagi masih single, mikirnya kalo ada duit ya dipake untuk senang-senang sendiri aja dulu. Hayo ngaku! 🙂

Menurut saya, jadi cewek itu justru jauh lebih diuntungkan saat traveling. Tahu kan ada istilah “ladies first”? Artinya, kita memang selalu didahulukan. Sebut saya tidak mendukung persamaan hak pria dan wanita. Tapi dalam hal traveling, saya tetap ingin mendapat perlakuan khusus kok!

Pertama, cewek itu sering diberikan tempat khusus. Transportasi publik memberikan space khusus untuk cewek, seperti gerbong khusus di kereta api atau dapat prioritas tempat duduk di bus. Parkir aja di mal, cewek mendapat tempat khusus bukan? Bahkan di India yang katanya paling serem bagi traveler cewek, justru memberikan jalur antrian khusus, disediakan polisi cewek, dan kursi MRT hanya boleh diduduki oleh cewek.

Kalau menginap di hostel, sering tersedia kamar dorm khusus cewek tapi sangat jarang ada dorm khusus cowok. Cowok dianggap lebih fleksibel dengan berbagi kamar dengan cowok maupun cewek, sehingga pilihannya hanya dorm yang mix cewek-cowok. Belum lagi soal toilet dan kamar mandi, untuk cewek umumnya lebih luas dan letaknya lebih dekat.

Dalam soal belanja atau membeli sesuatu yang bukan fixed price, cewek yang emang doyan nawar dianggap wajar bagi penjual sehingga pada akhirnya kita bisa mendapatkan harga lebih murah. Cowok umumnya lebih gengsi dalam hal ini, dan itu terbukti seringnya saya mendapat harga lebih murah dibanding teman-teman traveler yang cowok. Secara umum, barang-barang yang tersedia di pasaran pun sebagian besar ditujukan untuk cewek sehingga kita lebih bebas memilih. Baik membeli barang untuk diri sendiri maupun untuk oleh-oleh kepada cewek lebih mudah karena lebih banyak pilihan.

Justru karena kita cewek, kita harus memanfaatkan “kecewekan” kita. Contohnya kalau kita bertanya arah jalan kepada seseorang, hampir dipastikan ia akan menjawab dengan lebih ramah kepada cewek  daripada kepada cowok – secara cowok kan gengsi kalau nanya jalan bukan? Malah cewek yang nanya jalan dan akhirnya dianterin itu kemungkinannya besar! Kalau naik kendaraan dan mengambil tas dari bagasi, sebagai cewek kita bisa santai meminta tolong kepada kondektur untuk diangkatin. Saya malah kasihan sama cowok, mereka harus berlaku sebagai cowok dengan mengangkat tas sendiri tanpa minta tolong – bahkan mereka merasa berkewajiban membantu traveler cewek lainnya.

Contoh yang lebih ekstrim lagi, kalau cewek ke bar, kita bisa senyum-senyum kedipin bartender cowok untuk mendapat minuman gratis. Hal semacam ini sulit dilakukan oleh cowok, kecuali emang udah kenal sebelumnya. Pokoknya, kemungkinan cewek ditraktir makan dan minum jauh lebih besar daripada cowok!

Masih banyak lagi deh keuntungan cewek traveling. Intinya, kita tinggal pasang muka memelas dan banyak senyum, orang akan senang hati membantu. Nggak usah sok kuat dan tegar deh. Kadang berlagak lemah justru memberikan keuntungan loh! Yang penting, kita tahu batasnya. Berani tegas kalau ada yang kurang ajar. Berpakaian sopan dan tidak “mengundang”. Sisanya, kita harus menjaga keamanan dan keselamatan diri, apapun jenis kelaminnya.

Ingatlah, worrying gets you nowhere! Kalau kita khawatir melulu, kapan kita jalan-jalannya dong?


Tulisan ini pernah masuk ke Majalah Elle, 2014

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

40 comments

  • setuju banget mba. Aku juga baru-baru ini coba travelling sendirian dan baru aja berhijab. Gak ada masalah tuh! Malah lebih banyak dapet keuntungan ketimbang reramean

    Reply
  • Ah, setuju banget mba. Banyak ternyata keuntungan jalan-jalan sebagai ceweq. 🙂
    Ah, pasang muka memelas itu, poin terakhir suka dipakai. kekekekekeke. Eh, kalo baju mengundang? jadi bingung, ini mengundang di timpuk termasuk gak? Kalo pakaian yang agak terbuka, kami sering, apalagi di udara panas, tapi kayanya tetap gak “mengundang” kok. 😀 😀

    Reply
  • Terima kasih sudah menyadarkan para wanita traveler mbak. Biar suaminya nggak khawatir :D.
    saya mulai tertarik dengan artikel-artikel yang ditulis disini. Pada salah satu postingan saya, saya sedikit ulas tentang blog mbak yah. Biar lebih ketagihan dan tau banyak cara nulis di blognya seorang traveler. Semoga bisa berkunjung ke blog saya bila ada waktu. Bila tak lupa, saya pun akan kirim emal ke mbak jika tulisan blog saya sudah selesai. terima kasih.

    Reply
  • Setuju banget mba T 😀

    Justru cewek yang sering diutamain dan paling banyak keuntungan saat Traveling. Kayaknya bisa jadi salah satu faktor kenapa traveler cewe lebih banyak dibandingkan traveler cowo.. Hehehe..

    Sekarang jadi PD mau traveling sendiri 😀

    Reply
  • Sudah sering nampang muka memelas dan triknya berhasil, pasti ada aja yang bantuin. Jangan sok gengsi, sok kuat dan sok tegar kalau memang benar-benar butuh bantuan. Jangan lupa pula ucapkan “terima kasih” karena sudah dibantu. ?

    Reply
  • Ternyata seperti itu ya Mbak,
    justeru banyak keuntungan yang diperoleh kala perempuan melakukan traveling.
    Saya sendiri sering merasa khawatir ketika keponakan perempuan akan traveling, takutnya ada apa-apa, ternyata tidak demikian ya.
    Terima kasih informasinya mbak.

    Reply
  • Ternyata cewek menang banyak ya. haha. Tentang lebih banyak pilihan buat belanja dan jenis pakaian yang bisa kita pakai ini pernah dikeluhkan teman cowok saya juga. Seneng deh bisa jadi cewek bisa berekspresi dengan pakaian yang macem2 pas travelling:D

    Reply
  • yang pasti kalo buat pemula sih sangat riskan utuk traveller cewek. harus yang udah banyak jam terbang. Tapi segala resiko bisa teratasi jika persiapan nya matang.

    Reply
  • mungkin juga karena cowok yg hobi traveling, jarang menuliskan kisah traveling mereka, kayak suamiku nih, udah keliling kemana-mana, dan cerita travelingnya lebih seru dariku, tapi dia nggak bisa menceritakan dalam bentuk tulisan, apalagi bikin buku traveling, akhirnya pengalaman dia dinikmati olehnya sendiri.

    Reply
  • bener banget mba.. takut gak akan membawa kita kemana2 🙂
    saya juga selalu jalan sama temen2 cewek, dan aman2 saja tuh.. ya common sense dan minta restu orangtua sebelum pergi 😀

    Reply
  • Aku termasuk yg suka traveling ke remote area, sebagai bagpackers, trekking, mountaineering….. tapi nggak pernah sendirian bersama teman2 ibu2 semua, minimal berdua, tapi tak lebih dari ber 8. Kalau kebanyakan malahan repot. Allhamdulillah, lebih banyak suka daripada dukanya. LONG LIVE FEMALES TRAVELERS!!!

    Reply
  • Mungkin cowok jarang nanya arah jalan waktu traveling, karena kita jarang salah baca peta hehehe … Ehmm tapi serius pengen nanya, emangnya baca peta itu sering jadi masalah umum ya buat cewek?

    Reply
  • Waktu nginep di mixed dorm di Furano, ada bapak-bapak Jepang yang kaget kok dia harus sekamar ama cewek. Ternyata … selama ini dia lebih sering menginap di male-only capsul hotels (untuk urusan kerja). Dan, dia nggak ngeh kalau di situ cuma ada kamar khusus cewek, tapi nggak ada kamar khusus cowok. Ternyata nggak cuma cewek yang parno ama mixed dorm. Hahaha!

    Reply
  • kesimpulannya, lebih banyak cewek J O M B L O yang keliling dunia. Cewek berhasil menabung dan menambah pendapatan dari kegiatan melancong loh. Caranya? nulis di Blog, bikin video di Youtube, pamer foto indah di Instagram dan berbagi cerita di twitter, bahkan nambah teman baru di facebook.

    Siapa yang dapat jodoh ketika pelesiran di negri orang? *the power of girls*

    Reply
  • aku pulang dari Bandung ke pekanbaru di bus di lecehkan kak ti, karena malam gelap di bus lampu di matiin, begitu mau narik orangnya eh, dia langsung kabur ke belakang. begitu besok paginya aku interogasi nggak ada yang ngaku. semenjak itu takut lagi traveling sendirian atau klu nggak aku kudu di kawal temanku yang cowok…
    malah waktu kuliah dulu kalau ada kegiatan ke pantai atau hutan, malah yang cowok2 takut liat kami yg cewek sampai ngomong mending ketemu hariamu daripada ketemu perempuan… nggak tahan :/

    Reply

Leave a Reply