Dipalak anak kecil
Tarian Dayak
Berkali-kali ke Kalimantan, saya belum pernah mengunjungi kampung suku Dayak asli yang tinggal di tengah hutan. Dulu waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kalimantan Tengah, saya memang tinggal di kampung bersama orang Dayak. Tapi itu sudah tidak asli karena terletak di perumahan yang dibangun untuk para transmigran, jadi tidak ada Rumah Lamin (rumah panjang tradisional tempat mereka tinggal) dan tidak ada orang yang telinganya panjang diganduli anting besar – sehingga kurang sah rasanya.
Waktu lagi ke Samarinda, katanya kalau mau ke kampung Dayak, harus berkendara 8-12 jam atau 24 jam naik perahu ke Tanjung Isuy atau Pepas Eheng. Supir mobil sewaan aja males nganterin ke sana, apalagi pas musim hujan, karena jalannya rusak berat. Akhirnya teman saya, Dragon, mengusulkan untuk pergi ke Pampang, hanya sekitar 1 jam dari Samarinda. Katanya setiap hari Minggu, suku Dayak Kenyah di Pampang mempertunjukkan tarian tradisional di Rumah Lamin. Sounds good! Jadi saya nggak usah rempong pergi jauh-jauh.
Jam 12.30, saya sudah tiba di Pampang. Kampungnya cukup modern, meski jalanannya masih tanah yang becek. Sebagian besar rumahnya dari tembok. Beberapa di antaranya memiliki garasi beserta motor atau mobil. Di tengah kampung terdapat Rumah Lamin dan parkiran mobil yang luas. Pada dinding rumah kayu tersebut terukir motif khas Dayak dengan didominasi warna kuning dan hitam. Rupanya Rumah Lamin yang ini sudah berubah fungsi menjadi ruang pertemuan terbuka dan bazar suvenir dadakan.
Saat menaiki anak tangganya, seorang anak perempuan cantik menyapa saya, “Halo, tante! Silakan masuk! Menarinya baru mulai jam 2 siang.” Begitu duduk, selusin anak berusia 5-10 tahun datang mengerubuti saya dan mengajak ngobrol. Mereka bermata sipit, berkulit putih bersih dengan pipi kemerahan karena panas matahari – semuanya mengenakan pakaian tradisional Dayak dengan payet dan manik-manik. So cute! Kami pun asyik mengobrol, bermain teka-teki, dan bernyanyi bersama (mereka penganut agama Kristen sehingga lagu-lagunya pun lagu Sekolah Minggu). Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kelakukan saya yang katanya lucu, bahkan anak-anak kecil minta digendong karena katanya saya gendut kayak bantal. Wah, sungguh ramah anak-anak ini!
Satu jam kemudian, stan dibuka untuk pendaftaran. Biaya masuk menonton tarian Rp 15.000/orang, satu kamera dikenakan biaya Rp 25.000, dan berfoto bersama orang Dayak berkuping panjang dikenai biaya Rp 25.000 per 3 frame. Hmm, cukup mahal. Sebagai imbalannya, pengunjung diberi gelang bermanik-manik dengan tulisan “Pampang”. Saya berpikiran positif aja, toh uang ini akan dipakai mereka sendiri untuk mengembangkan wisata budaya Dayak.
Tarian dimulai jam 14.15. Seluruhnya ada enam tarian yang sebagian besar dilakukan oleh anak-anak. Musik dimainkan oleh 3 bapak-bapak dengan gitar dan semacam kolintang. Sebelum tarian dimulai, dua orang MC menceritakan tentang arti tari-tarian, seperti tari perang, cinta, panen, burung, dll. Tarian anak perempuan memegang bulu burung Enggang (burung simbol Dayak), anak laki-laki memegang Mandau (pedang tradisional Dayak) dan perisai. Rupanya anak-anak yang tadi main sama saya tidak ikut menari, tapi tetap berkostum penari.
Tepat begitu tarian selesai, anak-anak tadi berlari mengerubungi saya. Tiba-tiba mereka menjadi sangat agresif dengan berkata, “Mana uangnya, tante? Tadi kan tante foto-foto, itu tidak gratis! Bayar!” Saya sampai terperangah dan akhirnya menjawab, “Nanti ya? Mau foto-foto yang lain dulu,” karena saya sedang menemani teman yang memotret nenek-nenek berkuping panjang. Rupanya yang berkuping panjang hanyalah tinggal orang-orang tua, itu pun hanya wanita. Kaki dan tangannya pun masih penuh dengan tato yang berwarna kebiruan.
Eh ternyata si nenek ini juga mengejutkan. Sambil difoto dia terus berkata, “Sudah lebih dari 3 kali! Kau harus bayar lagi!” Karena ini untuk kepentingan liputan, saya pun jadi tawar-menawar. Si nenek meski setengah tersenyum tapi mulutnya terus ngedumel minta duit! Untuk membuat wajahnya rileks pun, saya harus menyelipkan uang di tangannya. Sementara anak-anak itu menunggu dengan wajah jutek minta dibayar juga.
Kelar dengan si nenek, beberapa anak teruus menguntit sambil membentak, “Harganya 25 ribu untuk 3 kali, tapi tante kan foto bersama banyak anak, jadi minta lebih!” Saya memberikan selembar Rp 50 ribu dan… langsung ditolak! Tentu saya syok, secara tadi di Lamin cuman foto rame-rame 3 frame pake kamera saku pula. Saya pun jadi “ogah rugi”, lalu menyuruh mereka berpose untuk stok foto teman saya. Sama seperti si nenek, tidak ada kata lain yang keluar dari mulut mereka selain minta duit – bahkan anak berusia 5 tahun ikutan malak dengan agresifnya! Bukan cuma saya, para pengunjung lain yang ikutan foto bersama anak-anak di situ pun dipalak dengan hebohnya meski hanya foto pake handphone. Beberapa pengunjung sampai mengurungkan niat dan buru-buru kabur.
Saya menyelipkan selembar Rp 50 ribu lagi dan salah satu anak perempuan (kelihatannya dia kepala geng) membentak, “Mana cukup duit seratus ribu!” Ebuset! Ke mana anak-anak yang lucu tadi? Tiba-tiba sekarang jadi buas! Akhirnya saya merelakan beberapa lembar uang kertas dengan total Rp 50 ribu lagi dan berkata bahwa saya tidak ada duit lagi dan mau pulang. Meski terus protes, tapi akhirnya si anak merenggut uang kertas itu dari tangan saya dengan muka jutek tanpa berterima kasih. Anak-anak lain langsung mengerubungi si anak tadi dan dengan suara keras mereka saling menyikut minta bagian. Saya sampai bengong sendiri. Ketika saya mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, tidak satu pun dari mereka yang memandang saya karena sibuk berantem satu sama lain. Ya ampun, kecil-kecil sudah komersil dan buas!
Entah siapa yang mulai adanya praktek seperti ini. Saya sih bisa mengerti bahwa ada bayaran untuk foto bersama orang lokal, apalagi suku eksotis, dimana sudah menjadi hal yang “wajar” di dunia pariwisata. Di beberapa tempat lain di Indonesia pun kadang ada bayaran. Di negara lain seperti Mesir dan Nepal juga ada. Tapi untuk harga semahal itu dan dipalak oleh anak-anak kecil… sungguh keterlaluan!





July 4th, 2011 at 12:11 am
gatau harus merasa miris ato bahagia. Bahagia karena budaya Dayak masih survive atau miris karena komersialisasinya gila gila-an
July 4th, 2011 at 12:12 am
miris saya bacanya mba T
July 4th, 2011 at 12:25 am
Beda ya kalo ngasih tanpa diminta… Kalo dipaksa gitu sih saya gak ikhlas…
July 4th, 2011 at 12:42 am
Ya ampun.. Sedih bgt bacanya, akan trus mnrus sprti itu budaya itu..
Dari kecil udah diknalkan uang n dikomersilkan.. Miris sangat..
July 4th, 2011 at 1:01 am
ugh, paling males kalo pas lagi travel terus dipalak kayak gini
pernah ngrasain pas lagi ke Milan ma ke China dipalak!
July 4th, 2011 at 7:18 am
ini baru namanya komersialisasi budaya…
Uang memang bisa “menyerang” siapa saja. Menyedihkan jika melihat prilaku anak kecil tersebut yang justru jauh dari nilai-nilai adat-budaya yang mereka punya…
July 4th, 2011 at 8:20 am
Pengalaman di Wamena Papua pun kurang lebih sama, utk memotret org Papua yg msh telanjang hrs bayar, daripada byr mending sy curi2 mengambil gambar mereka ;D
July 4th, 2011 at 8:28 am
Mending ?ï jitak ????j???? ??? anak kecil…
July 4th, 2011 at 9:04 am
Ohh.. Budaya sekarang begitu komersialya.. Saya sedih bacanya.. Anak kecil begitu sudah diajari untuk komersil dan memalak.
July 4th, 2011 at 9:13 am
haduh,,,, itulah klo wisata warga lokal sudah semakin komersil,, pernah baca petualangan agustinus yang ke nepal, bahkan biksu biksu sekarang komersil dan minta duit klo difoto… miris ternyata di negara kita juga ada
July 4th, 2011 at 9:28 am
Sudah 2 kali saya ke desa Pampang, praktek “palak” begini emang sudah saya rasakan 13 tahun lalu, sekarang malah makin parah dan ya, buas!
July 4th, 2011 at 9:37 am
miris bacanya mbak
pantas bule2 ogah berkunjung ke dayak,udah susah medannya,kelakuannya kayak gitu.beda banget pas ke Chiang Rai,memang ada biaya masuk u/ke perkampungan suku berkalung besi tp mereka ga sebuas itu malakinnya.duh,jangan heran deh kalau sekarang orang rame2 wisata ke luar negeri,lagian bangsa sendiri aja malakinnya lebih parah dr orang luar,bah…di-publish aja ke media kelakuannya itu mbak,biar pemerintah daerahnya tahu.masih untung malakinnya sm bangsa sendiri,kalau buas gitu sm bule bisa ngerusakin citra Indonesia ajaa…
July 4th, 2011 at 9:44 am
pelajaran moral: jangan sembarangan foto2 di cagar budaya kalok nggak bawa duit banyak, ^__^
July 4th, 2011 at 9:48 am
waw, kl kyk gini yg ada turis-turis jd pada takut..
tp kasian ya..mereka malak-malak gitu pasti ada penyebabnya jg, faktor ekonomikah?
July 4th, 2011 at 10:05 am
spechless ;(
July 4th, 2011 at 11:16 am
wakkss… kok bikin miris yah??
July 4th, 2011 at 11:54 am
Serremmm+mirissss banget bacanya. Harusnya ada pengawasan dari Pemda terkait pengelolaan wisata adat nih. Bayangin aja kalau yang dipalak dengan buas WNA? Bisa-bisa nama Pariwisata Indonesia tercoreng di mata dunia.
July 4th, 2011 at 11:58 am
Waktu saya ke Pampang sekitar 2 tahun lalu, sewa mobil sekalian guide dari Balikpapan relatif aman dari peristiwa palak2an ini. Mungkin karena guide-nya sudah dikenal orang2 sana. Harga yang saya bayar ke guide sudah termasuk semua cost di Pampang (tiket masuk & kamera, foto dengan nenek kuping panjang & ‘prajurit’ dayak). Mungkin jadinya kurang lebih sama dengan jumlah yang dipalak anak2 & si nenek, tapi paling tidak mood liburan ga rusak karena dipalak
July 4th, 2011 at 12:26 pm
cik…cik…cik….
buat pelajaran bagi kita aja…
hati-hati kalo kepengen foto-foto…
salah-salah bokek mendadak ntu…
heheheh
July 4th, 2011 at 1:24 pm
wadew, ternyata lebih parah toh, klo perihal bayar membayar setelah memotret itu sudah saya tahu sebelumnya, tapi yang sekomersiil ini baru tahu. Btw, jangankan ini yg pedalaman Kalimantan, suku Baduy di Lebak, Banten, kata teman saya yg udah ke sana juga gitu. isu serius ini menyangkut kelangsungan perkembangan pariwisata yang berkaitan dengan suku ‘eksotis’ yg terpencil. Jadi inget kisah di TNT 3, seyogyanya pemerintah setempat mengatur tur lokal suku-suku ‘terpencil’ ini, biar pengunjung gak seperti tamasya ke kebun binatang dan orang lokalnya gak jadi mata duitan.
PS: Mbak Trinity, mending fotonya pakai seperti yg dimuat di Majalah Venture itu lo, yang dikerubuti anak-anak. Biar lebih OK dengan isi tulisannya. TTDJ ya ke Namibia-nya. Gak sabar nunggu oleh2 ceritanya. ;=)
July 4th, 2011 at 1:57 pm
Makasih Kak Trinity udah berbagi cerita. Ini tanda masyarakatnya gak siap daerahnya menjadi objek wisata. Padahal kalau cerita matre ini kesebar ke mana-mana toh para pelancong juga jadi ilfil mau berkunjung ke sana.
Suer, gw ilfil banget tau anak-anak kecil yang ‘ramah’ itu ternyata matre.
July 4th, 2011 at 5:01 pm
wah, belum pernah denger nih yang kayak ginih. tragis banget dunia pariwisata kita.
salam kenal
July 4th, 2011 at 5:24 pm
idiihh, manis di awal aja berarti mereka ya mbaak, oga ah, kesana, mata duitan mereka,
July 4th, 2011 at 7:34 pm
baru tau kalo mereka seperti itu
… jd males kesana
July 4th, 2011 at 8:32 pm
Saya prihatin tapi jg kasihan sama orang2 suku eksotis macam Dayak, Asmat, Baduy, dll. Hal ini terjadi bukan semata2 kesalahan suku ini tapi krn tdk ada pembinaan dari pemerintah setempat. Jangan lupa juga bisa jadi sikap ini buah dari perlakuan para turis mancanegara or turis lokal yang sebelum2nya datang dan memperlakukan mereka dengan tidak hormat seolah2 mereka “barang” tontonan yg seenaknya difoto, jadi mereka merasa sebagai komoditi semata.
July 5th, 2011 at 9:45 am
sedih bacanya…
apa yang harus dilakukan ya…
apakah ini karena kurangnya pendidikan moral dan tidak adanya pembinaan dari pemerintah ya…
July 5th, 2011 at 10:41 am
Kok Begitu yah kelakuannya, kalo dipikir-pikir hanya dari situ dia bisa dapat uang, pasti kehidupan mereka dibawah garis yang jauh dari kemiskinan.
July 5th, 2011 at 1:52 pm
wadaoo !!!
mahal amat moto doang, kudu sampe berkali2 kluarin duit 50rban…….
dengan uang segitu banyak dari 1 pengunjung, harusnya mereka cepet jadi jutawan tuh, scara di daerah apa2nya ga semahal jakarta
mba ga gantian minta di bayar ?
kan anak2 itu juga jadiin mba kuda kudaan
July 5th, 2011 at 8:27 pm
wah mgkn karena mereka nggak pernah ngerasain kesejahteraan jadi skali ada kesempatan dapet duit ya dimanfaatin betul, walaupun jadinya beringas gt yg pentg dapet…
July 5th, 2011 at 8:43 pm
lagi ke Lombok pengen liat2 rumah suku sasak ga brp lama anak kecil berdatangan satu persatu, dikasih uang eh tambah banyak anak2 yg datang minta bagian. Bgm tanggapan para wisatan mancanegara ya kalau liat hal semacam ini ..
July 6th, 2011 at 6:56 am
klo mnurut gw sih,jgn salahin anak2nya tp orangtua’nya! katanya anak2 sekolah minggu tp kok perlakuannya ga mencerminkan anak2 TUHAN ya?!
July 6th, 2011 at 7:57 am
mba, jika ingin ke kaltim lagi dan ingin merasakan petualangan di hutan kalimantan, ke malinau tepatnya di hutan adat tana olen’ setulang,disana ada sekelompok masyarakat dayak yang masih mempertahankan hutan adat mereka, mba bisa wisata menyusuri sungai, melihat pohon2 dengan diameter yang besar2.
July 6th, 2011 at 9:24 am
Ha ha ha ….saya aja yang tinggal di samarinda belum pernah ke sana MBk Triniti ..itu pasti ajaran orang tua mereka bukan anak2 itu sendiri ….
July 6th, 2011 at 9:48 am
Wew,…ndak usah kesana wes.Hehe..
July 6th, 2011 at 10:39 am
Parah banget ya, itu siapa yang ngajarin ya kira2?
July 6th, 2011 at 11:47 am
nice ….visit my blog as well http://muharisblake.wordpress.com
July 6th, 2011 at 1:21 pm
miris bacanya…..
muka-muka lugu mereka palsu. ga ngerti mesti nyalahin siapa.
July 6th, 2011 at 10:42 pm
dimana aja gitu mbak komersilnya..
July 7th, 2011 at 2:52 am
waduh, ngeri citra budaya kita..
thanks infonya
July 7th, 2011 at 7:41 am
waduuuh, gimana image kita di mata turis asing nanti ya??
makasih infonya
July 7th, 2011 at 8:59 am
Wah.. sebagai orang Samarinda, saya menghaturkan banyak2 minta maaf.. biar bagaimanapun mereka bagian dari saudara saya se kota hehehe..

Mohon dimaklumi saja.. mereka sudah pada ‘ngeh kesempatan’.
Di balik itu semua ada kisah panjang yang melatar belakangi mengapa mereka menjadi seperti itu. Yah.. it’s to long to tell
Anyway, we still should proud of one of Indonesian’s rare culture
Semoga ada ‘pembinaan’ dari departemen setempat, aminn.. (wishing hard…)
July 7th, 2011 at 9:06 am
Waduh kak T, jd sepi ntar wisata kaltim. Harusnya
datang ke kampung dayak beneran. Bukan ke lokasi yg masih terhitung daerah kota seperti Pampang. Pembaca lain, percayalah, yang di pedalaman tak sekomersil mereka.
July 7th, 2011 at 9:23 am
Kayaknya yang baca jadi pada takut ke kalimantan khususnya ke kampung dayak. Percayalah, yang didaerah pedalaman masih lugu2 dan tidak komersil. Jangan samakan semua orang dayak pedalaman dg dayak “kota” ala Pampang. Next time langsung ke hulu mahakam saja, naik kapal, bis atau naik omprengan. Pemandangannya tak ada duanya!
July 7th, 2011 at 9:46 am
Wah seru tapi jadi gak mau kesana kalo di palak anak kecil, ntr gak bisa pulang lagi
July 7th, 2011 at 1:04 pm
6 tahun yang lalu saya sudah mengunjungi perkampungan suku dayak yang dimaksud. Tapi waktu itu belum ada palak2an yah. Dulu hanya bayar untuk nonton tarian, foto2. Trus saya sempet malah ikut nari bareng orang2 dayaknya, difoto. FOto sama para tetua berkuping panjang, selipin 5ribu. foto sama anak2 sukarela aja ngasihnya. mereka juga nerima2 ajah. Tapi kok sekarang seperti itu ya?
Mungkin itu salah satu cara mereka untuk survive sementara pemerintah ga peduli sama sekali.
July 7th, 2011 at 2:26 pm
what the f… asli gw langsung males pergi kesana baca ginian. ga ada yang lebih parah daripada anak-anak matre, apalagi pertama-tamanya ga dikasitau pula bakal ada tarif foto sama anak-anak…
Gw di Singapore foto-foto pertunjukan jalanan trus ditarik bayaran aja sukarela kok… Mereka ga maksa jumlahnya berapa, ga sampai 50rb kalau ga salah. Ini 150rb?? Bikin ancur pariwisata….
Beberapa komen diatas bilang kalau di pedalaman ga sematre itu, mungkin benar, tapi yang bakal sering dikunjungi wisatawan kan ya di Pampang itu, ibaratnya tempat itu pintu gerbangnya suku dayak.
Kalau hal gini diterusin, yakin deh, wisata dayak ga akan bertahan lama.
July 7th, 2011 at 3:02 pm
Semua bersumber dari masalah ekonomi, pada saat kondisi mereka “sejahtera” (dalam tanda petik) mereka tidak berpikir komersil, tapi saat tekanan kebutuhan ekonomi sudah begitu besar dan mereka kesulitan untuk memenuhinya maka perilaku seperti itulah yang muncul. Budaya dan kesenian mereka dijadikan alat untuk memperoleh uang secara langsung tanpa harus diorganisir oleh pemda atau dinas pariwisata karena mungkin kalau diorganisir oleh pemda atau dinas pariwisata uangnya justru masuk ke kantong mereka sedangkan masyarakat yang jadi objek wisata tidak dapat apa-apa dan hanya bisa gigit jari. Setiap kali mereka dieksploitasi untuk kepentingan wisata setiap kali itu pula uang mengalir ke pemda, tetapi kesejahteraan masyarakat tidak diperhatikan.
July 7th, 2011 at 6:18 pm
Duh…miris banget. Saya pernah hampir mengalami kejadian serupa di luar negeri. Tapi setelah membaca kisah ini, saya amat sangat kaget. Ini jauh lebih sadis! Harga mahal, anak kecil, dan di negeri sendiri? Fuihh…(ngurut dada)
“Mana cukup duit seratus ribu” Ehhh……sumpah ya! (Emang lo mau ganti HP tiap bulan!!!!) Keterlaluan banget nggak sih? Ini sih bukan karena desakan ekonomi namanya kalau sampai anak kecil udah ngomong kayak gini.
Ke mana sih pemerintahnya???
July 7th, 2011 at 9:09 pm
Ada banyak alasan knp mrk melakukan itu. Salah satunya mencegah si pemotret mengkomersialisasi wajah mrk k dlm kalender, kartupos dan media lain. Sehingga mrk mengambil royalti duluan dg cara sprt itu. Dan lagi harga sembako yg kian meningkat dan biaya pendidikan di lokasi mereka yg kian mencekik leher menuntut mrk mematok harga. Jd wajar2 saja. Anggap saja amal membantu melestarikan salah 1 budaya bangsa.
July 8th, 2011 at 3:19 pm
pantesan aja pariwisata indonesia ga pernah maju… kalo caranya preman gitu, turis juga jadi pada takut
July 8th, 2011 at 8:24 pm
satu lagi wisatawan kecewa.
July 9th, 2011 at 6:34 am
kasian anak-anaknya, masih kecil tapi sudah diajari berpura-pura kayak begitu…
mudah-mudahan cuma di tempat yang itu saja, kalau tempat yang lain tidak….
July 9th, 2011 at 10:44 am
Oh, ini yang untuk Venture Magazine waktu itu ya mba?? Yang gambarnya dua anak kecil pake baju khas Dayak yang lagi pelukan. Nggak nyangka ternyata merek seganas itu, padahal foto2nya lucu dan cute banget.
July 9th, 2011 at 12:12 pm
Gilak agresif sekali anak2nya minta bayaran? Gimana mau maju pariwisatanya kalau penduduknya seperti itu, ckckckck…
July 9th, 2011 at 12:35 pm
Mba, sempetin ke Tanjung Selor dong…
Lokasi saya… hehe
July 9th, 2011 at 2:33 pm
Aduh, sedih bacanya.
Kecil-kecil udah diajarin minta-minta duit. Kalo kayak gitu apa bedanya sama pengemis dong?
July 9th, 2011 at 3:44 pm
mbk sih,,coba datangnya bukan sebagai wisatawan tapi sebagai penulis yg mau jumpa fans di samarinda,,pasti gak usah bayar tu fotonya,,mau berapa kalipun,,,hehehe becanda,mbak..
July 9th, 2011 at 8:58 pm
Jiaaaahhhh…agresif sangat..
tapi ga nyurutin niatku lah untuk berkunjung ke Kalimantan.,
dari dulu aku penasaran aja ama nih daerah..
semoga tercapai..amin
kunjungi blogku ya http://fnrturislokal.multiply.com/journal/item/21/Perjalanan_Dimulai?utm_source=cp&utm_medium=facebook-cp&utm_campaign=fnrturislokal
July 10th, 2011 at 8:00 pm
mereka khan juga butuh makan, biaya sekolah, beli sepeda, beli PS/3, handphone, blackberry, IPad, dan pengen bisa jalan-jalan backpackeran ke luar negeri spt mbak T, jadi wajar dong kalau minta bayaran mahal. He..he…he…gantian dong masak mereka terus yang jadi objek wisata, kali-kali mereka yang jadi turis.
July 10th, 2011 at 9:46 pm
Saya dari Bontang, Kalimantan Timur kira2 2-3 jam dari Samarinda. Pas baca opening posting-an ini saya ikutan bangga karena saya sendiri belum pernah ketemu Orang Dayak asli….begitu endingnya…..berasa ikutan malu….sudah sedemikian komersil dan agresif kah Orang Dayak mencari duit dari pariwisata? Jangan kapok ke Kalimantan Timur lagi yah…masih banyak kok yang komersil….ke Bontang Mbak’e sekali-sekali….hehehehehehe….
July 11th, 2011 at 10:40 am
sama persis mbak! aku juga dipalak, dimintain 300 rebu. males banget! aku bayar setengah aja. padahal cuma poto2 doang.
July 11th, 2011 at 11:52 am
parah! nerima duit 50.000 udah kayak nerima duit 5ribu aja tu bocah2…
harus irit moto nih kalo kapan2 ke sana..
July 11th, 2011 at 6:47 pm
Waduh mb, mengerikan sekali ya, miris deh membacanya. Kebetulan sy tingga di kalimantan barat, n menurut penilaian sy sepertinya itu typical umum suku dayak deh. Sy kalau taveling jg lbh suka yg ga umum, n ingin tahu kehidupan penduduk asli, sebelumnya aku fikir mereka itu begitu lugu n tulus, tapi begitu masuk ke lingkungan mereka, sy jadi shock karena jauh sekali dari yg sy fikirkan.
July 12th, 2011 at 6:06 pm
..dang!?!
July 13th, 2011 at 1:19 pm
Udah biasa mah di Indonesia, miris emang tp kenyataan yah emang gitu. Kek ke Bali pun juga gitu, ke tempat wisata Pura tau” ada org nyamperin dateng mau nganter keliling dan ngejelasin soal Pura. Giliran dah selesai keliling kena palak dah…
July 13th, 2011 at 1:30 pm
parah..
July 14th, 2011 at 3:20 pm
wuidih.. negerti banget lah pasti bete dipalak. ama anak kecil pulak! :p
tapi praktek eksploitasi barangkali lebih dulu dilakukan para turis kepada penduduk lokal. mungkin perlu penertiban aja.
saya dulu pernah selusur mahakam. dengan sadar diri, kami memang bayar setiap ambil foto, apalagi foto itu untuk peliputan. tapi gag sebuas seperti diceritakan trinity, sih. >_<
hm, solusinya apa ya… mungkin perlu masalah penertiban aja. gimana memastikan dana yang mengucur dari turis bener-bener bisa jadi solusi bagi komunitas ybs. mungkin bs jadi sarana pendidikan, kesehatan, sehingga generasi kelak gag besar sebagai tukang palak.
July 15th, 2011 at 1:33 pm
wah, kok nggilani gituh ya? weh weh. sama seperti sica, trus opo ya solusinya? (ya duit 50rb itu solusinya, goblok banget sih gw)
July 16th, 2011 at 9:23 am
lihat….modernisasi telah masuk ke kampung mereka…uang sudah menjadi salah satu dasar hidupnya……
July 16th, 2011 at 12:12 pm
gak nyangka… miris banget bacanya. ampe mbak yg turis lokal aja takut,gimana turis bule? ntar disangka orang Indoensia ganas2lagi. hiyuh.
July 17th, 2011 at 9:47 am
kak Trinity, kapan kapan bikin kuis dong buat backpackeran barenag kakak??
July 17th, 2011 at 9:48 am
kak Trinity, kapan kapan bikin kuis dong buat backpackeran bareng kakak??
July 19th, 2011 at 8:04 pm
wah sangat khas Indonesia..palak memalak memang budaya Indonesia asli..keren..jadi tahu nih kalau ke sana mesti siap-siap saja di palak..ha..ha.. tahun depan rencana mengunjungi beberapa tempat di Kalimantan dan Irian jaya mudaha-mudahan kesampaian
July 20th, 2011 at 11:12 pm
Hem, kalo di Malaysia juga ada kan Dayaknya? gimana yah cara promosi mereka? kayaknya diatur dengan lebih baik
July 21st, 2011 at 11:08 am
betul mba saya pernah ke pampamg, foto sama nenek2 nya sekali jepret minta 25 ribu, secara kita berlima akhirnya tawar menawar 80 ribu mau dia di jepret 4 kali, tapi kita gak ilang akal dengan alasan si nenek merem, atau belom kepencet, atau hasilnya gagal akhirnya kita berhasil menjepret sampai puluhan kali. beda lagi dengan anak kecilnya, saya kira dia minjemin topi bulu burungnya untuk lucu2an di foto gak taunya minta sepeuluh ribu buat foto sekali jepret pake topi itu. luar biasa sekali mereka sudah diajarkan budaya matre, yang lebih kasihan lagi turis asing mereka dieknakan biaya seratus ribu untuk sekali jepret foto ckckckckck.
July 22nd, 2011 at 10:58 am
saya mah ogah ke kampung itu..ngeri banget brayy ..parahh
jalas itu wajah wisata daerah yang bersangkutann.selamat jadi wilayah purba dahhh
oggaaaaaahhhh kalo mo kesana!!! puassss!??
July 23rd, 2011 at 8:28 pm
sy miris membaca apa yg anda muat ditulisan ini, itu pekerjaan yang bs menghasilkan uang… kalo anda ga punya uang, anda ga usah ke mana2…
July 25th, 2011 at 11:04 am
Wah setelah me baca article ini saya agar mengerutkan kening. Soalnya saya tinggal di kaltim daerah pedalaman yg jauh dri Kota .sungguh di sayangkan dgn pola spt itu. Namun mungkin hanya bbrp t4 Saja saya rasa. Jgn sampai dgn sikap spt itu turis jadi enggan beekunjung di tempt kita. Bahkan harusnya membudidayakan kebudayaan kita. Agar Kalimantan juga bisa menjadi summer objek wisata yg di minati. Di tempt saya pedalaman tapi sah agar maju. Tidak ada anak2 yg mempunyai sikap spt itu . Bahkan di t4 saya wisatawan sangt di hargai skali. Dengan tingkat keramahan yg tinggi. Bagian saya memiliki byk sekali wisatawan asing yg beekunjung di kampung saya. Ada waktu saya Akan mengisi blog saya dengan kehidupan suku punan Dayak. Bisa share email : Butsirawati_mp@yahoo.com
Regard,
Butsirawati
July 25th, 2011 at 6:25 pm
Dilematis. Saya tidak yakin mereka “pure” seperti itu.Jangan-jangan mirip seperti anak jalanan di Jakarta, dikoordinir dan nanti nyetor ke ‘seseorang’ yang berada di belakang aksi demikian.
Sepakat dengan beberapa teman di atas, perlu adanya sikap dari pemerintah untuk tangani hal ini dengan bijak. Artinya, masyarakat pamer budayanya dengan mendapatkan rejeki dengan kemampuan mereka, namun juga tidak sampai membuat pengunjung menyesal seumur-umur karena menginjak tanah itu. Siapa yang bisa mengelak kalau dari kita mungkin ada yang bener-bener mengutuk mereka (bagaimana kalau kemudian jadi batu seperti Malin Kundang he he).
Di Blog saya (http://fick-cyber.blogspot.com, memang lebih banyak mengangkat seputar daerah saya saja, di Aceh.Maklum saya cuma muter-muter Sumatra dan Pulau Jawa saja. Namun, saya masih merasakan kebanggaan, praktik demikian bisa dikatakan tidak ada.Beberapa pagelaran tradisi masih bisa ditonton dengan gratis.
Berbeda halnya kalau membawa-bawa alasan riset, ada catat mencatat entah untuk alasan assesment perusahaan dlsb. Itu juga bisa membuat masyarakat bertanya,”Nanti akan ada pogram apa untuk kami?” Ekses dari bantuan tsunami dan pemanjaan dari BRR beberapa tahun lalu.
Saleuem
July 27th, 2011 at 2:40 pm
iya..memang begitu di sana. saya dari lahir tinggal di bontang. baru tau pampang pas SMP. ketika kami sekeluarga berkunjung ke sana, kakak saya juga tertipu oleh keluguan bocah2 itu. saya yg tadinya antusias melihat keunikan suku budayanya, jadi malas. padahal saya sempat lihat papan tarif foto di dinding rumah itu. eeh..bocah2 itu malah minta lebih..hmmm
July 29th, 2011 at 9:00 pm
Mba T, izin copas beberapa kalimat di cerita ini buat diposting di blog saya ya?
Saya lahir dan besar di Samarinda tapi belom pernah ke lokasi itu hehe. Jadi lumayan miris nih ama daerah sendiri. Padahal kejadian kaya gitu kan justru bisa menurunkan minat wisatawan buat mengunjungi Kaltim.. Pendapatan daerah juga terancam kan?
Pesan saya sebagai warga Kaltim buat para wisatawan, tolong jangan memandang suatu daerah dari satu sisi saja. Kan ga semua orang Dayak ato penduduk Samarinda ato penduduk Kalimantan seperti itu kan?
Keep the spirit of Visit Kalimantan
Thanks
Best Regards
July 29th, 2011 at 9:35 pm
btw pampang itu di kabupaten mana ya..jd penasaran pgn ksna ntr ps pulam..hehehe..pengen liat seberapa buas anak2ny..wkwk
July 31st, 2011 at 7:14 pm
Kadang kita merasa sudah benar, tapi apakah kita betul-betul benar?
Saya agak komplain mba mengangkat masalah agama (anak sekolah minggu) ke topik ini.
Apakah mba Trinity berkunjung ke daerah tersebut murni sebagai backpacker/wisatawan atau pencari berita?
Apakah mba Trinity sudah menghubungi pengelola tempat yang bersangkutan saat akan meliput mereka?
Apakah mba Trinity memberitahukan bahwa mba Trinity akan memuat mereka di majalah?
Apakah ada royalty yang diberikan saat mba Trinity memuat foto mereka di majalah mba Trinity?
Saya tidak setuju dengan anak-anak yang memalak tetapi info yang jelas dan berimbang harus diberikan saat kita memberitakan sesuatu.
Jangan sampai daerah tsb menjadi “daerah terlarang dan menakutkan” bagi wisatawan lokal/luar.
Mari kita memajukan daerah sendiri sebagai tujuan utama wisata. Bukan hanya bangga saat berwisata keluar negeri.
Salam.
August 14th, 2011 at 12:12 pm
kecil2 uda ngerti uang, malak pula
August 20th, 2011 at 12:13 am
Kalo gini, bagusan ga usah mengunjungi mereka.
udah susah2 kesana, mana medannya berat, bela2in disana untuk apa? untuk budaya ? FU<K budaya kalo uda gini, biarin mereka mau punah atau gimana.. kalo gitu cara mreka.
Lebih Bagus duit itu buat sumbang ke Account yang jelas atau untuk makan anak2 miskin sekampung.
August 20th, 2011 at 4:40 am
ih jadi pengen nyekek tu anak2 deh! grrrrr
August 20th, 2011 at 6:16 am
Mba trinity msh mending diminta duit segitu
waktu saya ke Desa Pampang bulan Desember 2010,anak2 kecilnya mintain duit 1 orang Rp. 25.000 untuk sekali foto. Padahal mereka sendiri yang minta difoto,bener2 bikin shock.
Dan bea foto dengan kuping panjang diminta sekali jepret@50.000
mahal
Kesan saya setelah berkunjung ke Desa Pampang, kapok!
August 20th, 2011 at 12:10 pm
mudah mudahan saja hal semacam ini mendapat perhatian dari pemeritahan setempat, agar sektor pariwisata di Indonesia semakin maju.
August 20th, 2011 at 5:48 pm
suku dayak memang terrrrllaaaaluuu….blacklist aja tuh desa.
August 21st, 2011 at 6:45 am
Buset tu anak Dayak mata duitan banget Mbak.
Ke Baduy aja yuk barengan sama aku. alokasi 200ribu, soalnya aku mau backpackeran… aku brangkat dari bandung. Mbak T yang dari Jakarta mungkin lebih muah lagi. naik keretaa soalnyaa…
ada yang mau ikut? berangkat oktober/ november. liat kalender akademik dulu, soalnya aku kuliah. tapi dijamin ga pas waktu liburan, soalnya kampus aku jadwalnya beri (beda sendiri). So, disaat orang lain sibuk buka diktat kuliah, aku melenggang pergi. Tertarik?
August 22nd, 2011 at 9:23 am
Sekarang anak kecil sudah diajarkan untuk meminta minta. Jangankan di tempat wisata seperti itu, di jalanan banyak anak kecil yang sudah terbiasa untuk meminta-minta. Pernah saya motret model di suatu makan belanda kuno di surabaya yang disekitarnya ada perkampungan penduduk. Pasti ada anak2 kecil yang selalu ngikutin kita waktu pemotretan. Pertamanya sih gak berpikiran apa2 tentang anak2 kecil yang ngikutin kita. Karena lucu2 nya, jadi sesekali anak2 kecil itu di jadiin model buat di potret, dan terakhir di kasih sedikit uang. Tapi apa yang terjadi setelah itu. Anak2 kecil lainnya langsung berdatangan dengan berkata “om, minta uang nya, om!!”, “mbak, minta uangnya, mbak!”. Itupun dilakukan terus menerus, dan kami tidak menghiraukannya. Sungguh terkejut dan miris rasanya. Anak kecil sudah pintar meminta2. =(
August 23rd, 2011 at 11:38 am
saya pernah kesana sewaktu ingin mengambil video dokumenter dayak kenyah untuk bahan TA saya. tapi tidak semuanya seperti itu apalagi sampai di palak secara kasar (di ikutin sih iya – hehehe..dan akhirnya saya beri uang juga)tapi pada dasar nya mereka baik kok. saya pernah wawancara salah seorang anak penari, tapi mereka tak minta bayaran kok – malah salah satu pemain sampeq memberi saya satu/dua ikat rambutan setelah saya beri satu kotak rokok – jadi jika tidak mau membayar coba saja sistem barter
heheheh…..
August 23rd, 2011 at 11:48 am
sedikit cuplikan video dokumenter dayak kenyah yang ada di pampang bisa di liat disini.
http://megasavithri.wordpress.com/2011/07/03/kumpulan-portofolioku/
August 29th, 2011 at 1:24 am
saya justru pernah dipalak ama anak2 kecil yg suka minta2, udah saya kasih, dia pergi eh ternyata bawa temen2nya banyak bener pada mintain saya uang saya kasih aja seribu seorang terus anak yg udah saya kasih minta lagi saya teriakin aja “KAMUKAN TADI UDAH SAYA KASIH!” Terus mereka diusir ama temen saya dan saya dimarahin ama dia katanya klo lagi nungguin apaan kek n ada yg minta2 mending jangan dikasih
yah gak apa-apalah sekali2 ngasih buat mereka karna saya berdomisili di australia and gak juga tiap bulan ngasih buat orang minta2.
September 13th, 2011 at 2:44 am
Saya kebetulan keturunan suku dayak, meski bukan sub suku dayak kenyah seperti yang tinggal di desa pampang, dan beberapa kali sudah mengajak teman2 termasuk yg terakhir kolega saya dari jerman wkt pulang ke samarinda thn 2008 utk ke pampang. saya memang mengakui kl anak2 di sana cukup agresif dlm “mencari uang”. bukan meminta utk dimaklumi, tp kenyataan yg ada mereka (dan kami, suku dayak pada umumnya) memang “tertindas” dan “tereksploitasi” sejak dulu. pendidikan pun kurang, nilai yg tertangkap (dari media televisi terutama) adalah MATERI (in other words, UANG). saya kebetulan kenal dengan salah seorang perintis wisata desa pampang, mgkn nanti akan saya coba sampaikan masalah seperti ini. saya sendiri kurang mengerti manajemen-nya di sana bagaimana, tp saya tau kalau penduduk yg tinggal di sana itu bukan penduduk berada. saya cuma mohon yang lain tdk langsung menggeneralisasi bahwa suku dayak itu kelakuannya sperti itu. it’s a long, complicated story ya. kalau memang tidak paham cerita dan background-nya, tolong jangan langsung judge dulu. thanks
. kaltim tetep worth visiting kok.
September 20th, 2011 at 12:58 am
Ya ampun gila bener ya… Udah mba ntar foto sama saya aja, asli perpaduan berbagai etnis Dayak lho. Tapi sayangnya lg sekolah di Hokkaido, Jepang. Kalo mo travelling ke utara Jepang ntar saya temanin lho plus akomodasi gratis deh. Sekalian foto2 ama anak Dayak, dijamin ngga saya palak:)
September 20th, 2011 at 6:03 pm
saya tinggal di cirebon, disini ada situs makan sunan gunung jati, silakan berkunjung. disitu pun sama, banyak anak kecil yang suka memalak para peziarah, maklum juga sih, si wali sanga tersebut pernah berkata: nitip[ mushola dan anak yatim, jadi mungkin semua anak2 distu adalah anak2 yatim yg ingin dibagi uang jajan, tap, yaa,, gak habis fikir jika di luar pulaua jawa begitu, karena di cirebon pun ada praktek demikian…
September 26th, 2011 at 6:58 am
ha3… sy jg baru tau ternyata harus bayar y, saya kira itu gratisan :p
klo sy travelling masih baru, smpet mao foto sama warga lokal yg khas tp ga ktemu, foto sama anak rambut gembel di dieng ga kesampaian :9
October 5th, 2011 at 6:46 am
Wah kok bisa gitu ya?
Apapun sebabnya pasti itu bukan karena budaya atau apalah karena saya pernah tinggal dengan suku kalimantan semacam dayak gitu yang tinggal di Serawak, Malaysia bernama suku Iban, mereka baik2 kok nggak mata duitan..paling dibeberapa tempat ada kotak amal atau sebagainya, tak ada unsur pemalakan sama sekali
October 9th, 2011 at 9:07 pm
beberapa bulan lalu, ditempat gw kerja (muara wahau kalimantan timur) diadakan festival tari dayak se-kalimantan timur. makanya waktu liat potonya mbak trinity langsung kaget, kirain mbak T maen ke sono juga (kalo iya, kecolongan dah gw). keadaannya gak separah yang dialami ma mbak T. banyak yang di poto tanpa bayaran. kayaknya mbak T aja tuh yang lagi apes, soalnya ditempat gw, walaupun sesama dayak, mereka gak pernah malak tuh. kalo gak percaya, buktiin di bulan desember (acara dayak kenya, diadakan untuk menyambut akhir tahun) dan April (acara dayak bahau, menyambut pesta panen padi).
October 12th, 2011 at 11:13 am
Haha, welcome to Samarinda mba..
Mending mb ke Tg. Isuy yang tidak semuanya harus dibayar. ^^
October 21st, 2011 at 10:35 am
Dipalak anak kecil « My Inspiration says:[...] Comment Dila [...]
October 28th, 2011 at 10:33 am
Wah, seram banget pengalamannya.
Saya pernah ngalamin hal yang mirip begitu di salah satu area pedalaman di Indonesia,
Nggak usah sebut nama daerahnya ya, fokus saya kan mau ngomongin perilakunya, bukan “menyerang” sukunya, ntar dibilang SARA lagi ^^
Saya juga ke area itu untuk bekerja, bukan sebagai turis.
Sembari lewat, ya foto2 karena di mata saya sangat menarik.
Deuh… dimintain duit dong.
Untung dihalau sama pemandu kita.
Saya protes kalau disebutnya minta uang itu buat royalti, karena buat saya foto2 itu cuma buat dokumentasi pribadi aja.
Bukan untuk kepentingan pekerjaan juga, wong kerjaan saya di desa itu buat survey kelayakan pembangunan jembatan, nggak ada hubungannya ma foto2 orang lokal.
Dan saya juga nggak secara spesial minta mereka berpose, foto sambil lewat begitu aja.
Kalau memang semua suku tradisional di Indonesia kelakuannya begini sih, saya jadi takut buat wisata budaya.
Mendingan diving liat ikan aja.
Iya, mungkin ada orang yang bilang, ikhlasin aja demi kemajuan pariwisata Indonesia.
Tapi apa memang ini cara yang bijak?
Bukannya terbukti bahwa cara itu malah bikin turis ngerasa tertipu dan jadi punya image buruk tentang daerah tsb?
Jangan pernah mengabaikan bad word of mouth di antara sesama traveler lho ^^
Kalau memang tujuannya begitu, apa nggak sebaiknya langsung saja dicantumkan, pergi ke area itu tarif masuknya sekian.
Pasang aja tarif yang mahal, 500rb per orang sekalian kalo perlu (dari itung2an cerita mbak Trinity, jadinya total keluar duit sekitar 500rb juga kan?), jadi lebih transparan dan turis2 punya bayangan yang jelas bahwa kalau mau wisaata ke area itu, dia harus punya budget sekian.
Nanti uang itu bisa dibagi2in ke para pendukung di area pariwisata tsb dengan komposisi yang udah mereka sepakatin.
Resikonya? Ya paling traveler kere kayak saya bakal ciut duluan buat pergi ke tempat itu
Serius, praktek kayak gini malah bikin image jelek dan jangka panjangnya malah mematikan potensi wisata ke area itu (kalau semua orang jadi ketakutan buat ke sana).
Saya ngebayanginnya ini kayak kita mau makan gado2 dan di menu tertulis harganya 10rb , lalu kita dengan semangat beli dan makan gado2 itu.
Tapi pas mau bayar, kita ditagih 210 rb.
Terus yang jualnya bilang, iya, harga gado2nya emang cuma 10rb.
Ada tambahan biaya 100rb buat sewa kursi yang kita dudukin plus 100rb lagi buat sewa pemakaian piring dan sendok garpu.
Ngerti kan maksud saya? ^^
October 30th, 2011 at 10:32 am
gw aja yang orang asli kaltim walau bukan dayak asli gak pernah nginjak perkampungan pampang heheheheheehehh
November 2nd, 2011 at 7:51 pm
kalo ama ane udah ku klepak tu pala bocah2 songong itu……
November 8th, 2011 at 2:11 am
Iya sih, memang kalau di daerah suka jadi begitu. Karena itu apa yang kak Trinity rintis sangat saya kagumi. Dari kak T nanti pasti akan dimulai perbaikan wisata Indonesia. Bukan harapan kosong saya yakin karena saya lihat sejak booming buku traveller punya kakak, pariwisata mulai dikelola serius. Baik oleh pemerintah maupun swasta. Di pelosok Indonesia. Tidak hanya Bali. Tulisan – tulisan kak T salah satunya sarana saran dan kritik bagi pembaca. Hal sederhana seperti menjaga kebersihan saja sudah sangat besar sumbangannya untuk meningkatkan wisata di Indonesia. Bravo kak
))
November 15th, 2011 at 3:04 pm
pantes aja mereka tetap terpuruk.. caranya seperti itu..
sptnya cuma bali yang bisa mengelola wisatanya dengan baik walaupun disana ada anak2 & ibu2 yg suka jualan maksa..
November 17th, 2011 at 2:59 pm
Eh, emang begitu peraturannya utk foto harus bayar… penulis tuh harusnya tahu jika motret itu bayar, gak usah jadi dramaqueen gitu.
December 20th, 2011 at 2:19 pm
saya dan keluarga 6th jg pernah mengalami hal serupa waktu ke Trunyan, Bali. sewa kapalnya waktu itu 350rb PP (msh ok lah untuk waktu perjalanan 30menit, PP jdnya 1 jam)
tapi begitu disana kelar liat2 dan mau pulang, ditodong aja lohhhh suruh nyumbang buat upacara2 apalah itu, mau ngelak takut jg secara disitu isinya cuma org lokal. hadeuhhhhh rasanya kapoookkkk bgt (pdhl di-guide sama kenalan kita org Bali loh). ya mgkn emg banyak latar belakang knp mereka seperti itu.
tapi bener deh, pas ngalamin hal tidak mengenakkan kaya di atas ilang semua pikiran positif kita. hhh yg ada emosi dan ilfil dan pastinya ga akan rekome ke org lain untuk datang.
saya pribadi sih ga akan ke Trunyan lagi, kenangan “DITIPU” nya ga bisa hilang. mending sekalian ajalah pasang tarif kaya di Angkor Wat/Versailles yg sekali masuk $25 dan 25euro. lebih ikhlas sumpah :p
January 8th, 2012 at 9:08 am
karena yang begituan yg bikin saya malas datang ke Pampang..