The Naked Traveler

Disiksa Kurisi

Pagi hari kapal masih sepi

Misool dan kepulauan sekitarnya memang paling indah dibanding daerah lainnya di Raja Ampat. Tapi tempat yang luar biasa indah bak surga itu tentu ada “jebakan betmen”-nya. Ya, tidak segampang itu mencapai Misool! Maklum, semakin jarang ada manusia, maka semakin indah alamnya. Misool yang menjauh sendiri lokasinya di selatan Raja Ampat sampai saat ini aksesnya masih sangat terbatas. Kapal reguler Sorong-Misool hanya ada minimal seminggu sekali, itupun dengan jadwal yang nggak jelas. Mau sewa speed boat sendiri bisa, tapi harganya mencapai Rp 10 juta! Jadi pilihannya: punya duit banyak atau waktu yang panjang.

Kami sangat tertolong saat berangkat Sorong-Misool bisa nebeng kapal milik salah satu LSM, tapi pulangnya terpaksa harus menggunakan kapal perintis. Sebenarnya masih betah banget tinggal di Misool, tapi kalau harus menunggu seminggu lagi takutnya tidak terkejar pesawat ke Jakarta. Dari Harfat Homestay jam 10.30 pagi, kami diantar naik boat ke kapal bernama KMP Kurisi yang bercat putih dan berkarat. Setelah susah payah memanjat pinggiran kapal… jreng, terjebaklah saya ke dalam lautan manusia!

Sebenarnya KMP Kurisi adalah kapal jenis Roro, alias kapal kargo pengangkut kendaraan beroda sehingga bagian tengah dan belakangnya kosong – jadi bukan kapal yang diperuntukkan untuk penumpang manusia. Namun kapal telah dimodifikasi dengan dipasangnya tenda terpal pada atapnya dan papan-papan kayu pada lantainya agar penumpang dapat duduk tidak kena terik matahari. Ratusan orang segala umur tumpah ruah di situ, persis kayak militer mau perang, atau lebih parahnya lagi, kayak pengungsi. Mau jalan harus berhati-hati takut menginjak kaki bahkan kepala orang yang sedang tidur. Bawaan mereka pun bukan hanya tas, tapi juga kardus, karung, peti, ikan, dan sembako.

Selamatkan dirimu!

Saya diperkenalkan dengan salah seorang ABK (Anak Buah Kapal) yang menerima side job dengan menyewakan kabin kamarnya yang tak berjendela di lantai dua. Di dalam kabin hanya ada tempat tidur susun ukuran kecil dan space kosong di lantai yang selebar pantat. Di luarnya, tempat jalan umum pun sudah dikapling para penumpang dengan tikar sewaan. Ada juga ruangan di samping kabin yang terdapat belasan kursi, TV rusak, dan satu lemari bercat pink yang digembok berisi… life jacket! Saya langsung mual, membayangkan keadaan darurat dimana ratusan orang berebutan membuka lemari dengan paksa.

Kabar buruknya lagi, kami diberitahu ABK itu bahwa KMP Kurisi kecepatannya 7 knot, jadi Misool-Sorong ditempuh dalam waktu 15 jam atau bakal nyampe jam 3 pagi! What? Itu kan lambatnya sama kayak kita naik sepeda dari Jakarta ke Bandung! Baru sadar bahwa tebengan speed boat minggu lalu itu bagaikan naik mobil karena hanya 3 jam. Haduh, bagaimana menghabiskan waktu 15 jam di kapal kacrut dan sumpek macam ini? Padahal saya sudah pernah naik segala jenis kapal laut. Kapal feri dari Lampung ke Merak adalah yang terburuk di dunia, tapi hanya 3 jam. Rekor terlama saya naik kapal pun 7 hari, tapi naik kapal phinisi yang mewah. Namun baru kali ini saya merasa waktu berjalan sangat lambat! Setiap lihat jam, penambahannya hanya tiap 15 menit.

Awalnya masih lucu, saya, Nina dan Yasmin ngobrol-ngobrol sambil memperhatikan orang lalu lalang. Sejam kemudian kapal berhenti dan mengangkut ratusan penumpang lagi! Sepertinya memang tidak ada batasan jumlah penumpang. Weleh, kapal makin ramai dan sumpek! Lama-lama perut mulai keroncongan, saya pun pergi ke kantin. Ternyata kantin tidak menjual nasi dan lauk pauk, tapi hanya pop mie! Baru ambil satu, eh tau-tau udah abis aja dibeli orang. Saya langsung stres, masih ada belasan jam tanpa makanan berat – padahal ketakutan terbesar saya adalah kelaparan. Saya menyesal tidak minta dibawakan makanan dari homestay karena katanya di kapal ada yang jual. Sejam kemudian, giliran Nina ke kantin. Dan kantin tutup begitu saja! Aww! Kami pun makan kue bolu sisa sarapan sambil melihat para penumpang lain asyik makan dari rantang bawaan sendiri. Ada nasi, ikan goreng rica, sayur singkong. Gleg!

Uwel2an di kabin

Berjam-jam kemudian kami mati gaya. Memotret dengan gaya biasa sampe gaya ngaco udah bosan, mengedit foto dengan berbagai macam efek udah kelar, baca buku udah tamat, main Angry Bird di Iconia udah sampe mentok levelnya. Mau ngapain lagi, coba? Diperparah lagi dengan kabin yang cuma muat dua orang sehingga kami bertiga harus bergantian keluar-masuk. Oh, badan udah basah keringat, mau ngomong pun yang keluar kebanyakan huruf ‘h’ saking lelahnya.

Tepat jam 7 malam, saya pergi lagi ke kantin, dan… pop mie sudah habis! Berkaca dari pengalaman makan siang, saya langsung kalap membeli biskuit, kacang, air mineral, teh kotak, masing-masing dikali tiga seharga Rp 50 ribu. Benar saja, setelah itu kantin diserbu penumpang. Zet! Habis semua dagangan yang ada di kantin! Penjaga kantin langsung menutup kios, dengan cueknya mereka membuang sampah makanan dan botol minuman langsung ke laut! Kembali ke kabin, setengah menangis kami “makan malam mini” bersama.

Tentu lama-lama perut kami berontak. Saya jadi ingat ada seorang pria yang menawarkan “Nasi goreng! Nasi goreng!” dengan suara lantang. Cling! Saya langsung jelalatan mencari orang yang berpakaian kuning dan membawa balon itu. Tiba-tiba suaranya makin dekat, saya pun mencegatnya dan bertanya, “Kau tadi bilang jualan nasi goreng. Mana nasi gorengnya? Kami lapar sekali!”
“Nasi goreng? Tarada!” jawabnya sambil tersenyum.
“Loh kok nggak ada? Trus, kenapa kau tawarkan nasi goreng?”
“Maksudnya, kalau nanti kapal mendarat di Sorong, baru saya masak nasi gorengnya. Kalau sekarang tarada nasinya.”
“Berarti kau menipu dong?”
“Tidak! Kan hanya bercandaa…”
Sialan, joke-nya nggak lucu sama sekali! Mungkin dia memang tukang jual balon, dan “nasi goreng” itu adalah strateginya untuk menarik perhatian pembeli. Tapi, sekapal aja nggak ada yang jualan makanan, masa dia nekat jualan balon? Kami pun tertawa guling-guling karena kena tipu orang gila!

Ada yg tidurnya imut :)

Perut lapar, orang tumpah ruah, dan sumpek kepanasan merupakan kombinasi yang mematikan selama belasan jam di dalam kapal ini. Air minum yang cuma sebotol 600 ml itu saya irit-irit karena tidak punya stok lagi, plus malas ke toilet di lantai bawah karena harus berjuang untuk berjalan di antara lautan manusia. Malam itu sebagian besar penumpang tidur, atau pura-pura tidur. Sebagian lagi masih ada yang berjudi kartu, main catur, atau mendengarkan lagu dari handphone tanpa headset sehingga segala macam musik terdengar bersahutan. Saya sempat tidur sebentar di kabin yang terasa seperti sauna saking panasnya, tapi terbangun karena digigit kutu busuk yang bikin badan bentol-bentol dan gatal luar biasa. Duh, lengkap sudah penderitaan saya disiksa Kurisi!

34 Responses to “Disiksa Kurisi”

  1. February 14th, 2012 at 12:15 am

    Rini Raharjanti says:

    “Hanya becandaaaaaaaaa!!!”
    Wakakakakaaka!!!!!!

  2. February 14th, 2012 at 12:31 am

    seba says:

    hahahahaha,,
    saya juga pernah bernasib sama kaya mba pas pulang kampung ke NTT dulu

  3. February 14th, 2012 at 12:36 am

    halim says:

    nasib serupa pernah saya alami naik kapal dari Jayapura menuju Makassar, penuh lautan manusia di KM Sinabung… Papua yang indah memang harus dinikmati dengan disiksa lebih dulu :)

  4. February 14th, 2012 at 8:28 am

    Fajar says:

    Sounds like hell there. Tapi, gimana kira2 Misoolnya ya?

  5. February 14th, 2012 at 8:30 am

    Nella says:

    OMG sengsara bangetttt sih mbak T. Saya sih ogah deh, mending bayar sedikit lebih mahal, tp klo 10 juta ya mikir juga sih :-) )).

  6. February 14th, 2012 at 9:21 am

    Alid Abdul says:

    Ahahaha seru seru, suatu pengalaman yang paling berharga uwel uwelan gitu :)

  7. February 14th, 2012 at 9:26 am

    nad says:

    alamaakkk… perjuangan kali ya..
    ngebayanginnya aja gue udah mabok laut mual2… :(
    jadi semakin disiksa semakin indah pemandangannnya ya…

  8. February 14th, 2012 at 10:19 am

    DebbZ says:

    hahahaha…..”jebakan betmen”
    Aku juga pernah tuh pas naik ferry dari Lombok ke Bali. Duduk di lantai ditemenin kambing, ayam dan kawan2, hihihihi :p

    Please visit my travelogue:
    http://debbzie.blogspot.com

  9. February 14th, 2012 at 12:21 pm

    Aditya Eka Prawira says:

    Ya ampun, gimana saya yang naik kapal itu. Untuk di pesawat aja saya mencari posisi deket pintu darurat yang jarak belakang depan agak luas :’(

  10. February 14th, 2012 at 2:03 pm

    @teguhsano says:

    kayaknya memang semua kapal ekonomi seperti itu semua …. saya pernah mengalami hal serupa dalam perjalanan Banjarmasin – surabaya saat lebaran.
    tidur selonjor lalu gak bisa gerak lagi, belum lagi antrian toilet panjangnya minta ampun…

  11. February 14th, 2012 at 2:26 pm

    iqbal rois says:

    postingan jalan2 yang ini kayanya gak ada enak-enaknya ya… ?(???“)?

  12. February 14th, 2012 at 6:24 pm

    niee says:

    ini baru besakit2 dahulu.. bersenang2 kemudian yak :D

    aahh tapi sayang banget yg membuang sampah dilaut itu.. lama kelamaan laut yg indah itu pasti akan tercemar ya kan :(

  13. February 14th, 2012 at 6:31 pm

    Goiq says:

    kebayang sumpeknya… wakakakakaka

  14. February 15th, 2012 at 2:14 pm

    kharis says:

    Saya yakin toe bukan penyiksaan, tapi perjalanan penuh sensasi mba Trinty. Emang kapan lagi bisa ngerasain perjalanan panjang di deru omba, dengan sejuta umat manusia. by the way, kalo sempat basa basi, ngomongin perut keroncongan ke warga yg bawa rantang, mesti di ajak makan bersama kok. Peace….

  15. February 15th, 2012 at 2:44 pm

    lukey says:

    coba ke kepulauan ayau dong, mbak! *promosi* itu di utara pulau waigeo….kepulauan ayau itu gugusan kepulauan kecil berpenghuni. perjalanan ke sana naik long boat (bukan speed boat ya!) dari sorong 8 jam :)
    coba deh ke daerah boswesen di deket tembok sorong, di sana ada orang2 ayau tinggal di gubuk2 di depan gereja.

  16. February 15th, 2012 at 11:51 pm

    Fia says:

    Ikut guling2 ketawa smp njengking kayak donald bebek
    Seru abissss

  17. February 16th, 2012 at 9:39 am

    Ayu says:

    gw juga pernah ngalami ini waktu maen ke Karimunjawa! situ enak ma teman2. saya Sendiriaaannn!!!! :( sedih ingatnya

  18. February 16th, 2012 at 11:53 pm

    Ayoe-deh says:

    Mengapa pengusaha kapal tidak menambah armadanya ya.? Atau pengusaha kapal yang berminat untuk memperbaiki layanan transportasi. Bukankah itu peluang bisnis?

  19. February 17th, 2012 at 9:27 am

    Abhe says:

    Semangat…. :)

  20. February 17th, 2012 at 5:33 pm

    Rad says:

    ahahaha seru! tapi aku ogah deh cobain ;) )

  21. February 17th, 2012 at 10:21 pm

    rhakateza says:

    seru… masih mending dapat ruangan abk, saya kebanyakan harus “tergoreng” di top deck kapal pelni kalau musim liburan Makassar-Bima gara-gara penumpang membludak. :)

  22. February 22nd, 2012 at 6:54 am

    zora says:

    Jadi inget waktu KKN, dijejal di mobil pick-up bersama belasan orang lengkap dengan kambing-kambing. Tapi yang di kapal ini lebih sengsara, karena waktunya jam-jaman.Ceritanya seruu.

    Kunjungi blog saya: cerita-ubud.blogspot.com

  23. February 28th, 2012 at 7:48 am

    The Emak says:

    ya ampun, sedih bacanya. Indonesia Timur ini benar-benar dianaktirikan pemerintah ya. Transportasi lautnya tdk manusiawi.
    Padahal naik kapal tuh, meskipun udah ada kabin nyaman, tetap aja msh bisa mabuk laut, apalagi yg kayak gini.
    Saya dan the precils pernah naik Feri dari Tasmania ke Melbourne selama 10 jam. Fasilitas lumayan nyaman, tapi tetap aja masih pening kalau terhadang ombak.
    http://www.thetravelingprecils.com/2012/02/menyeberangi-selat-bass-dengan-spirit.html

  24. March 2nd, 2012 at 12:16 pm

    dewi says:

    Pinter sekali yaa, sambil tersiksa masih bisa nulis pengalaman….saluud T. Saya ikut sedih kalau pergi ke luar Jawa, walau tidak berani travelling via laut, tapi bisa membayangkan suasananya. Terus Misool nya giman ? Ditunggu cerita seru lainnya. :)

  25. March 3rd, 2012 at 1:04 pm

    ome says:

    sepertinya banyak dari teman2 punya pengalaman yang sama, ga cuman di daerah timur, utk daerah sumatra jg mengalami hal yg sama, perjalanan padang-mentawai ditemani dg sapi2, klu ingat masa2 tu, cuman bisa berharap mudah2an system transportasi di Indo makin baik

  26. March 5th, 2012 at 8:01 am

    Fahmi says:

    yah itu yang namanya travelling asik seru menegangkan hahaha

  27. March 5th, 2012 at 9:32 pm

    Ransel Kosong says:

    Seru Mbak, berharap suatu saat bisa mengunjungi Raja Ampat.

  28. March 5th, 2012 at 10:52 pm

    Vicky Kurniawan says:

    Turut prihatin mbak..jadi ini ceritanya dari surga turun ke neraka dong…he he he

  29. March 7th, 2012 at 4:17 am

    permatame says:

    tulisannya seru tapi yg terekspos sisi penderitaan aja ya, jadi pengalaman untuk travelling berikutnya. cayoo..

  30. March 8th, 2012 at 6:49 am

    admin says:

    ini namanya “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian” semoga perjuangannya setimpal dengan pemandangannya :D

  31. March 9th, 2012 at 8:51 am

    nea budiarti says:

    udah kebayang penderitaannya mba..
    kmrn waktu saya harus naik kapal dari pelabuan tanjung intan (daerah cilacap) ke kampung laut di pedalaman hutan bakau yang ditempuh cuma 2 jam dengan segala isi kapal mulai dari manusia, herwan, sayur2an, barang-barang berat, es dan segala macam yang bikin perut mual-mual.. bikin saya stress karena kapal nya lebi tepat disebut perahu nelayan..
    :-D

  32. March 11th, 2012 at 1:00 pm

    Ria says:

    cuman satu kata…buseeeetttt

  33. March 27th, 2012 at 4:11 pm

    Lily says:

    Bagi penyuka traveling yang bosan dengan destinasi yang itu-itu saja, boleh berkunjung ke http://www.triroute.com untuk mendapatkan informasi mengenai destinasi unik dan berita travel terkini. Happy traveling! :)

  34. April 8th, 2012 at 2:27 pm

    aprilia says:

    itu yg namaya travelling sejati…..!!!!!!
    jujur,pgn nyobain naek kapal, belum pernah alnya….palagi yg dinanti surga dunia like raja ampat gt,,,,sangat setimpal….

Leave a Reply