Belajar Bahasa Gara-Gara Anna

Anna

Anna

by Oktarina Prasetyowati (Okke)

Saya sempat tinggal selama setahun lebih di Timor Leste karena urusan pekerjaan. Mau tidak mau saya harus bisa berbahasa lokal, yakni bahasa Tetun. Sebenarnya saya sudah disuruh-suruh untuk belajar sejak pertama kali menjejakkan kaki di sana, tapi ternyata orang-orang di Dili, baik yang muda maupun yang tua masih bisa berbahasa Indonesia. Murid-murid saya pun kebanyakan anak SMU dan mahasiswa. Mereka mengerti banget setiap perkataan saya dalam bahasa Indonesia. Jadi ya sudah, saya tidak merasa perlu untuk serius mempelajari bahasa ini. Jadi tiga bulan pertama, kemampuan bahasa saya turis banget. Palingan standar penguasaan kata-kata dasar pada kursus bahasa: Bon dia (Selamat pagi), Botarde (Selamat siang/sore), Bon noite (selamat malam), Obrigado (Terima kasih), Desculpa (Maaf), Lisensa(Permisi). Hau nia naran Okke (Nama saya Okke), Hau husi Indonesia (saya dari Indonesia), hau hela iha becusse centro (saya tinggal di Becusse Centro).

Tapi, kemalasan saya untuk belajar dienyahkan oleh Annacleta Pinto daSilva- biasa dipanggil Anna, anak dari sang empunya rumah kontrakan saya. Anna yang super jahil tapi cukup dekat dengan saya ini, suka sekali bilang: Malae beikten, Malae bulak dan Panderu yang ditujukan pada saya. Mengingat mimik wajahnya yang nyolot nan jahil, boleh dong saya curiga. Saya tanya sana-sini, ternyata artinya, “Orang asing bodoh. Orang asing gila dan banci!”. Argh! Tak sudi! Maka saya pun belajar dengan super niat dan super giat, demi ‘membalas’ Anna. Sebagai informasi, struktur/aturan pemakaian kata dalam kalimat, bahasa Tetun itu tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, jadi sebenarnya saya tinggal menghafal vocabulary saja. Untuk itu saya bawa kamus ke mana-mana dan berusaha mempraktikkannya. Tapi latihannya saya lakukan di luar rumah, karena saya berniat mau bikin kejutan buat Anna dengan mencela balik dalam bahasa Tetun (I knooow, nggak penting banget brantem sama anak kecil. But I can’t help it) – jadi setiap Anna mencela saya, walaupun saya sudah mengerti, ya saya cuma nyengir aja pura -pura nggak ngerti.

Selama proses berlatih, sering terjadi hal-hal bodoh seperti kesalahan penggunaan kata. Contohnya suatu ketika saya terserang kutu ayam dan kulit saya berbintik-bintik kemerahan. Dengan pedenya saya bilang, “Hau katar los. Hau artinya saya, katar artinya gatal dan los artinya banget. Dalam pikiran saya, kalimat itu sudah benar, artinya saya gatal-gatal banget. Tapi lho? Kok diketawain? Kenapa? Karena, kalimat yang seharusnya dipakai kalau saya sedang gatal-gatal (gara-gara kutu ayam) adalah “Hau nia isin katar los (badan saya gatal banget), sedangkan “hau katar artinya saya kegatelan banget! Sial! Saya sih nggak kegatelan banget, tapi cuma sedikit seduktif pada orang-orang tertentu. Hehe! Belum lagi pemakaian kata-kata kerja yang tertukar-tukar, karena kebanyakan kata kerja dan keterangan bahasa Tetun diawali dengan suku kata Ha dan bunyinya mirip-mirip: hamlaha (lapar), hamnasa (Ketawa), hamrik (berdiri), hamrok(haus). Beuh, susah bener!

Di luar rumah, saya berusaha keras untuk berbicara bahasa Tetun, tentunya dengan bantuan kamus. Cuma sayangnya ada yang kurang suportif pada usaha saya menguasai bahasa mereka. Pernah saya berusaha untuk menjelaskan sesuatu dalam bahasa Tetun, tapi setiap berbicara satu kalimat saya harus bilang ‘Hein, Lae‘ (Tunggu sebentar), ‘Hau hare’e kamus uluk.’ (saya lihat kamus dulu). Mungkin karena nggak sabar, mereka kemudian bertanya ‘Husi nebe?’ (dari mana?). Saya jawab,“Husi Indonesia.” NAH! Setelah itu, mereka bilang “Oooh, bicara bahasa Indonesia saja, kakak, kami bisa pakai bahasa Indonesia.” YEEE! Orang pengen belajar juga! Untungnya dalam waktu sebulan, hasil ‘kerja keras’ saya mulai terlihat. Dan, rasanya jauh lebih mudah untuk mengadakan pendekatan dan mendapatkan simpati masyarakat setempat, bilang saja saya ingin bahasa Tetun saya lancar – wiuh, mereka membantu sekali. Walaupun sering juga sambil mentertawakan saya.

Pada akhirnya saya bisa berbalas celaan dengan Anna. Suatu pagi, ketika ia baru bangun tidur, dia mencela saya lagi dengan “Malae bulak, Malae bekten! Panderu!“. Dan saya dengan bangga membalas, ‘Hau la bulak. O mak bulak. Ema bulak ne’e hanesan o, lakoi haris, para dois, fuk hanesan nenek lampir.” (Saya nggak gila. Kamu yang gila. Orang gila tuh seperti kamu, nggak mau mandi, bau, rambut kayak nenek lampir). Silakan ngetawain saya yang ngeladenin anak kecil. Biarin. Dan dia pun bengong, karena saya SUDAH BISA bahasanya. Pokoknya, Anna-lah motivator saya untuk belajar bahasa. Gara-gara dia, bahasa Tetun saya benar-benar membaik.

Bahkan sewaktu keluar dari Timor Leste, kembali ke Republik Indonesia ini, saya masih menggunakan bahasa Tetun, untuk… ngomongin orang! Lalu apa kabar dengan bahasa Tetun saya kini? Sesekali saya masih berkirim-kirim e-mail dengan kawan-kawan saya di sana menggunakan bahasa itu. Cuma, rasanya kemampuan bahasa saya menjadi pasif. Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertemu dengan kawan dari Timor Leste. Ia menyapa saya dengan bahasa Tetun. Saya? Hanya bisa hap-hep, megap-megap untuk menjawabnya. Saya mengerti, tapi kok tampaknya susaaah banget untuk ngomong. Euh. Tampaknya memang benar. Kemampuan berbahasa itu harus terus dipakai.

Agora ne’e, hau hanoin hau nia kolega iha Timor Leste.Hau espera,loron seluk ami bele hasoru malu. *ciyeh* (Sekarang ini, saya kangen dengan kawan-kawan saya di Timor Leste, saya berharap satu hari nanti kami bisa ketemu lagi. *ciyeh – kata terakhir bukan bahasa Tetun*)

—–
*Okke adalah pemilik blog terkenal bernama sepatumerah dan penulis sejumlah novel (Heart Block, Lajang & Nikah, Istoria da Paz, dll). Wanita kelahiran 1977 ini senang bermain dan merasa bahwa hidup ini taman bermain raksasa yang harus dieksplorasi. Selalu menyebut ‘Penikmat hidup’ sebagai profesi terkininya.

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

25 comments

  • Pingback: Tweets that mention Belajar Bahasa Gara-Gara Anna » The Naked Traveler -- Topsy.com

  • wah mba.. aku jga sama suka ngeladenin ledekan ank kcl..
    rasany ga rela gtu d ledekin sama ank bawang xixixi
    agak ga dewasa seh… tpi lucu aj liat reaksi mereka hahahh

    Reply
  • wow..sounds fun. tp bhs tetun itu spertinya campuran yah krn ada bbrp bhs portugese yg diserap. misalnya Bom dia (bkn ‘bon’), desculpe, agora..krn kbtulan saya seorg capoeirista (pemain capoeira) jd lmynlah little2 i can portugese lah hehe,wlopun brazilian portugese kinda different sm portugesenya portugal 🙂

    Reply
  • aku cuma ingat sedikit, dulu pernah bisa juga bahasa ini

    seida = siapa
    naran = nama
    hatene = tau, mengerti
    la = tidak
    feto = perempuan
    alin = adik
    kan = punya
    ida = satu
    nia = dia, punya
    manu = ayam

    dalam bahasa tetun memang benar kok pake ‘bon’ dia (bukan ‘bom’ dia) karena kata tersebut bahasa serapan, jadi tidak selalu harus sama tulisannya dengan bahasa aslinya …

    Reply
  • Jujur, saya ‘tersasar’ masuk ke blog ini. Saya pernah membaca The Naked Traveler jilid 1. Cuma dlm bbrpa jam, buku itu saya selesaikan. Bahasanya renyah bgt. Saya menikmatinya.

    Btw, saya pernah menetap di Baucau 1988-1995 dan Dili 1995-1998. Jadi, tulisan ini seperti menyeret saya pada kenangan satu dekade menarik nafas di sana. Makasih ya…

    Saya pengen ngambil cuti tahun depan, utk menemui teman2 lama saya di sana, dan pengen bikin catatan dr perjalanan itu, dan mencatat kembali pengalaman saya hidup di sana selama satu dekade.

    Untuk rekan awii sitompull, sedikit koreksi: yg benar bukan ‘seida’ … tapi ‘sa ida’.

    Semoga saya bisa hadir di acara Launching buku “The Naked Traveler 3” Sabtu yang akan datang…

    Thanks…

    Reply
  • sy pernah tinggal di sana sebelum merdeka. bahasanya di ajarin di sekolah dan sering dipake jg ma warga disana, di pasar misalnya. mama sy ngerti bahasa tetun. tp klo sy udah lupa. 🙁
    salam kenal ya. Good Luck 🙂

    Reply
  • salam kenal bro,saya juga tersesat neh,krn awalnya iseng2. Tapi kemudian nenikmati,& pengen melanjutkan terus. Saya hanya familiar dengan istilah dari timor timur (saat itu)seperti comoro,patung kristus raja,aitarak (apa sih ini artinya ?)…..hehe ini dulu,yaa lain x lg

    Reply
  • aq jg pengen belajar bahasa tetun nech.. Soal’nya lg pdkt ma co timor leste… Klo ada Yg bisa ajarin dunk…Hehehe…

    Reply
  • Halo salam kenal,saya jg tersasar d blog ini..tp rasax senang sekali banyak yg mau belajar bahasa tetum… lahaten atu dehan saida tan maibe hanesan ema timor. Hau kontente los. Kontente tamba lian tetum mos bele popular iha kolega sira iha indonesia… e la haluha mos hau ema ida que gosta loos lhe livro naked traveller…

    Reply
  • Haha..pengalaman lucu tapi sangat berharga, ya memang bahasalah yang mampu mempersatukan kita. Tapikan sebenarnya bahasa itu yg penting kita mengerti, menggunakan isyarat saja kalau kita mengerti berarti kita sudah menggunakan bahasa, tapi namanya bahasa isyarat.

    Reply
  • Salam kenal mbak, sangat membantu infonya kebetulan akhir bulan ini mau brgkat ke dili untuk mengais rejeki, dan pengen belajar bahasa tetun semoga secepatnya bisa bahasa tetun..

    Reply

Leave a Reply