The Naked Traveler

ABG gegar budaya

Ini sedikit catatan kisah hidup saya pas masih ABG, dimana saya pertama kali merasakan apa yang disebut “gegar budaya” alias culture shock. Pada akhir tahun 1980an, saat saya berusia 16 tahun (ketauan deh tuwirnya saya sekarang!), saya ikut kursus bahasa Inggris di Amerika Serikat. Selain setiap hari bakal kursus di sekolah, saya akan homestay alias tinggal di rumah keluarga lokal selama sebulan.

Berbahagialah orang yang besar di zaman sekarang dimana informasi mudah sekali didapat. Dulu ponsel aja belum ada, apalagi internet. Buku impor jarang ada, apalagi buku tentang perjalanan. Waktu itu saya tinggal di Sumatra, jauh dari peradaban ibu kota. Ngomong sama bule aja nggak pernah. Tayangan TV hanya dari TVRI, itu pun tak banyak mengenai dunia luar. Parahnya lagi, pelajaran Bahasa Inggris dimulai baru pas SMP, itupun hanya 2 jam seminggu. Jadi dengan bahasa Inggris yang masih superbelepotan plus bayangan Amerika adalah negeri para koboy, pergi lah saya sendirian ke Amerika.

Saya terbang sendiri ke Jakarta dengan menggeret koper, lalu dilanjutkan terbang ke Los Angeles. Baru kali itu saya merasakan naik pesawat selama lebih dari 20 jam! Dari Los Angeles, harus naik bus lagi ke kota San Buenaventura atau disingkat Ventura. Di sebuah lapangan parkir, saya masih ingat rasa gundah gulana ketika menunggu host parents yang akan menjemput. Duh, gimana coba kalau diajak ngomong bahasa Inggris? Lalu datanglah seorang bule tinggi besar, mirip Hommer Simpsons, menjemput. Ketika memperkenalkan diri, dia menyebut nama Dirk. Dari dulu kan saya diajari untuk tidak memanggil nama kepada orang yang lebih tua, jadilah saya canggung memanggil Dirk tanpa embel-embel “Oom”. Sama jengahnya ketika memanggil guru dan kakek-neneknya yang tanpa embel-embel “Pak, Bu, Kakek, Nenek”.

Dengan santainya saya masuk ke mobil lewat sisi kiri. “Are you driving?”, kata Dirk meledek. Lah, mana saya tau kalau di Amrik setir ada di kiri! Saya pun memutar arah. Memang tak mudah membiasakan diri. Berkali-kali saya juga salah nengok kalau mau menyebrang. Seumur hidup kan terbiasa menyebrang jalan tengok kiri dulu baru kanan. Ternyata di negara yang jalan mobilnya di kanan bikin canggung juga. Dirk menyuruh saya memasang seat belt. Saya jadi ketawa sendiri, dulu di Indonesia mobil aja jarang ada seat belt.

Rumahnya besar dan saya heran kok tidak ada pagar. Sampai di rumah disambut oleh istrinya, Evelyne, dan ketiga anak lelakinya, Dirk (15 tahun), Bill (13), dan Sean (11). Aneh banget kok nama bapak dan anak bisa sama gitu. Mereka tinggi-tinggi dan besar, jauh dengan anak-anak Indonesia. Saya masih ingat betapa salah tingkahnya saya ketika Evelyne menyuruh anak-anaknya, “Give her a hug”. Zaman dulu cupika-cupiki aja belum ada karena belum dipopulerkan Habibi, eh ini saya disuruh pelukan erat dengan para pemuda sebaya yang belum kenal. Karena bingung, tangan saya sampe tabrakan, pipi pun nggak tau mau ditempel di mana.

Setiap hari jam 4 pagi, ketiga host brothers saya sudah bangun. Umur belasan gitu mereka bekerja sebagai loper koran dengan menggunakan sepeda masing-masing! Hebat bener, padahal mereka bukanlah keluarga yang berkekurangan. Jam 8 pagi kami sekeluarga sarapan bersama. Sebelum berangkat ke sekolah, saya dibekali kantong kertas berisi roti sandwich, yogurt, buah, dan sekaleng soda. Tiap siang saya selalu kelaparan karena tidak biasa tidak makan nasi. Makan malam pun biasanya pasta atau kentang, ditambah daging dan salad. Setiap haus, saya otomatis mencari botol air minum di dalam kulkas dan selalu ‘ketipu’ karena itu adalah plain soda. Sedangkan kalau mau minum air putih ya harus langsung dari kran, mana kran yang terdekat dengan ruang makan adalah kran di tempat cuci piring lagi. Herannya lagi, keluarga ini setiap haus minumannya Coca Cola. Minumnya pun langsung glek-glek dan habis sebotol besar per orang.

Keluarga ini penggemar surfing. Pantai hanya berjarak 15 menit saja dari rumahnya. Hampir tiap malam saya diajak surfing dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. Awalnya saya bingung, kok berani surfing malam-malam. Rupanya kalau musim panas di sana mataharinya tenggelam lebih malam. Tapi airnya brrrr… dinginnya! Saat weekend, saya diajak piknik di taman, nonton film anak-anak di bioskop, diajak main American Football, main bowling, atau ke rumah kakek-neneknya di luar kota. Rupanya keluarga ini penganut agama Kristen Mormon yang taat. Sebelum makan dan sebelum tidur, kami berdoa bersama. Setiap hari Minggu, saya dan host brothers ke Sekolah Minggu di gerejanya. Saya tambah heran, ternyata alkitab Mormon beda.

Pada perayaan 4th of July, kami sekeluarga piknik di pinggir pantai menonton pertunjukkan kembang api. Sekali lagi saya kena gegar budaya. Evelyne bercerita tentang anak tetangga yang diisengi temannya dengan menaruh petasan di tangannya yang terlipat di belakang sehingga meledak. Mendengarnya saya langsung tertawa terbahak-bahak karena membayangkan adegan ala Warkop. Sampai saya tersadar ketika semua diam dan pasang tampang kenceng. Evelyne pun berkata, “It’s not funny, you know.” Ups, berbeda sense of humor nih!

Hari terakhir, sekolah kami mengadakan pesta perpisahan dimana kami mengundang host family masing-masing. Alhasil setiap murid berlatih untuk pertunjukan, saya aja ikutan vocal group. Malamnya kami berdandan abis, eeh.. para host family datang dengan cueknya pakai kaos dan celana pendek. Bagi kita kan yang dinamakan pesta itu penting, apalagi judulnya perpisahan. Di sono mah nyantai-nyantai aja. Besoknya keluarga itu melepas kepulangan saya dengan tangisan dan pelukan lama. Saya jadi ikutan nangis juga, setelah terakhir nangis pas saya masih SD.

Efeknya, perkembangan bahasa Inggris saya memang maju pesat. Karena di sana tiap hari tidak ada yang bisa diajak ngomong bahasa Indonesia, jadilah saya terpaksa bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Tapi lebih dari itu, tinggal bersama Keluarga Boon di Ventura merupakan salah satu fase terpenting dalam hidup saya. Sebulan kemudian, tulisan saya mengenai pengalaman ini dimuat di Majalah Mode. Itulah pertama kali saya mendapatkan honor sebagai penulis, masih lewat wesel yang diambil di kantor pos pula.

45 Responses to “ABG gegar budaya”

  1. July 30th, 2010 at 3:28 am

    fatahnf says:

    menarik bgt..*meneruskan membaca*

  2. July 30th, 2010 at 4:24 am

    Tweets that mention Postingan blog The Naked Traveler terbaru ttg “ABG Gegar Budaya” — Topsy.com says:

    [...] This post was mentioned on Twitter by Ollie and tettyschoe, trinitytraveler. trinitytraveler said: Postingan blog The Naked Traveler terbaru ttg "ABG Gegar Budaya" http://bit.ly/cY831o [...]

  3. July 30th, 2010 at 6:25 am

    Nico says:

    Huebatttt… sebulan bisa cas cis cus. Teman saya kuliah di Australia 2 tahun, bahasa Inggrisnya masih kacau balau tuh. Wong di sana ngumpul terus dengan sesama orang Indon hehehe…

  4. July 30th, 2010 at 7:47 am

    Cipu says:

    Huah hebat hebat… masih sangat jarang lho yang berani melakukan homestay seperti itu di tahun 80-an. Ckckckckck, kagum……..

    Btw, komunikasi dengan Dirk and family masih terjalin kan?

  5. July 30th, 2010 at 8:24 am

    nadhika says:

    Hmm..enaknya…dari dl pengen bisa ikutan homestay di luar gitu mbk…..

  6. July 30th, 2010 at 1:28 pm

    nanda says:

    wah, emang ini cara yg paling efektif utk bisa bhs inggris, jadi pengen . . .

  7. July 30th, 2010 at 1:40 pm

    zahra pencerita says:

    asoy bgt sih.
    eh, tp triniti nggak terlihat setua umurnya kok. hehe. beneran.

  8. July 30th, 2010 at 1:45 pm

    rosy says:

    sudah satu semester saya di boston. walo udah cukup lama [bagi saya itu lama] setiap dengar kawan saya ngobrol english, kuping ini belum tersetting untuk kecepatan mereka ngobrol.
    apa lagi ada slang languagenya, bikin saya mual denger english di sini..
    17 jam dengar english bukan hal yang mudah.

  9. July 30th, 2010 at 4:07 pm

    Leia Sulqi says:

    Sampe sekarang klo denger slang english masih gak paham juga hehehehe…

  10. July 30th, 2010 at 7:02 pm

    yulia says:

    wah mba Trinity dr abg dah ke amrik.iya sih kalo pengen cepet bisa harus berada di lingkungan berbahasa inggris

  11. July 30th, 2010 at 8:51 pm

    friska says:

    wow.. pengalaman yang sangat berkesan di usia 16 tahun ya. sayang usia gw udah kelewat hihihi

  12. July 31st, 2010 at 12:12 am

    Syba says:

    saya sangat suka kata kata “It’s not funny, you know” memang berbeda dengan budaya kita seperti tertawa diatas penderitaan orang lain ha ha ha teman jatuh kita malah tertawa kan.

  13. July 31st, 2010 at 6:21 am

    Suty says:

    Wah,…ngebayanginnya aja seru dan lucu banget ya,…

  14. July 31st, 2010 at 10:43 am

    astarie says:

    enakna h0mestay d’umur 16 thn,,jdi pngen..

  15. July 31st, 2010 at 7:51 pm

    anis says:

    Emang bakat bener niy Mbak T..
    Bakat nulis ma bakat jalan2 bgt,dari orok kayanya
    Pengen bgt deh jd mbak.
    U’r inspiring mbak T!! (ga enak klo ga pake mbak)

  16. August 1st, 2010 at 8:31 am

    kerja sampingan says:

    wow…pengalaman yang luar bisa. Salut deh…umur segitu sudah berani ke luar negeri

  17. August 2nd, 2010 at 1:06 pm

    Si Codet says:

    Baru tahu kalo gegar budaya itu bahasa indonesia-nya culture shock. haha.

  18. August 2nd, 2010 at 2:00 pm

    duma says:

    HEBAT….DARI KECIL NALURI JALAN”NYA DAH KELIATAN MBAK

  19. August 2nd, 2010 at 9:48 pm

    Merry go Round says:

    woooowww… umur 16 taun aja udah menjelajah Amrik sendiri. Pantes aja gedenya jadi gatel jalan2 mulu ;) Saluuuuttt…. Keren ihhhh….

  20. August 3rd, 2010 at 2:49 pm

    irine says:

    wahh uda dari 16 tahun ke amrik sendiri hebaat :D dan saya baru tahu kalo gegar budaya itu culture shock hahaha…. pengalamannya seru mbak! ;D

  21. August 4th, 2010 at 7:15 am

    Fairy says:

    Wow..4 thumbs up for Mbak T..Keren bgt, euy…umur segitu dh berani ke Amrik sendiri..salut..salut..very inspiring!!!

  22. August 4th, 2010 at 11:40 am

    Diana says:

    Cool!

  23. August 4th, 2010 at 11:57 am

    travel jakarta bandung says:

    gegar budaya, istilahnya keren banget mba

  24. August 4th, 2010 at 3:01 pm

    Puput says:

    waaaahhhh…..keren. Jadi pengen banget ke luar negeri.
    Hahaha pengalaman yang lucu dan tak terlupakan nih!

  25. August 4th, 2010 at 3:54 pm

    koko2u says:

    Jadi ingat dulu, waktu kelas 2 SMA setiap ulangan Bahasa Inggris sama pak Agus Gembira Munte sering dibantuin teman yang duduknya di depan saya. Tapi waktu kelas 3 duduknya udah jauhan, jadi gk pernah bantuin saya lagi kalau ulangan Bahasa Inggris..

  26. August 4th, 2010 at 4:01 pm

    yozman says:

    wahh..edisi majalah mode yg nampilin ceritaini masih ada gak ya?? harganya bisa mahalnih..barang langka..

  27. August 4th, 2010 at 5:10 pm

    Bobby says:

    Wah..perjalanan hidup yang menarik mbak..

  28. August 4th, 2010 at 8:28 pm

    Nella says:

    semua tulisan mba T daku sukaaaa, menginspirasi dan paling penting ngokil abis :) :D

  29. August 4th, 2010 at 10:56 pm

    ambar says:

    (tercengang)

    (berfikir)

    (menyimpulkan)

    makin kuat keinginan saya: harus bisa sekolah di luar negri!!!

    (mikir lagi: komen saya nyambung gak ya?)

  30. August 5th, 2010 at 7:03 pm

    idham biro jasa SIM-STNK-PASPOR says:

    woowww..keren..dari jalan-jalan bisa reportase…hebatt

  31. August 7th, 2010 at 12:43 am

    laym says:

    ngiri abis….^_^… middle namenya trinity pasti ‘blessed lucky’ deh…hohohohoho

  32. August 9th, 2010 at 9:42 pm

    Mbah Jiwo says:

    bakat sejak muda sudah kelihatan…pengen bisa jalan2 seperti mbak…

  33. August 11th, 2010 at 7:12 pm

    widie says:

    jadi teringat tahun ‘87 saya juga pertama kali tinggal di amerika, waktu itu masih SD dan sama sekali gak bisa bahasa inggris, dua hari setelah datang saya langsung aja “diceburin” sama orangtua saya ke public summer school dan cuma berbekal kalimat “I’m sorry I don’t understand” jadinya selama beberapa hari disekolah setiap kali diajak ngomong orang saya selalu ngomong “ayem sori ai don ander-sten” hahahaha…

  34. August 12th, 2010 at 9:19 am

    ayas says:

    o begono awal2 titik baliknya ya mbak,,

  35. August 14th, 2010 at 8:52 am

    Fauzi Js says:

    suka banget tulisan yg ini:

    -Mendengarnya saya langsung tertawa terbahak-bahak karena membayangkan adegan ala Warkop. Sampai saya tersadar ketika semua diam dan pasang tampang kenceng. Evelyne pun berkata, “It’s not funny, you know.”-

    wkwkwk lucu banget!
    keep posting great stories, mbaak!

  36. August 14th, 2010 at 1:57 pm

    angelina noah says:

    Inspiring n bikin ngiri abis
    Hehehehhe…

  37. August 14th, 2010 at 5:36 pm

    yanti says:

    Wah, pantesan ya dr jaman jadul udah ke luar, ke amrik lagi ..hebat2 euy…ngomong2 klu mau ikut program homestay gimana ya mbak?…4 thumbs dah pokoknya

  38. August 15th, 2010 at 2:12 pm

    Ifan Jayadi says:

    Wah hebat, umur masih abg tapi hidup mandiri di negeri orang. Majalah Mode, aduh, jadi ingat masa2 SMP SMA gitu. Masih ada nggak ya? :roll:

  39. August 20th, 2010 at 8:57 am

    Ratih says:

    hahaha…lucu banget sih pengalamannya Mbak :)
    Kalo kita skrg karena ada couchsurfing, jadi lumayan punya pngalaman ber cas cis cus pake bahasa inggris ma mrk, gak perlu jauh2 datengin krumahnya di Amerika sana hehe

  40. August 21st, 2010 at 12:55 am

    Kojack says:

    amerika menyenangkan kan kak?
    keluarga amerika banget tuch kak. Hehehe

  41. August 23rd, 2010 at 7:14 pm

    dida says:

    nice..

  42. August 24th, 2010 at 1:32 pm

    rizz says:

    KYAAAAAA, pengen mbak, pengeeeen BGT!!!!

  43. August 25th, 2010 at 5:40 pm

    Arifin says:

    Suruh gantian klwrga Dirk yg k Indonesia donk. Bikin pembalesan gegar budaya Indonesia kpd mereka,ha3^

  44. September 1st, 2010 at 4:26 am

    freya says:

    saya umur 15 tahun sudah coba homestay, dan jadi ketagihan travelling sampe sekarang :)

  45. September 2nd, 2010 at 3:12 am

    Lief says:

    1989 – 16 = 1973…

Leave a Reply