The Naked Traveler

4 generasi dalam 1 rumah

Terus terang, kalau saja saya tidak punya teman-teman sekolah orang India, rasanya tidak mungkin saya mau jalan-jalan ke India sendiri. Kalaupun iya, pasti India jadi prioritas terakhir. Karena diyakinkan oleh teman-teman saya itu, saya memberanikan diri. Mereka sampai bikin panitia khusus menyambut kedatangan saya dan saling menawarkan untuk menginap di rumahnya. Asyik juga ngerasain nginep di rumah keluarga India. Meski saya hanya bertemu mereka pada malam hari, karena siang harinya mereka kerja, tapi bolehlah untuk menghemat budget akomodasi setelah 2 minggu ngelayap sendiri di India.

Di Mumbai saya tinggal di flat milik Sapi (hush, memang begitu namanya! Kependekan dari Saptarshi). Karena istrinya baru melahirkan maka mereka pindah tinggal ke rumah mertua sehingga saya diperbolehkan tinggal di flat sendirian. Lokasinya bukan di tengah kota, tapi ada di Navi Mumbai – sekitar satu jam naik kereta api yang superduper umplek-umplekan. Flatnya bertingkat tiga, satu lantai ada 4 unit, dan rumah Sapi ada di lantai tiga. Bentuk flatnya mirip seperti rumah susun di Tanah Abang. Kamar tidurnya ada 2, tapi ruang keluarga dan dapurnya luas. Begitu nyampe, saya berencana pinjam mesin cuci karena semua baju udah kotor. Sialnya, cuci baju hanya bisa dilakukan jam 6 pagi. Buset, saya sampai pasang alarm demi bangun untuk memencet tombol. Rupanya di Mumbai terjadi krisis air. Kalau nggak pas jam 6 pagi maka debit air nggak cukup untuk cuci baju. Pantes aja kalo mandi, airnya kecil banget kayak pipis mengucur.

Besoknya saya diajak ke rumah mertua Sapi sekitar 15 menit naik bajaj. Flatnya bertingkat tujuh, lift-nya kuno banget yang pintunya hanya berupa jeruji besi. Rumah mertuanya berkamar satu, jadi setiap malam Sapi dan istrinya ngampar kasur di ruang tamu. Saat ibu mertuanya masak, saya sampe terbersin-bersin mencium bau masakannya dari dapur yang berjarak 2 meter dari ruang tamu. Rupanya bapaknya kerja di PBB dan sekarang ditempatkan di Afrika, malah pernah di Timor Leste. Saya kaget aja, kalau di kita kan pasti rumahnya udah gede banget.

Saya juga sempat main ke rumah teman-teman yang lain. Salah satunya Hussein yang beragama Islam dan tinggal di komunitas Islam. Masuk ke gerbangnya terpampang spanduk paket naik haji, nama-nama toko dan warung pun berbau Arab. Rupanya di India, harga rumah itu tergantung juga dari lingkungannya. Tinggal di lingkungan seagama harganya lebih murah. Di India terbagi antara komunitas Islam dengan Islam, Hindu dengan Hindu. Kalau mau tinggal di lingkungan campur, maka harganya lebih mahal. Hussein tinggal bersama istrinya yang sedang hamil 8 bulan dan ibunya. Meski dia seorang CEO perusahaan farmasi, namun rumahnya lebih parah daripada rumah susun Kebon Kacang. Bahkan tembok luar flatnya hitam karena catnya terkelupas plus hijau karena lumutan.

Saya juga ke rumah teman lain bernama Nilesh. Flatnya yang kecil hanya punya 2 kamar dan 1 kamar mandi, ukurannya sekitar 36 m². Tapi yang tinggal di situ adalah dia, istrinya, anaknya, ibunya, bapaknya, dan neneknya. Buset, 4 generasi dalam 1 rumah! Tidurnya bagaimana? Ya umplek-umplekan gitu deh. Begitu buka pintu rumah, langsung ada kasur besar tergelar di lantai. Padahal Nilesh berkerja sebagai manager di perusahaan selular no.1 di India. Saya tanya, kenapa orang tuanya tidak tinggal di rumah saudaranya saja? Nilesh menjawab bahwa di antara saudara-saudaranya yang lain, dialah anak lelaki yang ekonominya paling mampu. Sementara anak perempuan India yang sudah menikah tinggal di rumah keluarga suaminya. Apa rasanya ya jadi istri Nilesh?

Di Bangalore, 2 malam pertama saya nebeng di rumah Ana (nama boleh feminin, tapi dia lelaki tulen). Dia tinggal di kos-kosan bersama istrinya. Kos ini maksudnya rumah orang yang disewakan. Serumah ada 3 unit kos. Masing-masing unit ada 1 kamar, 1 kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Udah tau kamarnya cuma satu, eh masa saya disuruh tidur di kamar bersama istrinya. Tentu saya memilih untuk tidur di sofa ruang tamu. Itupun pintu kamar tidur mereka buka lebar-lebar saking nggak enaknya sama saya.

Karena mereka ada kawinan di luar kota, saya pindah menginap di rumah Roy. Berhubung dia pangkatnya tinggi, apartemennya yang berkamar 2 cukup luas dan bagus. Roy tinggal bersama istri dan anaknya berumur 3 tahun. Saya sampai nggak enak hati dipaksa tidur di kamar utama, sementara mereka sekeluarga tidur di kamar anaknya. Siang hari saat Roy ngantor dan istrinya ke salon, pembokatnya dateng. Si anak tidur siang di kasur, pembokatnya tidur di lantai! Ck ck ck…

Dari semua rumah yang saya kunjungi, paling bagus adalah apartemennya Udhi. Dia tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Sebagai direktur di perusahaan multinasional, maka dapat jatah apartemen yang paling bagus dan berlokasi strategis. Konon di Bangalore merupakan apartemen paling mahal, letaknya aja bersebelahan dengan hotel bintang lima di jalan protokol. Baru kali ini saya lihat toiletnya memiliki WC duduk. Di India memang biasanya memiliki WC jongkok yang mereka sebut “Indian toilet”. Saya pun diajak berkeliling kompleks yang terdiri dari 10 tower. Fasilitasnya lengkap, mulai dari restoran, tempat penitipan anak, gym, lapangan tenis, lapangan basket, sampai kolam renang. Lucunya, kolam renangnya ada dua. Satu untuk pria, satu untuk wanita – dan sore itu tidak ada satu orangpun yang berenang! Menurut saya, kalau disamain sama apartemen di Jakarta, apartemen yang paling mahal di sana malah kondisinya lebih buruk daripada Apartemen Rasuna.

Di Mysore saya nginep di rumah Nitha, istri teman sekelas saya yang sedang bekerja di Hongkong. Baru kali ini saya lihat rumah beneran yang menjejak tanah dan ada halaman. Mungkin karena Mysore adalah kota kecil. Rumahnya sendiri besar dan bertingkat dua dengan pilar-pilar dan korden berumbai warna merah mencolok. Yang tinggal di situ adalah Nitha, anaknya, kakaknya, iparnya, 2 orang keponakan, kedua orang tuanya, dan 3 orang pembokat. Karena rumahnya besar, ada salah satu kamar yang dikhususkan untuk puja (sembahyang Hindu) dengan gambar-gambar dewa, bunga, dan dupa. Anehnya, semua kamar mandi ada di dalam kamar tidur, sementara saya tinggal di kamar tamu yang satu-satunya kamar tanpa kamar mandi. Alhasil saat kebelet di malam hari, saya terpaksa mengendap-endap masuk kamar ibunya untuk buang air! Nitha baru melahirkan anak pertama. Kebiasaan di sana, kalau abis melahirkan si ibu harus pake baju tebal, pake kaos kaki, dan kupingnya disumpel kapas. Katanya supaya nggak masuk angin! Hihi, di India percaya juga masuk angin. Anehnya lagi, setiap malam saya diajak minum Brandy di kamar Nitha. Karena melahirkan secara caesar, mereka percaya bahwa operasi di dalam perut akan cepat sembuh bila minum alkohol. Lah, apa bayinya nggak mabok pas disusui ya?

42 Responses to “4 generasi dalam 1 rumah”

  1. June 11th, 2010 at 4:52 am

    Tweets that mention 4 generasi dalam 1 rumah » The Naked Traveler — Topsy.com says:

    [...] This post was mentioned on Twitter by Dian Adi Prasetyo, TrinityNakedTraveler. TrinityNakedTraveler said: Apa rasanya nginep di rumah keluarga di India? Baca http://bit.ly/b41tzn [...]

  2. June 11th, 2010 at 5:45 am

    Cipu says:

    Kalo di Indonesia beda, menantu banyak yang numpang di rumah mertuanya wakakakakak. Pisss

  3. June 11th, 2010 at 8:42 am

    Joe says:

    Perasaan jakarta udah sumpek kayak gini, eh ternyata ada yg lebih parah. Harus banyak2x bersyukur nih. Makasih ceritanya Mba

  4. June 11th, 2010 at 9:24 am

    pipit says:

    pantesan pas baca ceritanya saya merasa ada yang ga nyambung karena saya kira ceritanya tentang mobil.. ternyata saking buru-burunya tadi saya baca judulnya: 4 garasi dalam 1 rumah :P

  5. June 11th, 2010 at 9:27 am

    nadhika says:

    mbk…klu boleh tau kenapa walaupun mereka posisinya udah tinggi tapi masih tinggal di flat yang gitu?
    apa karena harga property di sana mahal?
    ato flat seperti itu di sana udh termasuk bagus?
    maaf ya klu pertanyaannya ga penting…habis penasaran se

  6. June 11th, 2010 at 10:27 am

    sulis says:

    wah segitu parahnya india yak….bersyukur bgt hidup di indo neh…..trus gue juga aneh soal brandy itu, gue rasa anaknya mabok n gede2nya bakalan kecanduan minuman dech he3…..

  7. June 11th, 2010 at 10:49 am

    FEbby says:

    xixixixiix….lucu n seruu juga cerita nya… berarti masih lebih lebi n lebih enak di Jakarta….

  8. June 11th, 2010 at 11:16 am

    citra says:

    waw pangkatnya tinggi tp rmhnya sederhana bgt. Ga kebayangan 1 rmh numplek segitu byknya. Harga properti mahal bgt kali y?? Berarti artis2nya tajir buanget bs bli rumah bkn apartemen

  9. June 11th, 2010 at 12:55 pm

    masgaga says:

    wah, ternyata lebih mending hidup di Jakarta…..

  10. June 11th, 2010 at 2:43 pm

    Leia Sulqi says:

    Haa Haa Haa.. di Indonesia lebih lumrah ‘Pondok Mertua Indah’ tuh.. Bersyukurlah kita yang bisa punya rumah + halaman besar. Bisa ditanemin macem2..

  11. June 11th, 2010 at 11:00 pm

    Merry go Round says:

    Ampuuuunnn…apa ngga sesek napas ya yg tinggal berdempetan dalam satu rumah gitu.

  12. June 14th, 2010 at 8:14 am

    Rusman says:

    Wah…, pantesan orang india juga betah kalo cari kerja di Indoensia…
    Membayangkan ekesekutif dari perusahaan besar aja tingaal diapartemetn yang sangat sederhana…..
    Bersukru kita masih punya tempat tigngal yang lebih layak…. :)

  13. June 14th, 2010 at 9:37 am

    Bobby says:

    Jadi seolah-olah tidak sesuai dengan sebutannya ya negara macan asia (Cina & India)..ck.ck..ck..

  14. June 14th, 2010 at 12:19 pm

    Astrid says:

    Ampuuuunnnn… pantesan expat India di kantorku nggak ada yang mau pulang dan bermanuver supaya gak dipulangin! Disini mereka tinggal minimal di Puri Casablanca, apa rasanya kalau harus kembali ke asal mereka yahhh?

  15. June 14th, 2010 at 2:30 pm

    bintang aldebaran says:

    Gile loe Ndro.. beruntung banget bisa tau kehidupan di India, dan gue rasa loe sangat bersyukur tinggal disini, di Indonesia.. ^_^ nice story..

  16. June 14th, 2010 at 4:21 pm

    ayas says:

    menuju INdiaaaaaaa… 3 tahun lg wkkwwk

  17. June 15th, 2010 at 3:34 am

    timami says:

    haha. mirip sama pakistan. tapi india lebih maju.. ada bolliwood gitu contohnya. pakistan tuh bagus, cuma masih ga biasa nerima turis. dan sayangnya habis bom itu banyak orang asing yg pulang.. tapi sekarang pembangunan udah mulai. toko2 bagus banyak yang udah buka. seru juga sih hidup disini. tapi kalau udah lebih dari setahun.. bosen juga spalnya tempat main sedikit. hahahaha.

  18. June 15th, 2010 at 1:26 pm

    Asty says:

    Wah ternyata rumah megah dgn halaman luas di film2 India hanya di film2 ya Mbak T, sama kayak di negara kita tercinta ;-)

  19. June 15th, 2010 at 1:47 pm

    Mayawati says:

    Guide saya wkt di India bilang, harga tanah dan property di sana memang selangit. Wkt itu sempet banding2in dan hitung2in sih, emang selangit.

  20. June 15th, 2010 at 11:50 pm

    ronita says:

    Property mahal mngk krn penduduknya pdat dan kurang lahan.

  21. June 17th, 2010 at 5:02 pm

    Ifan Jayadi says:

    ternyata tinggal di negeri sendiri lebih nyaman ya. Kita bisa beli tanah, rumah dan property lainnya walaupun cuma orang biasa

  22. June 18th, 2010 at 6:50 pm

    Tari says:

    Seru jg jalan2nya, meskipun ga ikut ngerasain jd tau stelah baca ceritanya.

  23. June 20th, 2010 at 3:54 pm

    mbah jiwo says:

    ngga kayak2 yg di film2 itu ya? kaya2…cantik2…cakep2…

  24. June 20th, 2010 at 9:12 pm

    ZAnni says:

    Makanya yg kejadian di Batam itu jgn diulangi lagi ya? wong disini sdh enak kok nganggap remeh. Kalo di sini CEOnya BUMN sdh punya kapal, mercy, rumah disono disini disitu disana, tabungannya sampai pada njamur ya?

  25. June 21st, 2010 at 2:20 pm

    rachel says:

    wiidiiiiiiih……..ternyata india…….lbh parah dr qt.hehehheee

  26. June 22nd, 2010 at 10:07 am

    ali says:

    ternyata india kaya gitu ya mbak. ngga kaya di pilm2 bolliwoood

  27. June 24th, 2010 at 3:20 am

    yudi says:

    hmmmm, kontras 180 derajat ma filmnya…
    jauh mendingan Indonesia

  28. June 24th, 2010 at 8:03 pm

    ace wijaya says:

    hehehe..pantes aj film2 boliwood skrg shutingnya pd di luar smua,mgkn mreka binggung cr lokasi di negara mrk sendr

  29. June 25th, 2010 at 5:23 am

    laura khalida says:

    Kenapa ya jabatan tinggi tapi rumahnya minim? Apa gaji mereka ga cukup untuk sewa/beli t4 tinggal yg lebih layak?

  30. June 25th, 2010 at 10:16 am

    kerja sampingan says:

    Ternyata kondisi disana tidak lebih baik dibanding indonesia

  31. June 26th, 2010 at 2:23 am

    Agustin says:

    Mbak usul dong.. gambar2 di blognya mbak dibikin lebih gedean dong.. Penasaran ngliatnya.. Sakit mata kalo kecil2 gitu gambarnya.. ok? makasih (=

  32. June 27th, 2010 at 8:02 pm

    Bobby says:

    @Agustin dan Mba Tri, saya setuju dengan Agustin mba, biar lebih jelas kelihatannya. Karena albumny mba belum semua kan yang diupload ke facebook.

    Sarannya sih pake flickr aja. hehehe

  33. June 28th, 2010 at 9:37 am

    Manto Khan says:

    Tapi India masih punya identitas dan harga diri karena budayanya masih kental dan nasionalisme masyarakatnya tinggi gk kayak orang indonesia yg sukanya mbajak dan niru2 gaya barat.

  34. June 29th, 2010 at 9:16 am

    morishige says:

    orang India suka rame-rame ya ternyata. :D

  35. July 2nd, 2010 at 9:31 am

    Radhea says:

    trnyata rmh india ga ky d film2 bollywood ya

    pisss

  36. July 4th, 2010 at 6:43 pm

    irine says:

    kalo dibandingin ama jakarta, ternyata masih bagusan jakarta ya.. sukur deh kalo gitu tinggal di jakarta =)

  37. July 8th, 2010 at 4:13 pm

    anjelia says:

    kayanya better jakarta daripada india..hehee
    Mba Trinity, di sana ketemu dengan Inspektur vijay gak (polisi yang selalu dateng telat ke TKP setiap kali ada kejahatan)??..Heheheehheeee…

  38. July 17th, 2010 at 3:15 pm

    atnis says:

    hmm…. sdh pernah main ke daerah johar baru jakarta??? sepertinya judul nya cocok juga…

    saya bekerja di daerah tanah tinggi kec johar baru jakarta pusat di bagian kesehatan, rumah2 dsana sangat memprihatinkan… satu rumah ukuran 3×3 diisi kakek nenek, orang tua dan kurleb 3 anaknya. dapur dipinggir jalan, kamar mandi di tempat umum…

    hehe tapi cerita mba jelas jauh berbeda dengan cerita saya hehe… di johar baru memang orang dgn pendidikan rendah yg tinggal di pemukiman padat penduduk… sedangkan di india orang yang punya posisi bagus di perusahaan tinggal di apartemen yg memprihatinkan… hmmm… knp ya bisa begitu banget diIndia???

  39. July 22nd, 2010 at 9:19 pm

    qieqie says:

    Tapi gitu2, ‘prestasi’ mereka di pentas dunia masih lebih bagus dari kita,hehehe

  40. July 28th, 2010 at 12:53 pm

    tiwinih says:

    masuk angin di India sebutannya apa y?

  41. August 20th, 2010 at 1:11 pm

    Glen says:

    Btw mw tanya …dr indo ke india brp duit sich ticket pesawt nya???

  42. August 21st, 2010 at 6:54 am

    Fa Rina says:

    cuma bisa bilang “takjub” :D

Leave a Reply