The Naked Traveler

Tibet oh Tibet!

Dari dulu saya bercita-cita pengen ke Tibet. Rooftop of the world. Atap dunia. Alasan saya sederhana: sebagai seorang yang hidup di ketinggian 0 mdpl (meter di atas permukaan laut), saya sangat tertarik mengunjungi tempat yang ketinggiannya di atas 4.000 mdpl. Bayangkan saja, ada kehidupan di tempat yang letaknya lebih tinggi daripada puncak-puncak gunung tertinggi di Indonesia! Sayangnya Tibet masih berkutat dengan isu politik sehingga dari dulu serba tidak jelas. Untuk ke sana pun super mahal karena harus gabung dengan tur. Ya, orang asing memang dilarang keleleran ke mana-mana sendiri. Maka saya pun mempersiapkan perjalanan ini dengan matang sejak jauh-jauh hari. Untunglah sahabat saya, Yasmin, ikutan sehingga bisa menekan budget.

Meski resminya Tibet adalah bagian dari negara Cina, namun untuk masuk ke Tibet harus ada izin khusus berupa Tibet Travel Permit dan Alien’s Permit (sial, saya berasa jadi “Prawn” di film District-9). Izin itu dikeluarkan oleh Foreign Affairs Section of the Local Public Security Bureau, di bawah hukum Control of Entry and Exit of Foreigners atas perintah President of the People’s Republic of China. Buset dah, ribet bener! Namun turis dapat memperolehnya melalui travel agent yang ditunjuk bersama paket tur dengan lama pengurusan minimal 4 hari kerja. Daripada nanti bengong di Cina sambil menunggu izin, maka atas saran fellow travelers saya mengurusnya dari Indonesia. Perburuan pun dimulai dengan mencari travel agent di Cina. Setelah browsing sana-sini, saya mengimel beberapa travel agent. Dari sekian banyak, kami memilih salah satunya yang paling rajin merespon email dengan bahasa Inggris yang baik. Tawar-menawar harga paket berlangsung alot via email. Dan tanggal pun ditetapkan: 29 September - 8 Oktober 2009. Pas banget, Oktober adalah musim terbaik untuk pergi ke Tibet. Rute telah disepakati: mulai dari Beijing dengan menggunakan kereta api selama 3 hari melalui rel tertinggi di dunia sampai di Lhasa, lalu keliling-keliling jalan darat naik mobil 4WD sampai ke Everest Base Camp, dan akan berakhir di Kathmandu, Nepal. Yiihaaaaa!!!

Down payment sebesar USD 400/orang harus dikirim ke Cina sebulan sebelum Hari-H untuk pengurusan izin dan pembelian tiket kereta api Beijing-Lhasa. Duh, rasanya deg-degan karena duit segitu gede banget untuk diberikan begitu saja kepada seseorang yang belum pernah bertatap muka. Tapi hanya itulah cara satu-satunya. Saya pun mengecek nomor telepon kantor dan handphone si travel agent. Tidak ada yang angkat. Saya pun minta teman yang tinggal di Cina untuk mengecek keberadaan kantor tersebut. Ternyata mereka memang eksis. Dengan penuh doa akhirnya kami mengirim uang deposit beserta scanned paspor dan visa Cina. Beberapa kali travel agent memastikan semua baik-baik saja, maka saya pun membeli tiket Kathmandu-Delhi dan Yasmin membeli tiket Kathmandu-Jakarta.

Sementara menunggu pengurusan, saya pun mempersiapkan diri dengan serius (belum pernah saya seserius ini dalam mempersiapkan perjalanan!). Saya sampe bela-belain gabung di gym demi meningkatkan VO2 Max (konsumsi oksigen maksimal) supaya nggak megeh-megeh trekking di udara tipis. Maklum, ‘faktor U’. Program olah raga pun saya dapatkan dari situs internet, contohnya lari di treadmill dengan kecepatan dan tingkat kemiringan yang variatif. Pokoknya hampir tiap hari saya nge-gym minimal dua jam. Saya juga berkonsultasi dengan teman-teman dedengkot anak gunung. Mereka sampe sirik, karena katanya “Everest itu bagaikan naik haji bagi anak gunung”. Ups, padahal niat saya kan cuman sampe base camp-nya doang. Atas rekomendasi mereka, saya beli jaket duckdown, sepatu gunung, kaos kaki trekking, sampai baju dalam thermal. Belum lagi pinjam peralatan lainnya, seperti topi kupluk dan syal berbahan wool. Gilanya lagi, saya bahkan sempat trip di salah satu pulau tak berpenghuni agar membiasakan diri buang air besar di alam terbuka karena katanya di Tibet parah banget toiletnya. Ah, semua saya lakukan dengan semangat demi Tibet!

Dua hari sebelum hari keberangkatan… bencana itu datang! Saya membaca email dari travel agent bahwa Tibet resmi ditutup bagi turis karena ada isu politik pada perayaan Chinese National Day! APAAA?!? Waduh, lemas langsung rasanya! DP tur sudah bayar, tiket pesawat pp dan cuti tidak bisa dibatalkan. Mana mau tak mau tetap harus ke Kathmandu. Saya browsing untuk memastikan. Sial, beberapa situs berita dunia mengkonfirmasi berita itu. Tak hilang akal, saya beralih ke travel agent lain. Namun semua mengatakan hal yang sama, mereka tidak bisa membantu karena Tibet ditutup. Besoknya koran Kompas menurunkan berita yang sama dan saya pun hanya bisa menangis sedih. Mau komplen sama siapa coba? Para travel agent saja mengirimkan imel curhat mengenai bisnis mereka yang kembali hancur.

Si travel agent menelepon, katanya mereka masih akan berusaha dan disarankan agar kami jangan membatalkan apapun dulu. Tentu saja, semua tiket kami non-refundable! Maka kami pun terbang ke Cina dengan tetap membawa baju winter yang gendut-gendut dan setitik harapan. Empat hari di Beijing masih belum jelas sehingga kami bekerja keras membuat plan A, B, C sampai Z, sembari tetap traveling dan terus menerus follow-up. Perasaan ‘digantung’ memang paling nggak enak. Sampai akhirnya beberapa hari kemudian… travel agent menyerah. DAR! Selesai sudah impian ke Tibet! Urusan selanjutnya adalah bagaimana mengembalikan uang DP. Setelah ngotot-ngototan, uang DP akhirnya dikembalikan dalam bentuk tiket pesawat Chengdu-Kathmandu. Dua minggu kemudian di kedua kota itu lah saya bertemu para traveler yang senasib, luntang-lantung demi menunggu Tibet dibuka kembali yang entah kapan.

But the show must go on, saya melanjutkan perjalanan ke India. Masih belum kapok, di kota Delhi saya tinggal di Tibetan Refugee Camp. Hati saya tersentuh melihat mereka… para pelarian yang sudah tiga generasi beranak pinak namun tidak bisa kembali ke Tibet. Mereka aja nggak bisa pergi ke kampung halamannya, who am I to complain?

38 Responses to “Tibet oh Tibet!”

  1. November 11th, 2009 at 5:06 pm

    Ramon says:

    mbak trinity… ikut sedih denger ceritanya nggak bisa berangkat ke tibet… moga2 kondisi tibet cepat membaik jadi bisa dikunjungi semua orang suatu saat nanti

  2. November 11th, 2009 at 7:22 pm

    rere says:

    Jangan pernah menyerah dik ! masih ada waktu lain selama masih ada nafas keluar dari hidung kita ….

  3. November 11th, 2009 at 10:44 pm

    cindy says:

    signing in. gue pengen ikut ke tibet tapi itu anak dua siapa yg ngurus? :( kapan2 kali kalau kita udah tuwak nanti yaaa :)

  4. November 11th, 2009 at 10:57 pm

    Nico says:

    Waduh… berat juga ya ke Tibet. Kok kayaknya lebih ribet dari ke Israel. Jadi mikir panjang n lebar nih kalau mau ke sana. Tapi sekali lagi, the show must go on… Kalau ada kesempatan, mau juga.

  5. November 12th, 2009 at 5:38 am

    wejick says:

    waduh kasian. di india dapet apa aja mbak

  6. November 12th, 2009 at 12:35 pm

    yulianne says:

    wah akhirnya ke India juga ya.
    emang kalo ke tibet itu nasib2an.
    dont worry, u’ll get the chance again.

  7. November 12th, 2009 at 12:58 pm

    Febby says:

    Mba, waduh.. daku sedih juga baca nya ney… tapi jangan menyerah ya.. pasti dikau akan ke tibet lagi n pasti lebih serururuuuuuu….

    o ya mba ceritain dung perjalanan selama di Kathmandu and india???? secara cita2 kuh ingin jalan2 kesana juga..

    salam hangat!

    Febby

  8. November 12th, 2009 at 10:08 pm

    Renny says:

    Saya pikir semua cerita anda adalah karangan atau fiksi belaka, tidak ada foto dan dokumen yang menunjang kalau anda pernah keliling dunia. Semua orangpun bisa bilang keliling dunia lewat tulisan..

  9. November 12th, 2009 at 10:42 pm

    morishige says:

    saya jadi inget cerita bersambungnya Agustinus Wibowo, mbak. keren banget ya dia bisa jalan ke Tibet. ngeteng pula dari china. :mrgreen:

  10. November 12th, 2009 at 11:08 pm

    Trinity says:

    @Renny: kalo saya cuma ngarang, hebat bener yaa blog ini bisa jalan sampe 4 tahun. mohon maaf juga kalo saya memang ga suka motret dan jaman dulu malah ga punya kamera. kalo masih penasaran, silakan liat dokumentasi yg sedikit itu di facebook saya :)

  11. November 13th, 2009 at 12:15 am

    Aibara says:

    Slm knal mbak..:-)
    Ayo mbak smangat!!
    Byk jln mnju tibet..

  12. November 13th, 2009 at 12:16 am

    Aibara says:

    Slm knal mbak..:-),Ayo mbak smangat!!,Byk jln mnju tibet..

  13. November 13th, 2009 at 7:25 am

    Raz says:

    Kalo emang berjodoh dengan Tibet, suatu saat juga pasti akan sampai sana. Hehee. Semangat! You’re cool!

  14. November 13th, 2009 at 10:18 am

    liz says:

    jd emosi neh…gara2 gagal baca ceritanya mbak T di tibet, jd ambah sebel ama mbak renny jg. gmn klo passportnya mbak T aja yg dipake dokumentasi? kan byk tuh tempelan visa dr mulai passport yg masih baru ampe basi….dr situ bisa ketahuan klo mbak T doyan mengkhayal ato gak

  15. November 13th, 2009 at 11:32 am

    devi says:

    Sejak awal saya baca tulisan ini, saya mikirnya miz T. pasti mau memberi prolog yang menegangkan tapi akhir cerita bakalan sukses dan seru seperti biasanya. Tapi begitu sampai pada kata DAR! pupus sudah harapan saya untuk membaca cerita si tibet dari pengalaman miz T. turut prihatin ya, saya aja yang cuma baca, gak ikut ribet ngurus ini itu, gak ngeluarin uang, gak cape2 nge-gym bener bener sedih, gimana miz T. yang ngalaminnya. CIAO!!!! Tetap semangat! there always be next time.
    p.s. aku jg sebel ama renny, kalo ngayal gak mungkin miz T. bisa cerita sedetil ini

  16. November 13th, 2009 at 2:49 pm

    Vina says:

    Triniti is back
    yaaah, ga jadi deh crita tibetnya

  17. November 13th, 2009 at 3:09 pm

    s_wohon says:

    ohh pantesan tulisannya sempat jeda agak lama, ternyata mba T lagi persiapan ke tibet tohhh.. saya doakan next time mba T bisa nyampe tibet deh..

  18. November 13th, 2009 at 4:02 pm

    damai says:

    saya jadi pingin ke tibet, tapi apa nunggu tibet merdeka dulu ya..

  19. November 14th, 2009 at 8:57 am

    didut says:

    ribet juga yah :)

  20. November 14th, 2009 at 2:46 pm

    steph says:

    waahhh,,,, unbelievable!!!!!

  21. November 14th, 2009 at 4:58 pm

    Henny Panda says:

    pengen ketawa baca komentnya si renny hehhehehee…. blm tahu dia siapa Miss T huahahhaaha

  22. November 14th, 2009 at 9:08 pm

    Nora says:

    Hehehe.. dulu waktu ke India juga nginepnya di Tibetan Refugee Camp. Penginapan mereka yang murmer itu malah lebih bersih dari hotel kelas middle nya yg dikelola Indian yah ?

    Dont worry, Mbak.. ntar kalo tiba waktunya pasti deh nyampe ke Tibet.. amin, jd kan ada cerita seru update dari Mbak T.. sukses terus yah..

  23. November 14th, 2009 at 11:41 pm

    Lida says:

    Wah seru juga kalo bisa ke Tibet, sementara ini saya bisanya ke Tebet, don’t worry Trinity kalo udah rezeki pasti bisa ke sana … cheers.

  24. November 15th, 2009 at 1:24 am

    Honey says:

    Hohoho, akhirnya muncul kembali si mbak T meskipun dgn cerita sedih ngga bisa masuk ke Tibet. Jiayou…jiayou !!!

  25. November 15th, 2009 at 1:26 am

    Four Seasons says:

    ternyata sulit juga ya ke Tibet. Apakah travel agent besar di Jakarta tidak bisa mengurusnya?

  26. November 16th, 2009 at 2:53 pm

    Moto BackPacker says:

    wah sayang sekali ya nggak bisa nyusul tintin

  27. November 16th, 2009 at 6:04 pm

    ocha says:

    huaaa…akhirnya ada cerita baru lagi ^_^. Awal baca, ikutan semangat. Berasa bisa ngerasain senengnya mau ke Tibet. Eh, ujung-ujungnya, ikutan kecewa n sedih juga. gara2 Planning yang sedemikian rapi`nya tiba2 retak seribu. fiuh…
    Tapi, untung mampir india dan bisa memetik sesuatu dari sana.
    Salam kenal, mbak :)

  28. November 17th, 2009 at 12:34 pm

    Nuchan says:

    dengar persiapannya keren banget euy..maksudnya niat banget mabk..heehehehe..tapi very inspiring :D

  29. November 17th, 2009 at 7:54 pm

    abdurrachim says:

    saya suka baca tulisan mbak trinity.. semuanya

  30. November 18th, 2009 at 11:54 am

    Mayawati says:

    Gagal deh baca cerita Tibet dari Trinity…. Ya udah, nunggu cerita ttg India dan Nepalnya aja deh.

  31. November 18th, 2009 at 11:02 pm

    eme says:

    dr smua bku backpacker/traveling krya pnulis indo mbk t mang plg gila/edan/sinting hh km inspirasiku mbk sungguh mengagumkan .kpn bku k duany uda g sbar bgt neh tmn2ku jg byk yg nanyain?ctakanny yg bnr y jgn ky yg prtama pnyku halny bnyk yg ksng!

  32. November 20th, 2009 at 7:59 pm

    uchie says:

    seperti kata miss T ‘ who am I to complain ‘ mereka yg beranak pinak aja gak bisa2 masuk kampung halamannya…apalagi org lain yach??? meskinpun dah dibelain ke gym…hmm..moga2 lain kali kecapaian ke tibetnya yach miss T!!!

  33. November 20th, 2009 at 10:26 pm

    charles says:

    sori gak sabaran mao pamer foto dan sedikit cerita wakt ke tibet juni kemaren. gua terbang dulu ke chengdu, provinsi Sichuan. dari sana ikut tur lokal masuk ke tibet. 6hr5mlm RMB 4800 termasuk surat izin masuk, tiket pp chengdu-lhasa, hotel bintang 3, mobil, supir dan 1 guide. itu harga paling murah abis kita jajakin semua travel agency di kota chengdu. kalo ada yang pengen nanya info tibet, silakan email crianto@binus.edu

  34. November 21st, 2009 at 12:07 am

    Mus-Aceh (Wei Sheng) says:

    Sabar Mbak T, masih ada waktu selama masih ada niat. :)

    Salam kenal dari Shanghai,
    Mus-Aceh (http://www.facebook.com/mus.aceh)

  35. November 21st, 2009 at 11:07 pm

    ambar says:

    Mba T smangat ya! paling ga skarang tambah bugar dunk, nge-gym 2 jam sehari, ckckck….
    After all, thanks dah share ceritanya, jadi ada bayangan klo mo kmana2 mesti perhatikan jg faktor politik.

  36. November 22nd, 2009 at 9:32 am

    yati says:

    wedew….ikut patah hati jadinya :(
    kapaaaaan mereka di sana bisa tenang hidupnya

  37. November 22nd, 2009 at 10:19 pm

    furi says:

    waaah mb trinity udah balik y? seneng ni bsa baca tulisan mb lagi,
    wah turut sedih juga ni mb gagal ke tibet,, smoga ntr bisa ke tibet yaa.. jngn lupa cerita2 lagi. hehe

  38. November 23rd, 2009 at 9:41 am

    melati says:

    MBA…………..DARI DULU AKU JUGA PENGAN BANGET KE TIBET…AYOO MBA….GO ..TIBET..SEMANGAT!!!

    CERITAIN GIMANA RASANYA TEH MENTEGA BIKINAN ORANG TIBET YA…

Leave a Reply