Sirik sama pariwisata Thailand
Beda banget sama gaya blogger yg pake kamera saku
Thailand mengklaim ada 15 juta turis asing per tahun yang berkunjung ke negaranya. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 6 juta. Setiap kali ke Thailand di bagian manapun, saya tak habis pikir bagaimana negara itu kok bisa rame banget sama turis. Padahal menurut saya, keindahan alam dan kebudayaan Indonesia tak kalah sama Thailand yang luasnya hanya seperempat dari luas Indonesia. Memang sih ada banyak faktor yang menyebabkan pariwisata kita kalah jauh, tapi tulisan ini adalah wacana baru yang menarik bagi kita semua.
Lagi heboh kerusuhan Bangkok pada akhir Maret 2010 lalu, saya malah dapat undangan dari Thailand Tourism Authority untuk menghadiri perayaan ke-50 ulang tahunnya. Bukan cuma saya, tapi juga 500 orang wartawan dan blogger dari seluruh dunia. FYI, saya aja tidak pernah diundang oleh Budpar Indonesia untuk kepentingan apapun. Kami dikumpulkan di ballroom hotel mewah untuk mendengarkan presentasi tentang pariwisata Thailand yang meng-cover berbagai macam segmen, termasuk niche-market. Acara dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Olah Raga Thailand, Mr. Chumphol Silpa-archa yang sangat bangga mengatakan bahwa pariwisata Thailand merupakan tulang punggung perkembangan sosial dan ekonomi negaranya. Selanjutnya ada presentasi bertopik “Today’s Trends, Tomorrow’s Tourism” (maksudnya apa saya nggak ngerti) selama seharian, tapi bikin saya tambah miris dengan pariwisata Indonesia.
Pertama tentang Medical Tourism. Thailand saat ini menjadi pilihan untuk berobat. Tak disangka, Thailand udah canggih bener pengobatan dan fasilitas kesehatannya. Kelebihan Thailand dibanding Singapura dan Malaysia yang sama-sama menjual medical tourism adalah harganya paling murah – dan mereka tak malu mengakuinya. Kendala bahasa yang ditakutkan oleh para turis (you know deh bahasa Thailand yang begitu) pun diatasi dengan menyediakan penterjemah khusus atau dokter-dokter asing yang tersedia di Rumah Sakit. Programnya mulai dari check up sampai operasi plastik. Sementara kita? Fasilitas sih boleh lah, tapi tingkat kepercayaan terhadap dokter dan rumah sakit kurang. Orang kita sendiri lebih percaya sama dokter luar. Mau komplen aja takut dipenjara kayak Prita.
Presentasi kedua bikin sirik lagi. Thailand menawarkan Community Based Tourism artinya pariwisata berbasis komunitas, seperti tinggal bersama penduduk desa. Di sana turis dapat tinggal di rumah penduduk lokal, belajar memasak, belajar bertani, membantu mengajar di sekolah setempat – mirip kayak program KKN tapi untuk turis asing. Selain menambah devisa negara juga turut meningkatkan perekonomian penduduk desa. Padahal sebenarnya kita bisa melakukan hal seperti itu, tapi Thailand mengemasnya dengan baik dan terintegrasi. Ternyata paket ini laku oleh anak-anak SMA dari Eropa.
Presentasi ketiga adalah tentang Experiential Travel. Katanya trend pariwisata kini telah berubah, dari destination based tourism ke activity based tourism. Biasanya kan turis – apalagi yang ikut paket tur – perginya ke destinasi umum, seperti ke candi ini candi itu atau ke pantai A, B, C. Makanya Thailand menawarkan rock climbing, trekking, caving, scuba diving, golfing, biking, rafting, dan –ing tourism lainnya, yang fokus kepada partisipatif, pengalaman yang baru dan berkesan. Ditambah lagi promosi lewat social media yang dipercaya lebih mantap dalam memberikan testimoni. Ah, tentu di negara kita ada dan banyak bukan? Tapi rasanya yang kayak gini kurang dipromosiin ke luar deh.
Yang tambah menganga adalah presentasi terakhir tentang Intelligent Luxury Tourism. Dibeberkanlah resor-resor cantik yang letaknya di tempat tersembunyi di pulau, di tengah hutan atau di pegunungan. Fasilitasnya bukan lagi kamar mewah atau kolam renang cantik, tapi punya bioskop privat di bawah bintang dan rumah-rumahan di atas pohon. Kelebihan resor pun dilabeli dengan environmental friendly, seperti fasilitas air minum yang disuling sendiri sehingga tidak menggunakan botol plastik atau makanan dan spa organik. Nah ini dia, pariwisata mereka juga mencakup segmen kelas atas. Di negara kita sih banyak banget resor mewah, tapi sepertinya promosi hanya dilakukan secara sporadis dari masing-masing pemilik/manajemen resor sehingga tidak terintegrasi dengan baik. Kelebihannya pun masih berkisar di mewahnya fasilitas.
Saya salut bahwa Thailand tidak sungkan untuk meng-hire para expat dalam mengerjakan proyek-proyek pariwisata ini. Contohnya aja, pembicara presentasi itu empat-empatnya orang bule. Menurut saya penting karena selain dapat keahliannya, mereka lebih dapat menyesuaikan dengan selera turis asing. Sementara kita? Kalo ada pejabat bule aja, sering dituduh “gitu aja kok pake bule, emang orang kita ga ada?”. Belum lagi fokus pariwisata kita masih aja berkutat di Bali lagi Bali lagi – sampe Menbudpar pun sepertinya harus dari Bali. Well, saya memang tidak tahu dengan pasti program apa yang dilakukan oleh Departemen Pariwisata kita, tapi saya harus akui pariwisata Thailand jauh lebih maju.






June 30th, 2010 at 10:55 pm
wow,,,kita gk ada setengah nya berarti ya untuk jumlah wisatawan. Dari beberapa poin yg dipaparkan diatas,,sepertinya gk ada salahnya untuk dicoba diIndonesia, dengan beberapa modifikasi. Btw, mba trinity pernah kirim surat atau apa gitu mengenai saran ke Kemetrian Budpar kita ? kali aja bisa memberi sumbangsih dari sebuah ide anda.
June 30th, 2010 at 10:59 pm
kalo menurut saya mereka juga pinter menutupi kekurangan mereka. kalo tau aja bangkok macetnya parah lebih parah dr jakarta malah (padahal bangkok udah pny skytrain lo) ditambah lagi kerusuhan yg baru2 ini. kemudian mereka sigap menutupi smw itu dgn paket2 promosi yg menarik.
June 30th, 2010 at 11:20 pm
Tweets that mention Sirik sama pariwisata Thailand » The Naked Traveler — Topsy.com says:[...] This post was mentioned on Twitter by Mizz miu miu. Mizz miu miu said: Sirik sama pariwisata Thailand http://bit.ly/bdwHeQ” I love Phuket more than Bali. [...]
June 30th, 2010 at 11:58 pm
Saya yakin dari dulu bahwa Indonesia bisa lebih dari ini. Permasalahan di Indonesia terlalu banyak pihak yang mementingkan kantong jajan dan perut. Tentunya dikarenakan kurangnya pemasukan yang akhirnya menyebabkan sulitnya berkembangnya hal-hal seperti diatas ini. Simplenya; ga mikir panjang… yang penting gue dan gue…
July 1st, 2010 at 9:58 am
Cuma satu kata: anjiiiiiirrrrr……
-ing tourism itu kan ada semua di Indonesia dan saya yakin lebih canggih. Saya pernah diving bareng diver Thailand di Bali. Wkt saya tanya, di mana di Thailand yg paling bagus buat diving? Dia jawab dg mantap, “Ngga ada. Kamu org Indonesia diving di Indonesia aja udah cukup.”
Bangkok pun lebih tricky dr Jkt. Penipuan terorganisir spt org di jalan yg sok2 baik ngasih tau ini-itu dan mengarahkan kita ke supir tuk2 dan ujung2nya ke toko gems, itu mewabah bgt di Bangkok, tapi nggak ada di Jkt yg kayak gitu.
Hhhh…. apa yg salah dg Depbudpar kita ya? Gemesss!!
July 1st, 2010 at 1:53 pm
Banyak hal yang membuat tourism Thailand lebih menarik, salah satunya adalah Medical Tourism seperti yang di sebutkan harganya paling mahal.. eh salah PALING MURAH. Saat liburan ke Thailand tahun lalu saya sempat kenalan dan jalan dengan seorang traveller dari Jerman yang memanfaatkan fasilitas ini. Dia cerita kalau dinegaranya, dia dapat jatah medical check-up tahunan gratis dengan harga yang sudah fixed. Biayanya tentu saja dari hasil dia bayar pajak setip tahun. Dan yang menarik, jatah medical check-up ini bisa dilakukan di negara lain dan dia bisa meng-claim sisa biayanya kalau ternyata biayanya itu lebih murah dan apa yang ada di Thailand ini dimanfaatkan sama dia dan dia bilang harganya jauh dibawah harga yang ada di Jerman.
July 1st, 2010 at 3:47 pm
Mmmm… ya gitu deh Indonesia. Entah apa yang salah..?? Apa yang diurusin juga gak jelas!! walaupun aku belum menjelajah setiap lekuk sudut Indonesia, tapi aku bisa bilang (yakin!) alam Indonesia terbaik di dunia!!
Jadi inget tulisan Trinity “PULAU INDAH TERJAJAH” lama2 anak cucu kita tidak lagi bisa dengan bangga bilang INDONESIA TANAH AIRKU!!
July 1st, 2010 at 4:26 pm
Kalo saya jadi mentri pariwisata Indonesia, saya udah angkat mbak T jadi staf ahli saya. Gemes liat pariwisata Indonesia yg gak ter-publish keluar dan gak dikelola secara optimal. Apa mungkin karena isinya departemen pariwisata itu gak ada yg seahli mbak T ya
July 1st, 2010 at 5:06 pm
mbak di desa wisata sleman yogyakarta juga punya tuh program begitu..termasuk tinggal di desa untuk turis yang thailand juga jalankan..tapi ya memang promosinya masih kurang..terus terang saya juga sirik sama thailand!!!!!! we can do better that that…
July 1st, 2010 at 9:34 pm
hik…hikk..hikkk( memang sedih melihat tapi tidak bisa berbuat apa2, paling2 mulai dari diri saya sendirilebih menghargai bangsa ini)yg rame video syur, KPK( miris terus), tapi saya juga ha..ha..ha..( trinity sdh jadi seleb internasional) banggalah aq, Moga2 kelak Trininty bisa jadi menteri par-nya Indonesia.
July 1st, 2010 at 11:13 pm
Selalu cinta dengan Thailand, selalu ingin berkunjung kesana, dan tambah mupeng lagi setelah baca tulisan iniiii….Banyak banget yg bisa dicoba disana.
Ah, semoga Indonesia juga bisa berinovasi dalam bidang pariwisatanya ya.
July 2nd, 2010 at 1:10 am
setuju dengan trinity, pemerintah thailand lebih kreatif dan inovatif dalam mengemas pariwisata negaranya. april lalu saya berkunjung ke phuket dan menemukan sejumlah fakta bahwa wisata alam yang ditawarkan sebenarnya biasa saja, tapi memang kemasan dalam brosur yang “wah” serta mudahnya mendapatkan informasi tujuan wisata mampu membuat saya (mungkin juga anda) menjadi terpancing dan “bergairah” untuk mengunjungi banyak lokasi wisata dan melakukan aktivitas “-ing tourism” yang ditawarkan. padahal secara overall, menurut saya, patong beach masih kalah dengan kuta dan pantai2 lain di indonesia, denpasar lebih happening daripada phuket town. memang saya akui oke adalah keindahan phi phi island, yang mana saya sepakat kalo raja ampat juga ngga kalah bagus cuma emang kalah beken daripada phi phi
July 2nd, 2010 at 7:55 am
satu hal yang penting, semua masyarakat thai sangat bangga dan cinta pada tanah airnya. dimanapun mereka berada, mereka selalu membangga-banggakan, mempromosikan semua kelebihan-kelebihan negaranya. saya rasa ini salah satu point keberhasilan dr pariwisata mereka juga.
July 2nd, 2010 at 3:39 pm
itu memang sangat membuat kita semua merasa syirik dan ingin melakukannya di negeri kita tercinta ini. terima kasih atas infonya, ini akan menjadi pelajaran bagi kita semua dan pemerintah tentunya.
July 2nd, 2010 at 4:24 pm
info bagus mbak
July 3rd, 2010 at 10:47 am
Saya juga miris baca postingan mba yg ini. Kita memang banyak tertinggal dari negara2 tetangga. Ga usahlah dulu disandingkan dengan Singapore atau Malaysia yang emang concern dengan pariwisatanya.
Lha negara kita? Dibandingin Thailand saja masih sebagian kecil.. huh! Kapan pemerintah kita benar2 serius ya menggarap pariwisata kita. Kayaknya menbudpar kita mesti traveler kyk mba T ini..
Aku pun heran kenapa hanya bali dan bali yang dikembangkan. Saya sendiri udah bosen ke bali..huhh.
Nice post mba. Like This..
July 3rd, 2010 at 11:18 am
Hahh… capek deh… Emang miris dengarnya. Lebih bikin sirik lagi kalau udah lihat langsung ke Thailand nya.
Emang bener tuh. Saya heran banget, kalau saya banding2kan Indonesia dan Thailand itu nggak beda-beda amat, tapi kok turis2 yang ke sana rame banget ya? Ampe ke plosok2 desa yg kalau saya pikir nggak beda dgn kampung2 di Indonesia, sederhana. Apalagi di Bangkok, ke mana mata memandang nggak lepas dari adanya turis.
Orang Thai pun unggul dan nyadar dengan ‘eksistensinya’ sbg negara pariwisata. Ramah,murah senyum,sederhana. Yah, kita memang masih harus banyak belajar, lebih penting lagi segera bertindak
July 3rd, 2010 at 11:51 am
Mari kita dukung Mbak T supaya jadi menbudpar Indonesia
agar dapat membuat indonesia terkenal di dunia
July 3rd, 2010 at 3:35 pm
Tweets that mention Sirik sama pariwisata Thailand » The Naked Traveler — Topsy.com says:[...] This post was mentioned on Twitter by TrinityNakedTraveler, Wara Yustikasari. Wara Yustikasari said: Tulisan yang menarik dari mbak @TrinityTraveler tentang 'dahsyatnya' pariwisata Thailand—> http://tinyurl.com/33wapd6 [...]
July 3rd, 2010 at 3:57 pm
sepertinya duta pariwisata kita butuh orang kayak mbak T. tidak ada kata terlambat untuk perubahan dan perbaikan…
nice natural with visit Indonesia…, believe it!!!
July 3rd, 2010 at 11:18 pm
Mbak T for menbudpar.Gak harus asal Bali buat jadi menbudpar..,buktinya gebrakan JW itu apa seeh….Yang penting kreatif innovatif buat kemajuan pariwisata indonesia
July 4th, 2010 at 3:39 am
ya saya dua kali ke thailand ( yang pertama ke phuket dan bangkok, yang ke dua kali ke bangkok saja) dan emank bener, disana bulenya /wisman dari asia (korea dan jepang terutama) buanyak bener, apalagi kalo jalan ke khao san, ampun bule semua, sama di phuket rata banget penyebaran bulenya (mirip bali), lah di jakarta yang katanya modern banget malah jarang liat bule, di bangkok lokasi wisatanya justru hal hal yg kuno seperti candi-candi dan kegiatan tradisional lainnya sperti pasar apung dll..
perbedaan pelayanan terhadap turis aja udah beda banget sejak kita injek kaki di bandara udah tersedia peta-peta gratisan (di singapura juga begitu), ada shuttle bus dari bandara untuk ke lokasi-lokasi yg memank turis banget, moda transportasinya pun banyak dan unik ( perahu bo!! hehehe)
lah kalo di jakarta, wah.. delman sama becak udah diusir-2, padahal kan ramah lingkungan dan bisa menjadi daya tarik tersendiri.. terus dulu ada lah progam visit Indonesia, tapi jujur aja , kaya program main main gak ada serius-seriusnya.. minimal saja deh, taro peta gratisan dan buku panduan kecil biar turis / ekspat yang mampir ke jakarta tahu ada apa aja di Jakarta, itu aja udah membantu banget, tapi pemerintah kayana gak mau serius nanggepin hal itu, atau mungkin dananya udah abis buat bikin website yang katanya miliaran itu kali yah… wew…
July 4th, 2010 at 3:44 am
oh yah , disana memank macet , tapi tetep lebih macet disini jauh lebih parah dan disini (jakarta) bonus asap kendaraan + klakson dan teriakan gak penting ..
jadi yang bilang disana lebih macet dari jakarta, hm……
July 4th, 2010 at 11:30 am
pinter juga thu Thailand soal promosiin pariwisata mereka..
coba menbudpar kita lebih kreatif dalam mempromosikan pariwisata kita,,agar para turis mengenal Indonesia tdk hanya pulau Bali saja tetapi Indonesia memiliki keanekaragaman pariwisata yang layak dikunjungi dan tentunya tdk kalah dgn Thailand..
July 4th, 2010 at 1:26 pm
hmmm pariwisata based community and activity emang amat sangat menarik, di indonesia sebenernya udah ada juga at least aku baru dengar 2 yaitu di desa waerebo manggarai flores (info dari teman yg pernah trip kesana dan menikmati fasilitasnya, juga pencapaiannya yg musti trekking 3 jam, so fantastis krn tinggal di rumah adat asli dan ikut terlibat aktivitas sehari2 penduduk sana dg bayar rp 350rb per malam udah dapet makan lengkap plus akomodasi lain), serta desa yg di sleman yogyakarta itu…
utk membuat wisata kita makin “kinclong” baik bagi kita juga yg dr luar, emang seharusnya masing2 kita bisa berpromo buat negeri sendiri minimal kita coba explore dulu dan mencoba menikmati yg ada sambil memberi sumbang saran dan bantuan yg paling mungkin, dan kemudian kita ceritakan baik via blog pribadi, social media atau dr mulut ke mulut ke semua org yg kita jumpai…daripada nunggu pemerintah mulu bisa cape….heheh….
July 4th, 2010 at 3:42 pm
Semoga pariwisata kita bisa semakin lebih baik
July 4th, 2010 at 4:04 pm
memang bener kok, kita kalah sama thailand, rakyat disana rasa memilkinya kuat, contohnya, waktu demo duduki airport selama 2 minggu, tp fasilitas2nya gak ada yg rusak, wc, komputer, dll. coba di indon, semo beberapa menit aja, pagar2 dirusaki, kaca2 pecah, dll.
July 4th, 2010 at 7:00 pm
ya memang harus diakui kalo pariwisata thailand itu lebih bagus dari negara kita, akan tetapi yang bikin heran itu ko kayaknya peran pemerintah disini kurang, padahal klao tidak salah pemerintah kita mengadakan program visit indonesia 2010…
h,,,
July 4th, 2010 at 9:09 pm
Alhamdulillah, tak lagi bersedih batal ke thailand gara2 kerusuhan. So excited menyongsong perjalanan Komodo & FLores, makin yakin klo pasti lebih mantabbbbbb!!! yiiihaaaa….!!!
July 4th, 2010 at 9:28 pm
yap, setuju banget mbak,aku dah 3 kali ke thai and masih pengen nge-explore negara tu
sampe ke pelosok provinsi thailand utara di chiangrai dan mae hong son aja banyak bule,
bersih, ramah, jalanan ke mae hong son aja bagus dan lancar, kalo dibandingin ma jalan tol kita dari jkt ke surabaya mah masih kalah jauh.
July 4th, 2010 at 10:42 pm
iya ya baru kepikiran departemen pariwisata indo sebenernya ngurusin apa ya? gak pernah kedengeran ampe gue lupa kalo di negara kita sebenernya ada ya departemen pariwisata.
wow baru tahu mbak thailand ngeluarin program menarik seperti itu. wah jadi pengen kesana lagi nih hehe, dulu si pernah kesana tapi belom ada program seperti ini. pengen ngerasain yang Intelligent Luxury Tourism tuh keknya seru ya tinggal di resor diatas pohon. mungkin berasa kayak tarzan kali ntar =p hehehe….
July 5th, 2010 at 12:14 pm
Haeeeeeeeeeeee,,,,,, miris!!! Indonesia BISA banget lebih bagus dari Thailand tapi….. hiks…
btw, coba klo di blog mbak T ini ada fasilitas ‘Like’ seperti F***B**K, saya udah naro empat jempol deh hehehe…
July 5th, 2010 at 4:23 pm
promosi wisata indonesia jadi terkesan kuno banget
July 6th, 2010 at 12:34 pm
miris banget ya ternyata. pengen bantu sesuatu deh agar indonesia nggak terpuruk kayak gini. tapi bantu apa saya jg nggak tau mbak hehe
July 6th, 2010 at 7:44 pm
harus kita akui bahwa sebagian besar orang-orang Indonesia lebih mnyukai hasil yang instan daripada proses yang panjang. Thailand bisa kaya begitu karena programnya telah dijalankan sejak lama, tapi di Indonesia selalu gonta-ganti program tanpa hasil yang jelas…
July 7th, 2010 at 2:51 pm
Kenapa Kementrian BudPar gak menunjuk mba Trinity sbg ambassador dr Pariwisata kita yah??
Menurut saya akan sangat efektif promosinya..
Semoga pariwisata Indonesia lebih baik kedepannya.
July 7th, 2010 at 3:55 pm
Berkunjung lagi deh ke blog mbak trinity, untuk posting yang satu ini bener bener mengugah wawasan……… waduh pengenya membangun indonesia seperti thailand karena jujur di Indonesia nggak kurang banyaknya tempat tempat yang menarik bahkan lebih kaya dibanding thailand cuma masih secluded dan tak terurus. satu kekurangan kita, banyak yang buang sampah sembarangan…. sekarang jadi mengandai andai andai ku jadi orang kaya ha ha pasti nya pariwisata indonesia yang pertama kali dibangun karena banyak pulau pulau kecil indonesia yang indah sudah dikuasai oleh orang asing… tragis..
July 8th, 2010 at 6:54 pm
Padahal kan ukuran dia jauh lebih kecil kan ya?
July 8th, 2010 at 8:54 pm
Salah satu tujuan tourists ke Thailand/ Indonesia adalah Sunbathing.
Kalau sunbathing, ke Indonesia lebih efektif, karena terletak di bawah equator. Secara geografis, koordinat Indonesia lebih unggul ke Equator dibanding Thailand. Saya pernah guiding turis dari Hungary, dalam 2 hari kulit mereka udah terbakar.
Namun, gaya hidup mereka yaitu Nudist (untuk sunbathing) dan alkohol masih belum bisa ditolerir di Indonesia yang masih religius.
Sebetulnya ini bisa dicarikan alternatif dengan Ecotourism, karena Indonesia adalah MEGA-BIODIVERSITY. Pemerintah masih belum mengoptimalkan peluang eco-tourism, karena resikonya cenderung ke dampak lingkungan. Bagi para environmentalist, ini masalah kecil, tinggal political will dari Pemerintah. Namun, untuk mengusahakan ecotourism biasanya terkendala birokrasi perizinan yang harganya selangit, karena masalah AMDAL relatif bisa diminimalisir dengan banyaknya Ahli2 bersertifikat.
Indonesia juga unggul dalam hal kurs dibandingkan THB (Thai Baht), karena Indonesia di ASEAN termasuk kurs terkecil.
Apabila dianalisa dengan SWOT, dengan keunggulan Currency, Mega Bio Diversity dan Mega Culture, masyarakat sangat siap. Tinggal bagaimana political will pemerintah mengurangi biaya birokrasi perizinan (Kalau perlu, perizinan tourism sama biayanya dengan biaya KTP, dan biaya AMDAL di-PERMURAH), tetapi progressnya dilaporkan per bulan ke BLH, maka tourist akan berbondong2 ke Indonesia.
Ini masih hipotesa saya, silahkan diuji oleh para pejabat Pemerintah. Karena saya hanyalah environmentalist rakyat jelata, ha ha ha .
July 11th, 2010 at 11:45 am
Sebetulny kalau Indonesia pake sistem ini ad kemungkinan pariwisata Indonesia jauh lebih maju daripada sekarang. Bahkan harus diakui, Indonesia akan didatangi lh dr 6 juta atau 10 juta turis!
July 13th, 2010 at 6:09 am
Tambahan, mereka punya wisata sex juga
July 13th, 2010 at 11:50 am
wah, kalo resort lux di Indonesia mah saya yakin nggak bakal kalah ama lainnya deh. liat aja seperti Bvlgari ama Aman Group, mereka invest di Indonesia juga kan? cuma nggak dipublikasikan gede2an aja.
tapi emang gw akuin kalo Thailand lebih sadar wisata dibanding Indonesia, baik pemerintah ato masyarakatnya sih yaaa…
July 15th, 2010 at 1:20 pm
Weeehhh…. Sudah jangan sirik dan gak usah nunggu pemerintah (percuma) Tapi apa yg bisa kerjakan dgn teman2 ayo kerjakan. Biar awalnya jelek tapi yg penting jalan dulu. Temen2 desa wisata di Jogja bisa mulai bikin website atau fanspage di Facebook untuk memasarkan desanya. Temen2 yg punya atau bersinggungan dgn usaha pariwisata juga ayo jalan. Saya ama teman2 di Surabaya mulai dgn membuat website kuliner di Surabaya. Mulai dari yg kecil dulu tapi kerjakan dgn hati. Kalo belum2 hanya mikirin untung sebesar2nya ya sama aja sama pemerintah. Facta non Verba….
July 17th, 2010 at 7:21 am
kpan y Indonesia bisa maju pariwisatanya dibandingkan negara lain di kawasan asia tenggara
July 19th, 2010 at 4:54 pm
Ayo mbak nyalon aja jadi mentri pariwisata berikutnya..
July 20th, 2010 at 6:14 pm
Jadi miris bacanya … saya udah hampir setahun tinggal di Pattaya, pantainya gitu2 aja tapiiii penuh turis dimana-mana … sampe bingung apa ya yang bikin mereka seneng dateng kesini? padahal pemandangan mah boro2 deh … negara kita menang jauh deh soal view … tapi disini emang lebih teratur penanganan pariwisatanya, plus masyarakatnya pun emang siap nerima turis walaupun bhs inggris mereka ‘ya ampun deh’ … kemana2 disini harga sama buat Thai dan non-Thai, kecuali tiket masuk beberapa tempat wisata emang dibedakan harganya… tapi yah jarang banget sih saya temuin orang yang mau nipu2 disini. Salut sama pemerintah mereka …bisa mengolah sesuatu yang biasa untuk menghasilkan … plus mental pemerintahnya juga …
July 22nd, 2010 at 2:35 am
Setuju banget, gregetan sama pariwisata Indonesia. Ayo para blogger mempromosikan wisata Indonesia melalui tulisannya…
Salam kenal ya
July 26th, 2010 at 2:56 pm
Sebenarnya pemerintah Indonesia juga rajin mempromosikan pariwisata Indonesia, tapi promonya langsung ke luar negeri dg ikut pameran wisata, pertemuan dg travel agent di luar, dsb, yang nyata2 BIAYA TINGGI. Soalnya kalo gak dg cara itu, PNS BudPar gak bisa jalan-jalan keluar negeri dooonggg…
July 30th, 2010 at 3:52 pm
No wonder . . .
No wonder thailand begitu
No wonder Indonesia begini
*eh jadi kaya puisi ya
July 30th, 2010 at 5:08 pm
iya bener, pengalaman saya pas berlibur kesana memang pariwisatanya no.1 yang dijual. Palagi begitu nyampe bandara yang di tawarin ramah dan getol sama orang2 pariwisatanya. begitu ikut tur lokal, saya dan sekeluarga di fasilitasi mobil tur,semacem alpard yang nyaman,(padahal kami nga minta soal ini loh) dan didalam mobil tur gede itu cuma hanya ada saya dan sekeluarga. Benar-benar nyaman dan private, tanpa khawatir dicereweti peserta tur lain, hehe…
August 6th, 2010 at 10:10 am
Udah deh gak usah ngiri sama orang, kita introspeksi dan perbaiki saja dulu kwalitas layanan dan fasilitas obyek wisata kita biar lebih banyak wisatawan asing berkunjunga ke Indonesia. Menurut saya sih Thailand bisa menarik minat lebih banyak wisatawan mungkin karena mereka menjual wisata sexual dan wisata mabok ganja. Saya tahu itu dari hampir semua bule yang pernah traveling ke Thailand. So what?
August 24th, 2010 at 1:04 am
Gua orang yg paling pesimis dan “hand up” untuk urusan wisata di Indonesia ( diluar Bali ) . Jangan dipikir jadi mentri budpar langsung bisa bagus semua . Wong teman saya yg Camat mau ganti Lurah-nya yg enggak bisa kerja saja, enggak bisa bagaimana mau memperbaiki 1 departemen di tambah 200 juta penduduknya yang pikirannya masih banyak yg “sempit” .
Kebutuhan dasar dari Wisata hanya satu yaitu keamanan . Enggak ada yang mau jadi turis di Indonesia kalau yang menonjol adalah Kebencian dan Kriminalitas . Kalau infrastruktur walaupun susah malah bisa dianggap “seni” dalam traveler . Kalau info nya tidak lenggkap juga bisa dianggap “seni” tapi kalau dirampok / dicuri / diancam atau kalau “salah sedikit” ditangkap aparat siapa yang mau datang ?
Contoh : Kebiasaan Ras China umumnya berpesta dan main judi kecil kecilan bersama kerabat pada Malam Tahun Baru Imlek . Mereka berkunjung ke Batam untuk bersenang dan pada malamnya berkumpul dikamar hotel sambil main kartu . Beberapa saat kamar mereka di gerebek oleh Polisi dan semua ditangkap karena berjudi tanpa mau tahu “Kwalitas” dan “kwantitas” judinya . Padahal hanya terpisah 1 jam perjalanan laut ( Sentosa island ) , mau berjudi sampai mata belek an juga enggak apa apa . Akhir dari kejadian tersebut , mereka bebas dengan “solusi yang umum berlaku di Indonesia ” he…he
August 25th, 2010 at 8:59 am
halo salam kenal…
.. tapi saya optimis dan percaya bahwa pariwisata di Indonesia bisa lebih maju dari negara apapun.
nama saya margy, skarang ini saya kuliah di Sekolah Tinggi pariwisata Bandung mengambil jurusan kepariwisataan.
Sebelum saya kuliah disini, saya hanya sekedar tahu menjadi wisatawan dengan menikmati fasilitas ini itu dan jenis wisata yg macam-macam.
akan tetapi, setelah belajar pariwisata di kampus STPB selama kurang lebih 3 tahun, saya baru tahu bahwa ilmu pariwisata sangat kompleks, baik dari segi management dan operasionalnya karena terhubung dengan hampir semua sektor. Bisa dibayangkan mengatur pariwisata Indonesia yang sebesar ini apalagi kita punya pulau banyak bgt
Sebagai contoh banyak destinasi pariwisata di Indonesia yang dikunjungi wisatawan asing tapi sebagai warga negara Indonesia kita malah ga tahu destinasi Pariwisata tersebut ternyata ada. Seperti Wakatobi di Sulawesi tenggara. Banyak yang bilang Bunaken indah pemandangan lautnya, tapi ternyata banyang diver asing mengatakan bahwa wakatobi sudah mengalahkan keindahan bawah laut di bunaken.
Nah itu hanya sebagai contoh, semoga saja pariwisata lebih bisa berkembang dan berbasis pada alam dan masyarakat.
August 26th, 2010 at 9:52 am
Utk memajukan sektor pariwisata d Indonesia lbh gampank kl d bwt hancur dl bru d bangun kembali,karena sektor sistem pariwisata Indonesia mmg dha hancur. Bukankah lbh gampank mnghancurin lalu d bangun kembali drpd mmprbaiki ap yg sudah trlanjur buruk^
September 3rd, 2010 at 12:48 pm
1. Letak Thailand di tengah benua asia dan lebih dekat dengan benua eropa yg penduduknya lebih punya “buying power”. Jadi ngak heran banyak turis datang ke Thailand.
2. Mentalitas orang indonesia yang beragam. Contoh : Bali lebih nyaman karena lebih aman daripada lombok ( banyak cerita turis kehilangan barangnya : ketinggalan tidak dikembalikan atau dicuri )yang keindahan pantainya jauh lebih bagus daripada Bali. Turis datang bukan semata-mata karena keindahan atau keunikan suatu negara tetapi juga rasa aman ( sangat penting karena jauh dari rumah mereka )
3. Infrastruktur ( ngak perlu komen lebih jauh lagi kan ? )
4. Peran Pemerintah ( masih perlu komen ? )