(Bukan) jalan-jalan ke gereja

Gereja saya di Manila
Banyak gereja yang merupakan situs pariwisata, mungkin karena dianggap memiliki nilai arsitektur bangunan atau historis yang tinggi. Gereja yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara antara lain St. Peter Basilica di Vatican, Notre Dame Cathedral di Paris, atau Westminster Abbey yang makin populer karena pernikahan Will and Kate. Di Indonesia, banyak yang berkunjung ke Katedral di Jakarta atau Gereja Blenduk di Semarang.
Kalau saya lagi traveling, mengunjungi gereja atau rumah ibadah tersohor di sebuah kota adalah wajib hukumnya. Pas hari Minggu, kalau lagi berada di luar kota atau luar negeri, saya juga usahakan ke gereja untuk menghadiri kebaktian. Kunci nyari gereja adalah bahasa pengantarnya. Dengan berbagai budaya di Indonesia, banyak gereja yang kebaktiannya dalam bahasa daerah. Kalau di kota besar di Indonesia, saya mencari gereja yang judulnya GKI atau GPIB karena biasanya ada kebaktian berbahasa Indonesia. Saya pun mendapat pengalaman yang mengesankan ke gereja di Indonesia..
Awal tahun 1990an di Bali, saya ikut church service yang pake antar-jemput dari hotel di Kuta. Tepatnya saya lupa di mana, tapi gerejanya ada di tengah sawah dan berbentuk mirip pura. Sebagian besar jemaat yang datang pun pake kebaya dan kain ala Bali. Meski kebaktiannya dalam bahasa Indonesia, saya sempat kaget juga melihat cara mereka berdoa. Mereka menyatukan kedua telapak tangan dan diangkat ke dahi, bukan melipat jari-jari tangan seperti biasanya. Saat itu saya baru tahu bahwa tidak semua orang Bali beragama Hindu, dan pengaruh budaya itu juga masuk ke gaya orang berdoa.
Saat bekerja di Kelapa Gading, Jakarta, pada suatu hari Minggu, saya menyempatkan diri ke gereja yang terdekat dari kantor tanpa melihat plang namanya. Begitu sudah duduk manis di dalam, orang di sebelah saya menyodorkan buku lagu pujian. Loh, kok tulisannya karakter Cina? Semenit kemudian terdengarlah nyanyian jemaat… Waks, saya baru sadar bahwa kebaktiannya dalam bahasa Cina! Jadilah saya hanya bersenandung karena nggak ngerti dan bengong sepanjang kebaktian. Hehe!
Sekali-kalinya saya sengaja ke gereja di Indonesia dengan kebaktian bahasa daerah waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Nanga Bulik, Kalimantan Tengah. Di desa itu ada satu gereja berbentuk rumah panggung dari kayu. Jemaat yang hadirsekitar 20an orang, dan rupanya gereja itu untuk orang Dayak dan dalam bahasa Dayak. Karena tidak ada pilihan sementara saya tinggal sebulan di tempat terpencil, setiap minggu saya ke sana. Meski nggak ngerti, tapi dengar kidung jemaat (yang dalam bahasa apapun tapi nada lagunya sama) sudah bikin hati saya sejuk.
Kalau di luar negeri, saya nyari gereja yang kebaktiannya berbahasa Inggris. Tapi terus terang, kalau negara tersebut penduduknya nggak bisa bahasa Inggris, saya biasanya tidak ke gereja karena mau nanyanya aja susah ke orang lokal, contohnya di Thailand dan Cina. Sedangkan negara yang berbahasa Inggris (baik bahasa utama, maupaun kedua) biasanya mayoritas Kristen, jadi lebih mudah nyari. Apalagi kalau saya punya teman bergama Kristen yang tinggal di sana, jadinya saya tinggal nebeng.
Pengalaman pertama saya ke gereja di luar negeri adalah saat saya home stay bersama keluarga Amerika penganut Mormon di Ventura, California. Setiap minggu saya diajak ke gereja dan masuk Sekolah Minggu bersama anak-anaknya. Dan saya baru tahu bahwa Mormon itu, selain memakai alkitab Kristen dan percaya Yesus, mereka juga percaya terhadap nabi baru, yaitu Joseph Smith yang berasal dari New York! Saya pun diberi Book of Mormon, alkitab mereka, dalam bahasa Indonesia.
Di Geneve, Swiss, saya diajak teman saya ke gerejanya yang berbahasa Inggris… tapi jam 6 pagi! Alasannya karena, “Kebaktiannya sebentar, cuma 15 menit.” Dan ternyata benar! Di dalam gedung gereja tua itu yang datang cuma 8 orang kakek-nenek. Pendeta ngomong sebentar, tidak ada nyanyian, trus maju ke depan makan hosti dan minum anggur, lalu kelar. Rekor ibadah di gereja tercepat seumur hidup saya!
Di London, Inggris, saya diajak teman bernama Egi ke gerejanya juga. Saya juga lupa di mana, tapi terletak di lantai dua dengan ruangan besar dan berbentuk amphitheater. Sebagian besar jemaat berkulit hitam tapi pendetanya bule. Di panggung ada band lengkap, dan saat bernyanyi benar-benar kayak konser rock sambil jemaatnya ikutan joget. Sudah 2 jam lebih di sana dan pada saat selesai kebaktian, saya digeret ke panggung oleh teman saya itu untuk minta didoakan pendeta. Si pendeta menaruh tangannya di atas kepala saya, dan semenit kemudian… saya pingsan! Entah berapa lama saya baru tersadar, tau-tau saya tidur terlentang di lantai panggung. Semua badan saya kaku, saya hanya bisa melihat si pendeta komat-kamit. Beberapa menit kemudian, saya sehat kembali. Entah apalah aliran gereja itu, tapi saya langsung lari terbirit-birit kabur!
Di Wina, Austria, saya diajak teman saya Aping ke gerejanya yang berbahasa Inggris di Dorotheerkirche. Gerejanya keren banget, gedung tua penuh dengan ukiran, ada balkon dan orgel. Sebagian besar yang datang kakek-nenek. Tibalah saat kolekte (persembahan), saya mengalami dilema. Secara backpacker dengan duit mepet padahal di sana menggunakan mata uang Euro, berapa yang harus saya berikan pada gereja? Saya mencolek Aping, “Psst.. boleh pake koinan, nggak?”. Dia bilang terserah. Maka dengan hati-hati saya memasukkan sejumlah koin ke dalam kantong persembahan yang diedarkan, soalnya malu kalau bunyinya gemerincing. Duh!
Kalau ke gereja di luar negeri yang negaranya lumayan banyak penduduk Indonesianya, biasanya ada gereja berbahasa Indonesia, contohnya saya pernah diajak ke gereja di Auckland, New Zealand. Abis itu, ada ibu-ibu yang jualan makanan Indonesia. Lumayan mengobati rasa rindu!
Kalau pas di negara yang berbahasa Inggris tapi terletak di pedalaman, ya saya pasrah aja. Contohnya waktu saya di Malapascua Island, Filipina. Hari itu jam 5 pagi saya malah diving untuk melihat thresher shark. Kelar diving, si Yasmin dan Jana bilang, “Selamat Natal ya! Hebat, merayakan natal bersama hiu!”. Deg. Itulah natal pertama seumur hidup saya yang tidak ke gereja. Lagu “Have yourself a merry little Christmas”-nya Coldplay terus menerus berkumandang di kepala saya sambil mewek karena saya kangen rumah!
Filipina itu mayoritas penduduknya beragama Katolik. Setiap hari Minggu, di mana-mana ada misa: di ruang tunggu, di kapal, di sekolah, di taman, bahkan di lobby mall! Beberapa kali saya ikut misa, tapi kalau dipimpin oleh teman saya, Father Generoso. Saya menemukan gereja Kristen Protestan yang berbahasa Inggris dengan tidak sengaja. Suatu hari di Sunday Market, saya kenalan sama cewek Korea. Dari merekalah saya dikasih tau bahwa ada gereja Protestan berjarak 3 blok dari asrama saya. Maka minggu depannya saya ke Union Church of Manila. Rupanya itu gereja yang awalnya diperuntukkan untuk warga Amerika Serikat. Rasanya baru kali itu saya berasa jadi jemaat beneran. Pendetanya bule Amerika yang sangat baik, bahkan membalas email-email curhatan saya mengenai betapa stresnya sekolah. Dasar orang Filipina, koornya selalu spektakuler dan bikin merinding. Setiap kelar kebaktian, di lantai basement disediakan makanan kecil dan minuman gratis, sekalian bersosialisasi dengan jemaat lain. Rupanya cukup banyak orang Indonesia yang bergereja di sana. Salah satunya adalah Agus, mahasiswa S2 Akuntansi yang akhirnya menjadi guru les privat akuntansi saya karena saya tidak lolos mata kuliah itu.
Herannya, saya “baru” mengerti isi alkitab justru ketika ditulis dalam bahasa Inggris. Saya baru sadar bahwa alkitab dalam bahasa Indonesia itu menggunakan bahasa yang “di awang-awang” bak baca buku sastra kuno. Sedangkan alkitab dalam bahasa Inggris itu, mungkin karena ada grammar-nya, semua jadi lebih make sense. Sejak itulah, setiap saya ke gereja di Indonesia, saya selalu baca alkitab dari apps yang berbahasa Inggris.
Anyway, menurut saya, apapun gereja dan tata caranya, yang penting kita selalu punya hubungan yang baik dengan Tuhan dan saling mengasihi sesama.
Selamat Hari Natal!





December 25th, 2011 at 12:03 am
Happy Christmas for you, Mbak T!
December 25th, 2011 at 11:24 am
Yg didoain pendeta sampe pengsan itu jg ada di misa katolik tertentu, lupa namanya misa apaan. Pendetanya doain kita dlm bhs roh. Kalo jago, dia bs bikin kt pengsan. Dan kl br pertama kali biasanya begitu siuman jd takut sendiri n ngacirrrrr hahaha… Berasa kerasukan roh kali.
December 25th, 2011 at 11:51 am
Saya pernah ke gereja di Guang Zhou – China. Bangunannya betul-betul gereja dengan menara tinggi. Waktu itu sedang renov, jadi misa diadakan di aula sebelahnya. Mayoritas umatnya bule n Phillipine. N suara paduan suara Phillipine itu bagus sekali. Oya, bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Kertas misa ada 2 bahasa, Mandarin n Inggris.
December 25th, 2011 at 2:47 pm
Pas mba T didoain pendeta smpe pingsan itu kmungkinan bener ap yg dikatakan Tanja, pake bahasa Roh… Emng sih bener kata mba “apapun gereja dan tata caranya, yang penting kita selalu punya hubungan yang baik dengan Tuhan dan saling mengasihi sesama.” tp cobain deh mba ibadah di JPCC atau di GBI Jl.Gatot Subroto… Mba T bs ngerasain bedanya. Tuhan memberkati
December 25th, 2011 at 8:04 pm
waaaaaaaa DAH LAMA BGT G BUKA BLOG TRINITY.NT3 DAH TERBIT YAH KTGGLAN JMAN BGT BTW DI GRAMED MSH ADA G YAH?????????
OH YAH MBK CERITAIN PNGLAMAN PS D NEWYORK DUNK KTA FAV ANE NEH HEHE THX
December 25th, 2011 at 8:04 pm
waaaaaaaa DAH LAMA BGT G BUKA BLOG TRINITY.NT3 DAH TERBIT YAH wah aneKTGGLAN JMAN BGT BTW DI GRAMED MSH ADA G YAH?????????
OH YAH MBK CERITAIN PNGLAMAN PS D NEWYORK DUNK KTA FAV ANE NEH HEHE THX
December 25th, 2011 at 11:21 pm
wahhh,, berdasar dari info kak Trinity saya skrg ke sana terus tiap minggu. Union Church pendetanya baik sekali ya. juga ga bosen kalo firman.. Sekalian bersosialisasi dengan orang2 luar filipina, jd kita g merasa sendiri d sini.. I LOVE MANILA ^^ . Thanks for the good recomendation ya kak. ini skrg saya juga ajak teman2 saya untuk dtg ke union church..
December 26th, 2011 at 3:23 am
Malam Natal kemarin saya ke gereja di atas gunung namanya Bergkirche Heinsheim, ini adalah ke 5 kalinya saya ke gereja sejak 5 bulan ini saya di Jerman, dan masih sama spt yg lalu2 sambil celingak celinguk sebelah saya selalu ketinggalan teksnya ketika nyanyi
)) dan kalau jemaat nyanyi dg bhs Jerman maka saya nyanyiin dlm teks bhs inggris atau bhs Indonesia ketika lagu2nya familiar dlm dua bhs tsb.
Kalau mengenai kolekte disini ga pd perhatikan ko, kebanyakan memang kasih koin 1 – 5 EURO. Malah mereka gak malu (sungkan) kasih uangnya keliatan orang sebelah, bahkan masukin uangnya dg tangan kiri, hikss padahal sejak kecil saya (di Indonesia) diajar guru2 sekolah minggu, kalau memberi harus dg tangan kanan dan uang kolektenya jangan sampai keliatan orang sebelah (tangan kanan lebih sopan dan jangan keliatan maksudnya supaya gak pamer toh?).
December 26th, 2011 at 7:20 pm
Merry Christmas mbak T
Iya mbak T, aku setuju apapun alirannya, yang penting adalah bagaimana hubungan pribadi kita dengan Tuhan maupun sesama.
anyway kalo baca alkitab pun aku juga begitu, aku juga baca yang versi bahasa Inggrisnya, memang kalo alkitab bahasa Indonesia, entah mengapa susah dipahami karena bahasnya puitis sekali, jadi dulu sering aku baca berulang – ulang, cuma kadang aku tetep kurang paham maksudnya, tapi sekarang kalo ada yang susah aku pahami aku buka website alkitab online yang berbahasa Inggris kayak biblegateway atau bible.cc , kalo baca yang bahasa Inggris memang karena grammarnya dan ada versi yang bahasa sehari – hari jadi lebih mudah dimengerti.
December 27th, 2011 at 6:42 am
kasian banget sih, namanya sama, gereja dan alkitab, tapi bahasa doa dan arti isinya beda2. Ini yang salah agamanya atau pengikut2nya??
December 27th, 2011 at 12:32 pm
Selamat natal juga Mbak T
Tuhan memberkati
Postingannya okee juga, jadi tau kebaktian+misa di luar negeri
December 27th, 2011 at 1:32 pm
baca tulisan ini jadi ingat dengan trip-trip saya keliling Indonesia. Seperti halnya masjid, gereja agung di suatu kota juga sering dijadikan sebagai landmark kota tersebut. beberapa kota yang punya gereja unik yang sudah saya datengi bisa dibaca di sini:
http://kisahhantulaut.blogspot.com/2011/12/bertamu-di-rumah-sang-gembala.html
Hayo, traveler yang merayakan natal udah pernah ke gereja2 tersebut apa belum?
December 28th, 2011 at 2:34 pm
gereja di depan lap.puputan denpasar juga keren banget loh….
December 28th, 2011 at 3:09 pm
yg ampe pingsan itu kristen aliran pentakosta, nyanyinya heboh dan berdoa dlm bhs roh
December 29th, 2011 at 1:34 am
Selamat Natal…
Graphic travelogue berikutnya ditunggu nih…
December 29th, 2011 at 11:25 am
Inspiratif… kangen tulisannya Mba T nih
December 31st, 2011 at 7:22 pm
pengalaman luar biasa mbak, padahal itu baru dari sisi “mencari gereja” di tempat wisata:D.
anyway, selamat Natal juga….
January 2nd, 2012 at 8:16 pm
wah ternyata sangat beragam yah gereja itu
seru banget pengalamannya
January 7th, 2012 at 2:21 pm
nemu lagi 1 pandangan tentang gereja.
nice thought and experience T …
January 16th, 2012 at 1:59 pm
katanya, sekarang lg ngetrend haji backpacer..
January 18th, 2012 at 10:46 pm
nice experience
daaan, itu semua telah merubah pandangan saya ttg gereja yg selama ini, saya gak mau kalo gak ke gereja di gereja kampung halaman saya
January 21st, 2012 at 11:46 pm
Saya juga senang “wisata gereja” karena bangunannya bagus-bagus. Kebetulan saya katolik, jadi lebih mudah mencari gereja untuk ikut Misa, kalau pas di daerah lain pada hari minggu. Yang pertama saya cari kalau ada, Katedral nya dulu; karena pasti bangunannya yang paling besar dan paling bagus
Waktu ke Bangkok, juga bela-belain walau sampai nyasar, cari Katedral Bangkok, ternyata namanya sama dengan Katedral Jakarta (Katedral St. Maria Diangkat Ke Surga atau dalam bahasa latinnya “Catedral Santa Maria Asumpta”. Katedral Bangkok terletak di dekat area China Town, tidak jauh dari tepian sungai Chao Phraya (Central Pier).
Bedanya, gereja katedral di Bangkok pintunya terbuka lebar kita bebas masuk ke dalam, foto-foto tanpa ada yang negur-negur dan nanya-nanya kita…(sebetulnya ada larangan untuk memotret di dalam gereja, ada rambu gambar kamera dicoret, tapi waktu itu saya foto-foto tanpa lampu blitz aja, supaya gak ada yang negur, haha) Padahal waktu itu hari biasa, bukan hari minggu, dan siang hari, di mana tidak ada jadwal Misa/Kebaktian.
Beda dengan gereja-gereja di Jakarta dan mungkin di seluruh Indonesia, yang gedungnya tertutup rapat dengan pintu-pintu terkunci, kecuali pada jam-jam Misa/Kebaktian. Di sini kalau kita sembarangan masuk-masuk ke gereja bukan di jam Misa, bisa-bisa kita dicurigain naruh bom, dsb dsb
Yang menarik juga, waktu ke Siem Reap, Kamboja; sebenernya waktu itu agak malas datengin gereja katoliknya, karena letaknya agak jauh dari hotel, dan susah untuk nanya ke orang lokalnya. Tapi teman Filipina yang rajin ajak untuk cari lokasi gereja katolik terdekat. Pas ketemu gerejanya, ketemu Pastor-nya (pendeta katolik), ngobrol-ngobrol ternyata 2 orang pastor yang tugas di gereja itu adalah orang Jawa, Indonesia yang ditugaskan di Siem Reap
Jauh-jauh ehhh ketemu wong kito / urang awak / sedulur juga, hahaha…
February 5th, 2012 at 5:53 pm
Di Manila (persisnya di Makati sih) ada Gereja Bethany… alamat persisnya di AIM Conference Center (Benavidez cor. Trasierra). Dekat dengan Greenbelt 3 dan tidak jauh dari Union Church.
Feel free to contact me for more detailed information.
February 9th, 2012 at 3:47 pm
Walau bukan pemeluk Kristen, saya kadang juga nyempetin main ke Gereja tua di tempat tujuan saya. Lebih karena mengagumi nilai arsitektur atau historisnya.
Paling seru waktu ke Philippines kemarin. Di tiap kota, pasti singgah ke Gereja Katolik utamanya. Dan paling heran waktu di Greenbelt, Misanya diikuti orang yg sedang berbelanja di sana. Jadi, gak heran banyak yg ikut Misa sambil nenteng kantong-kantong dari toko bermerk. Hihihihihi
March 22nd, 2012 at 11:22 am
Wah, kalo pas ke singapore, coba deh ke gereja tua yang di Orchard Road. Persisnya di ujung awal Orchard road, berseberangan dengan gedung bioskop The Cathay.
Nama gerejanya Orchard Road Presbyterian Church atau ORPC.
Disini ada pelayanan dalam 4 bahasa. Inggris, Mandarin, Jerman sama Indonesia. Masing” bahasa punya jemaatnya sendiri” dan punya organisasinya masing”.
Yang jemaat berbahasa Indonesia namanya Gereja Presbyterian Orchard. Ibadahnya setiap minggu jam 2.30sore.
Selesai ibadah ada sejenis snack and drinks di ruang aulanya yang free for all. Kadang suka ada bazaar makanan indonesia juga lho.. Kapan” mampir deh ya ke GPO…