LOB Raja Ampat: Diving bersama bebek kena potas
Pose sama ikan (pic by Juni)
Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (live on board) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada lounge ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya ada dapur besar dan ruang ABK. Di lantai bawahnya berjajar 5 kamar yang masing-masing berisi 2 tempat tidur single, AC, meja, lemari, serta kamar mandi lengkap dengan shower air panas, wastafel, dan toilet. Di atas lounge, ada deck terbuka tempat leyeh-leyeh di kursi pantai. Di belakangnya ruang kemudi kapten dan 2 kamar suite jatah karom (kepala rombongan). Sekamar diisi Nina dan Yasmin, lalu di sebelahnya ditempati saya dan Eli. Yep, saya berhasil menggeret Eli jadi teman sekamar, daripada saya tidur sama cowok nggak kenal itu.
Acara pertama adalah perkenalan sesama peserta, meski saya sudah kenal hampir semua orang sebelumnya. Nina dan Yasmin mah sahabat saya puluhan tahun. Rini adalah teman sesama penulis di Bentang. Juni teman sekantornya Rini. Ezra sepupu saya. Ken teman SMA-nya Ezra. Eli adalah teman lama yang pernah bareng ke Israel, dan 4 orang lagi adalah teman-teman kantornya. Rupanya 2 orang cowok tak dikenal itu adalah Panda dan Tato’ yang merupakan diver paling serius sekaligus underwater photographer. Di kapal ini juga diperkenalkan 10 orang ABK, termasuk 2 orang DM (Dive Master) bernama Om Joni dan Kris. Wew, rasio tamu banding kru hampir satu banding satu – jadi berasa Onasis!
Sore itu adalah dive pertama kali yang disebut check dive alias ngetes kemampuan diving para peserta untuk pembagian grup. Jreeeng, Om Joni langsung stres melihat hasil tes! Inilah akibatnya merekrut peserta dengan syarat “bukan hard core divers” – sebagian besar dari kami adalah diver pemula, bahkan beberapa orang baru aja punya license. Sejak itulah setiap briefing sebelum diving, Om Joni selalu berpesan, “Diving yang benar! Jangan kayak bebek kena potas!” Huehehe! Tapi saya baru menyadari apa artinya ketika saya lagi asik-asiknya diving, tiba-tiba ada segerombolan diver di bawah saya yang lewat sambil berenang gubrak-gubruk dengan buoyancy turun-naik dan fins mereka menabrak-nabrak karang. Aduh! Lalu saya mendengar suara “Hm! Hm! Argh! Argh!” yang ternyata adalah Om Joni yang “berteriak-teriak” di dalam air dengan mata melotot dan menunjuk-nunjuk sesuatu. Oalah, rupanya diver-diver itu adalah teman sekapal sendiri yang gerakannya persis seperti bebek kena potas! *tutup mata*
Namanya juga kapal LOB Diving, jadi setiap hari aktivitas utamanya adalah diving. Bangun jam 6.30 pagi, sarapan ringan, diving, sarapan berat, diving, makan siang, tidur siang, diving, mandi, makan malam. Setiap mulai satu kegiatan, bel klenengan berbunyi. Awalnya males juga sih, kok berasa kayak kambing dipelihara, dikasih makan, dan disuruh kerja. Tapi karena ingat sudah bayar mahal, jadi semangat. “Untung”-nya, makin hari jumlah diver makin berkurang. Cewek-cewek pada haid jadi males nyebur, ditambah Eli kena flu dan Rini mencret. Sebagian cowok pun memilih untuk leyeh-leyeh. Akhirnya tinggallah Panda dan Tato’, plus saya dan Juni yang dipimpin Om Joni. Kalau ada peserta lain yang mau diving, disatukan di grup lain dipimpin Kris. Ternyata diving dengan grup kecil dan bersama diver berpengalaman, saya baru merasa enjoy.
Saya berkesimpulan bahwa Raja Ampat is not for beginner divers. Tidak ada satu dive site pun yang tidak berarus. Mending kalau arus pelan dan cuma satu arah, ini kadang super kencang dan berbalik arah! Hampir setiap dive, kami diwajibkan untuk negative entry alias turun gaya back roll dari kapal dan langsung turun sampai ke dasar laut sebelum tersapu arus atas. Kalau bermasalah dengan ekualisasi atau nggak kuat berenang, bisa-bisa tertinggal sama teman-teman yang lain. Dengan rasio DM dan diver yang tidak ideal karena 1 DM bisa membawa 7 diver, jadi jangan berharap bisa diperhatikan secara eksklusif oleh DM. Belum lagi udara di tabung yang tingkat konsumsi tiap orang berbeda, jadi kita harus bisa naik ke permukaan sendiri dengan aman dengan memperhitungkan sisa udara, waktu, kedalaman, dan safety stop. Intinya, setiap diver harus bisa menyelamatkan diri masing-masing!
Semua “usaha keras” itu memang terbayar dengan pemandangan alam bawah laut yang spektakuler. Menurut penelitian Conservation International, Raja Ampat memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis ikan terbanyak di dunia. Bayangkan saja, ada 1.309 spesies ikan, 537 spesies terumbu karang dan 699 spesies moluska – semuanya dalam keadaan sehat. Artinya, sekali nyebur pemandangannya sangat beragam, bahkan cenderung sibuk kayak di pasar. Hukumnya, banyak arus berarti banyak ikan. Dan karena banyak mengandung plankton plus cuaca mendung, visibility sih tidak begitu baik, rata-rata 10 meter saja. Namun itu pun sudah cukup untuk bikin berdecak kagum.
Landscape bawah laut Raja Ampat berupa wall, slope, gua – semuanya rapat ditumbuhi terumbu karang yang sangat beragam. Dalam satu area aja bisa melihat karang yang bentuknya meja, otak, kol, bunga, kipas, pilar, dan sebagainya. Belum lagi soft corals yang leather, yang mirip bunga, putri malu, pohon, dengan warna ngejreng. Kerangnya aja bisa berwarna turquoise dan fuchsia. Secara mata saya bolor, tapi karena barengan fotografer, saya jadi bisa lihat mahkluk macro, seperti nudibranch, flatworms dan pygmy seahorse dengan jenis-jenis yang saya juga baru pertama kali lihat.
Manta, saya, dan Ezra (video by Juni)
Ikan warna-warni beraneka ragam lewat-lewat dan hampir selalu schooling (bergerombolan dengan sejenisnya). Kalau jackfish atau fusiliers sih biasa, tapi yang baru pertama kali saya lihat adalah schooling ikan barakuda ekor kuning. Raja Ampat juga terkenal dengan adanya Wobbegong atau disebut carpet shark karena jenis hiu ini memang mirip karpet yang pinggirnya dedel dowel dan doyannya nyusruk di pasir. Hiu jenis blacktip dan penyu terlihat beberapa kali lewat. Tapi favorit saya adalah melihat Manta Ray atau ikan pari raksasa. Dengan hanya tiduran di pasir, 7 ekor Manta sepanjang 3 meter bolak-balik lewat sambil mengepakkan sayapnya. Di spot bernama Blue Magic malah nemu jenis Manta yang berbeda, yang ini bentuknya gemuk menggemaskan. Bahkan saat safety stop di kedalaman 5 meter tanpa ada pemandangan apa-apa yang sejajar, eh 3 ekor Manta menghampiri saya dengan cueknya. Aww!
Sebalnya diving di Raja Ampat cuma satu, yaitu saat menyadari bahwa udara hampir habis. Duh, seandainya manusia bisa hybrid dengan punya insang, pasti saya nggak mau naik ke permukaan! Eh, nggak juga ding. Ternyata trip seminggu di kapal LOB ini tambah menyenangkan lagi pada saat tidak diving..
(bersambung)





January 23rd, 2012 at 4:25 am
Berbahagialah yang bisa diving dan punya uang untuk ke Raja Ampat. Sepertinya, saya nunggu ada yang model sailing trip kayak dari Mataram ke Labuan Bajo saja. Kapan ya kira-kira? ;(
January 23rd, 2012 at 7:51 am
trip yang sangat menyenangkan
January 23rd, 2012 at 8:04 am
wooh… emang pernah tahu ceritanya kalo di raja ampat nggak cocok buat diver pemula sih. tapi meskipun nggak nge-dive kayaknya juga bakalan segerr liat bagian atas lautnya ya Trinity?.. surga dibawah surga dibawah lah pokoknya.
hmm.. kudu ambil license diving dulu kayaknya sebelum kesono. sayang udah mahal-mahal nggak bisa diving. hohoho
January 23rd, 2012 at 10:11 am
Liburan impianku …. *kerja-kerja tuk nabung ke sono *pecut diri-sendiri
January 23rd, 2012 at 2:45 pm
woww.. nggak sabar untuk ke raja ampat minggu depan. kudu jaga stamina nih spy bisa diving sepuas2nya
January 23rd, 2012 at 3:03 pm
busett dah mba’ trinity ini… dari baca sebuah mba…
Sukses buat gw jadi super duper Galau!!! hahah
berkat baca buku mba’.. saya mulai mempersiapkan diri jadi seorang backpacer.., skalipun hidup di paling timur indonesia..!!!
be blessed always yah mba’…
GOD SPEED
January 23rd, 2012 at 4:52 pm
duh, ada rencana ke Raja Ampat sih… tapi kudu belajar diving dulu kayaknya. hahaha…
thx postingnya Mbak T…
jd ngerti apa yg mesti diprepare. klo nggak diving kayaknya rugi ya
January 23rd, 2012 at 4:52 pm
Ditunggu cerita lanjutannya teteh..
January 23rd, 2012 at 4:56 pm
Kak indraa mana?? haha
January 23rd, 2012 at 5:15 pm
keren… bikin mupeng.. (?_?)
January 23rd, 2012 at 6:48 pm
Pertengahan januari abis ksana,sy gak bs berenang jd bs.mw ambil license klo blik lgi.snrkling aja udah keren bgt.nice post kakak.jd pengen mencba LOB.
January 23rd, 2012 at 10:32 pm
olalaaaaa~~~ indah sekali……
upload foto2 lagi donk miss T
My travel journal:
http://debbzie.blogspot.com
January 24th, 2012 at 2:56 am
Indah banget kekayaan alam Indonesia! harus nabung nih supaya bisa ke raja Ampat. Masa orang asing saja yang bisa asyik menikmatinya
. Nice article mbak T..
January 24th, 2012 at 8:14 am
kalo gak bisa diving gbs menikamati raja ampat? malang skali nasib sayah, #hiks…
January 24th, 2012 at 8:23 am
Bravo raja ampat
Bravo indonesia
Bravo mbak trinity
January 24th, 2012 at 8:33 am
pengen banget ke raja ampat, tapi tidak bisa diving
(
January 24th, 2012 at 8:50 am
hmmmm, jadi penen buanget nyelam.. uasikk ternyata di RAJA EMPAT. Pengen ketemu ikan ikan sehat yg siap di makan, heheheee
January 24th, 2012 at 2:55 pm
Someday…. I promise
January 25th, 2012 at 8:13 am
mantab..!
dihampiri manta..? Naksir kali mantanya mbak,hehe
January 25th, 2012 at 11:58 am
Salah satu tempat yang masuk kedalam wishlist.
Indonesia memang menawarkan beragam macam kekayaan alam.
Terima kasih mbak
January 25th, 2012 at 12:32 pm
videonya keren abiss
January 25th, 2012 at 8:26 pm
Cukup baca dari pengalaman Trinity aja deh secara tidak bisa diving. Makasih ya sharingnya.
January 28th, 2012 at 7:28 am
waaahh brt aku gak cocok dong keraja ampat mbak T.. gak kuat bayar dan gak kuat berenang.. hehehehe
January 30th, 2012 at 12:53 pm
harus dapetin diving liscense dulu nih sebelum ke raja ampat
January 30th, 2012 at 5:41 pm
Gila, semua dibikin sirik sama petualangan Mbak Trinity
February 8th, 2012 at 2:12 am
wah iriiiii D: salah satu impian nih, bisa diving di raja ampat! sayang sekali biaya dan skill diving tidak mencukupi >__<) bisa diving juga di raja ampat kayak mbak trinity