Agama bola

Estadio Pacaembu, Sao Paolo (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)

Saya termasuk penggemar nonton pertandingan sepak bola. Itu pun nggak gila-gila banget, biasanya hanya bela-belain begadang nonton TV kalau ada pertandingan World Cup atau Euro Cup. Namun salah satu bucket list saya adalah nonton pertandingan sepak bola di Brazil, negara pencetak juara dunia yang terkenal dengan pesepak bola legendaris bernama Pelé.

Sepak bola memang olah raga paling murah sehingga cocok untuk negara-negara yang penduduknya banyak atau negara berkembang. Tapi toh juara dunia berkutat di negara-negara Eropa. Padahal kalau ke Eropa, meskipun ke negara bola macam Jerman atau di Inggris, saya tidak merasakan “hawa” bola di kehidupan mereka sehari-hari.

Berbeda dengan Brazil. Asal ada lahan kosong, terutama di pantai, mesti ada orang yang bermain sepak bola, mulai dari anak kecil sampai kakek-kakek. Asal bawa bola, gampang aja cari lawan. Yang lagi lewat aja bisa langsung buka baju dan ikutan main. Saya sampe terkagum-kagum karena orang awam aja jago men-dribble bola, nyundul, passing, nendang bola dari tumit kaki pindah ke dengkul lalu ke kepala, dan sebagainya. Tidak hanya permainan standar sepak bola, mereka pun menciptakan cabang olah raga baru, yaitu volley pantai tapi menggunakan kaki!

Kalau nanya identitas seseorang, selain nama dan asal, sering juga ditanya “klub bola lo siapa?”. Akan dianggap aneh kalau seseorang tidak support klub bola lokal manapun. Di Brazil, dalam satu kota bisa ada lebih dari 2 klub sepak bola. Sistem piramida kompetisi nasional bola Brazil terdiri dari Seri A sampai D (A paling tinggi), makanya pertandingan di tiap daerah cukup banyak, ditambah kompetisi yang diselenggarakan oleh State-nya. Kerennya lagi, ada beberapa channel TV khusus olah raga yang berlomba-lomba menayangkan pertandingan sepak bola langsung. Kalau ke rumah orang, tak jarang ada pajangan berupa atribut klub bola lokal, mulai dari sticker, poster, baju sampai bendera. Yah, sepak bola di Brazil sudah bagaikan agama!

Katanya kalau mau nonton pertandingan sepak bola di Brazil, paling oke di Stadion Maracaña di kota Rio de Janeiro, tapi ternyata tutup karena sedang direnovasi menjelang World Cup 2014. Pemilik hostel mengatakan sekarang ini lagi pertandingan liga nasional Seri A setiap weekend. Hanya saja tiket sudah habis karena yang main adalah klub sepak bola terfavorit di Rio, yaitu Botafogo. Sampai di kota São Paulo, saya sampai bertanya ke kantor Tourism Information tentang bagaimana caranya nonton bola. Dia menjawab bahwa harus datang langsung ke stadion dan untung-untungan dapet tiket atau nggak. Hadeuh!

Suatu Minggu sore di São Paulo, saya berencana ke Museu do Futebol yang terletak di Stadion Pacaembu. Udah gempor jalan kaki nyasar-nyasar, eh museumnya tutup! Seorang cowok ganteng berusaha keras menerangkan dalam bahasa Portugis bahwa museum tutup karena ada pertandingan bola. Wah, kebetulan! Dia mengantar ke loket pembelian tiket. Ternyata ada pertandingan antara klub Palmeiras vs Atletico Go. Saya pun membeli tiket dengan harga termurah seharga R$ 15 (sekitar Rp 70 ribu).

Di pintu masuk, tas kita diperiksa oleh polisi. Lalu disambut oleh cewek-cewek seksi pemindai bar code tiket, baru pintu berputar. Ternyata penonton masuk dari lantai paling atas stadion. Di hall sebelum turun ke tempat duduk, terdapat toilet (bersih dan ada tissue) yang terpisah cewek dan cowok. Stadion ini terbuka dengan kapasitas 30.000 orang, bentuknya persis kayak di Stadion Lebak Bulus. Kelas termurah ternyata ada di paling pojok, jadi kepala kudu nengok ke kiri sedikit untuk melihat lapangan.

Dua jam sebelum pertandingan mulai, saya sudah duduk manis di stadion. Hebatnya, polisi sudah bersiaga. Mereka berdiri tegak di pinggir lapangan menghadap penonton sambil membawa tameng. Setiap section tempat duduk penonton juga diisi 8 orang polisi yang berjalan turun naik. 3 mobil ambulans lengkap dengan dokter dan suster yang berseragam dan 1 mobil pemadam kebakaran sudah siaga di pinggir lapangan. Bahkan helikopter berkali-kali melintas di atas lapangan. Wow!

Sesuai jadwal tepat jam 17.00, para wasit masuk lapangan sambil dikawal polisi bertameng, diikuti kedua tim yang menggandeng anak-anak kecil, lalu pemutaran lagu kebangsaan. Weits, pertandingannya serius bener kayak piala dunia! Ternyata penonton tidak begitu banyak, tapi ada segala usia, mulai dari bayi sampai kakek-kakek, termasuk cewek-cewek ABG yang pake hot pants. Kerennya, sebagian besar adalah die hard fans. Mereka memakai baju klub, membawa bendera raksasa yang dijalankan di barisan penonton, juga seperangkat gendang dan drum. Sepanjang pertandingan, penonton tak berhenti bernyanyi yel-yel klub sambil joget berirama Samba dan loncat-loncat berirama ke kiri dan kanan. Aih, kerennya! Singkat cerita, Atletico memenangkan pertandingan 2-1 melawan Palmeiras.

Lusanya saya balik lagi untuk ke Museu do Futebol. Ya ampun, saya sampe merinding-merinding liatnya! Brazil begitu cinta dan bangga akan sepakbolanya. Museum sepak bola Brazil ini berisi tentang sejarah persepakbolaan, para pemain, stadion-stadionnya, bahkan termasuk jurnalis dan penyiar radio dan TV yang ikut berjasa memajukan persebakbolaan. Brazil adalah satu-satunya negara di dunia yang selalu ikut Piala Dunia. Ada satu ruangan berisi display keikutsertaan Brazil di setiap Piala Dunia secara kronologis, lengkap dengan kejadian-kejadian dunia. Jadi ketika manusia ke bulan, Jackson Five, sampai tragedi 9/11, Brazil tetap eksis di sepak bola. Bagian terakhir museum berisi aneka game bola interaktif dan bioskop mini yang memutar film 3D tentang otot dan tulang Ronaldinho saat main bola. Sungguh keren!

Sayangnya, banyak orang Brazil meragukan negaranya akan menjuarai Piala Dunia 2014 yang akan diadakan di Rio de Janeiro, karena pemain-pemain yang ada sekarang dianggap masih kurang pengalaman. Tapi setidaknya… kalau dibandingkan dengan persepakbolaan Indonesia… *tutup mata*

31 comments

Leave a Reply