Oh Nyawa!
Suatu sore yang indah pada tahun 1998 di Pulau Bunaken, saya lagi asik leyeh-leyeh di pantainya. Suasana cukup ramai, banyak orang duduk-duduk memandang laut. Sekitar 10 meter di sebelah kiri saya, duduk seorang bapak bule yang terbatuk-batuk keras. Saya tidak begitu menghiraukan, sampai dia tak bersuara lagi. Saya menengok lagi, ternyata dia sudah terkulai di atas pasir. Waduh! Saya pun berlari mengikuti orang-orang yang sudah berkerumun mengelilingi si bapak. Saya dan belasan orang di situ tidak tahu harus berbuat bagaimana. Seorang laki-laki memegang pergelangan tangan si bapak, dan berkata, “Dia sudah mati.” Hah? Bulu kuduk saya langsung berdiri. Seorang lain berteriak, “Ambil oksigen!”. Lalu seorang laki-laki berlari dan kembali… membawa tangki scuba diving dan regulator-nya. Lho? Bagaimana cara menghirup oksigennya? Orang lain lagi berteriak, “Telepon ambulans! Telepon Rumah Sakit! Ada yang tau nomor telepon polisi?”. Namun semuanya hanya diam. Si mayat terbujur kaku saja di situ. Entah bagaimana akhirnya, saya keburu meninggalkan kerumunan karena perut saya berasa teraduk-aduk.
Tahun 2006, saya kembali lagi ke Bunaken untuk menyelam di perairan sekitarnya bersama teman-teman. Sekitar jam 9 pagi kapal kami tiba di Sachiko Point, lalu bersandar pada kapal lain yang berisi grup penyelam yang sudah turun lebih dulu. Kami baru saja menyelam 10 menit. Tiba-tiba saya melihat DM (Dive Master) kami memberikan kode sinyal dari kedua tangannya seperti menggendong bayi dan menggorok lehernya. A-n-a-k-m-a-t-i. Hah? Mati? Anak siapa? Pikiran saya pun kalut, masa kejadian 7 tahun yang lalu terjadi lagi! Kami pun naik ke permukaan dan DM mengatakan bahwa anaknya hilang di laut tak lama sebelum kami menyelam. Rupanya si anak (berinisial B) adalah DM grup penyelam dari kapal di sebelah kami. Saya pun naik ke kapal berusaha mencari gelembung-gelembung udara, sementara sebagian menyelam lagi untuk mencari di bawah laut. Akhirnya penyelaman hari itu diberhentikan. Suasana tentu jadi tak enak, apalagi DM kami yang terus menangis.
Dengan menumpang kapal dari grup lain, sebagian dari kami kembali ke resor. Grup penyelam itu isinya anak-anak muda berusia awal 20an. Bukannya bersimpati dan berempati karena DM mereka sendiri hilang, mereka malah asik minum bir. Ketua rombongan saya yang instruktur menyelam menginterogasi mereka satu per satu, dan saya pun mendengar cerita yang sungguh memuakkan. Rupanya si instruktur (berinisial D) dari grup itu benar-benar keterlaluan! Dia meninggalkan murid-murid pemula (yang baru aja belajar scuba diving di kolam renang sehari sebelumnya) di kedalaman laut… untuk sok-sokan menyelam sampai 70 meter demi menoreh rekor. Para murid baru itu entah bagaimana tertarik ke kedalaman 40 meter. Salah satunya terkena panick attack sampai melepas regulator (selang oksigen) sendiri. DM grup itu yang cuma sendirian harus menolong 4 orang sehingga dia terkena nitrogen narcosis (keracunan nitrogen yang dapat terjadi saat menyelam di bawah 30 meter sehingga membuat penyelam hilang kesadaran)… lalu terbawa arus dan menghilang.
Gilanya lagi, semalam sebelumnya instruktur D dan para murid asik berpesta minum alkohol sampai pagi. Suatu hal yang pantang dilakukan bagi penyelam manapun, apalagi seorang instruktur dan pemula. Kami menenangkan si ibu, tapi sampai malam hari si anak belum ketemu. Katanya sih sebuah kapal patroli sedang ikut mencari. Di tengah tangisannya saya mendengar bahwa dia baru kehilangan anaknya yang lain karena kecelakan motor sebulan sebelumnya. Kecil kemungkinan si anak yang hilang di laut masih hidup. Alhasil semalaman saya tidak bisa tidur membayangkan air yang terus menerus masuk ke dalam hidung dan mulut sampai menuju ajal…
Dari dua kejadian di atas, saya jadi mikir. Pertama, sebagai orang awam, kita tidak pernah diajari bagaimana melakukan P3K, apalagi memberikan CPR (Cardiopulmonary resuscitation - pertolongan bagi korban yang mengalami serangan jantung/pernapasan mendadak). Padahal di Amerika, CPR wajib diajarkan untuk semua orang. Meskipun saya pernah baca, tapi masih ga ngerti. Jantung sebelah mana yang ditekan? Berapa lama? Sampai apa?
Kedua, saya tidak pernah tahu nomor telepon ambulans dan polisi yang siap siaga 24/7. Kalaupun minta tolong, takut diperas. Kalaupun datang, kemungkinan besar membutuhkan waktu yang lama. Berbeda dengan Amerika yang tinggal telepon nomor 911. Dengan satu nomor telepon yang mudah diingat, sudah terintegrasi antara polisi, pemadam kebakaran, dan ambulans. Orang menelepon 911 karena kucingnya masuk gorong-gorong aja langsung datang… dan jalan aspal bisa dibobok demi menyelamatkan kucing!
Pesan terakhir: scuba diving adalah olah raga beresiko tinggi, maka patuhilah prosedur. Kalau mau kursus, cari tahu track record instrukturnya.



June 20th, 2009 at 6:06 am
wah, iya tuh. gw lagi baru aja mau belajar diving gara2 tertarik pas ikutan trip discover scuba di oz kmaren. makanya skarang lagi cari2 tempat kursus diving yang ok tapi pas di kantong. :p
June 20th, 2009 at 12:47 pm
Waduh, di Bunaken kok rada2 seram gitu yah?
Bulan April lalu gue plus rombongan sebanyak 100 org dr Jateng jalan2 ke Manado&Bunaken. Karena di rombongan kami bnyak om2 & tante2-nya, maka pilihan paket tournya cuman snorkeling aja. Nah setelah acara snorkeling itu selesai, salah seorang tour guide kami tampak lemas. Awalnya dia sudah mabok laut pas naik kapal menuju Bunaken. Dia kira paling2 cuman lapar saja, shingga gak ada usaha utk ke dokter atau minum obat apa gitu tp cuman isi perut sewaktu lunch aja. Enam jam kemudian setelah dinner, tour guide tersebut tiba2 jatuh pingsan dan langsung dilarikan ke RS dgn taxi. Setengah jam kemudian dia sudah meninggal di UGD tanpa diketahui apa sebab musababnya. Baru kali ini gue ngalamin hal yg mengejutkan skali sewaktu jalan2. Makes me appreciate life more than ever….
June 20th, 2009 at 6:39 pm
Iya, mbak T bener. Saya juga ga tau nomor telepon polisi sama ambulan. Aturan polisi kita udah mulai promosiin nomor telepon mereka untuk melayani masyarakat. Ayo dong Presiden baru. Jangan cuma lanjutin politik aje. Perhatiin juga kesusahan kite-kite.
June 20th, 2009 at 9:39 pm
Mbak trinity, salam kenal. Kemaren saya sempet baca buku The Naked Traveler tp blum selesai, hehe..
wah serem juga yah.. Tp bukan salah Bunakennya, ato jalan2nya, mungkin emg takdirnya begitu ya. saya turut prihatin. Dan ikut sebel juga sama instruktur D itu, kok bisa2 nya ya.. cckckck..
iyah ni saya juga ga tau nomor2 penting kl tiba2 terjadi sesuatu. Smoga kita semua senantiasa dilindungi-Nya. Amin.
June 21st, 2009 at 10:50 am
nomer polisi bukannya 112 ya? *kalo gak slh*
karna keseringan ntn serial2 amerika sy jadi was2 ama kejahatan gt. kalo disana ada 911. lha disini.. *oke OOT*
he’eh. gak ada pendidikan ttg pertolongan gitu..jadi serem.
June 21st, 2009 at 12:52 pm
Gw setuju banget ttg harus adanya satu no panggilan keadaan darurat seperti di US (911). Paling gak kita gak ribet saat keadaan terjepit di kota mana aja. Masa iya kita harus ngapalin nomor telp kantor polisi atau RS di semua propinsi?? Capede…
June 21st, 2009 at 3:19 pm
Bener, carilah tempat kursus dan instruktur yg bertanggung jawab. Instruktur saya strik banget ama aturan. Dia bilang, diving itu olahraga fun, asal kita ngga neko2 dan nggak sok2an, dan ikutin semua aturan. Kadang emang ada sih diver (baik yg udah jago maupun pemula) yg sok2an lomba dikit2an pake udara, lomba dalem2an, ngapain? Kita turun ke bawah mau nikmatin surga bawah laut, bermain2 dg ikan2, bukan utk nyari rekor yg nggak2.
June 22nd, 2009 at 9:17 am
Keknya di Indonesia masalah safety masih dinomer-sekiankan.
June 22nd, 2009 at 10:52 am
mbak Trinity:
tambahan sedikit: hampir semua kegiatan outdoor punya resiko tinggi. banyak orang yang ‘lupa’ mengenai hal ini. contohnya seperti rafting. seakan-akan kegiatan ini bukanlah aktivitas serius, padahal secara statistik dunia kegiatan ini punya catatan resiko fatal yang paling tinggi. bahkan lebih tinggi daripada terjun payung (sky diving/freefall)
safety punya harga. oleh karena itu, jangan berharap terlalu banyak dari penyelenggara kegiatan outdoor yang menawarkan harga dibawah rata-rata. cek juga kredibilitas & track record nya.
kapan kita diving bareng lagi?
June 24th, 2009 at 11:36 am
Ah, boro-boro mau scuba-diving. lah wong, berenang aja aku nda bisa. hehehehe…
June 24th, 2009 at 5:13 pm
Memang negeri kita terkenal dengan orang2nya yg cuek sama nyawa. Jangankan nyawa orang lain, sama nyawa sendiri aja cuek. Nyebrang gak nengok ki-ka tau2nya kesamber busway. Naek motor malam2 gak pake lampu, keseruduk angkot. Sensitifitas terhadap safety procedure sangat kecil. Bagaimana merubahnya? Bentuk disiplin sedari dini. Ikutsertakan ke kegiatan2 yg beresiko tinggi, dgn tujuan lebih aware terhadap safety procedure: jangan larang anak trek2an motor namun ajarkan mereka bagaimana cara ngetrek yg safety - pake helm dan pengaman tubuh lainnya. Selebihnya urusan nyawa, hanya Tuhan yang tahu.
Anyway, kalau mau belajar CPR, bisa sama gue… cuma 3 prinsip: A-B-C… airways… breathing… circulation…
June 26th, 2009 at 4:31 pm
iya..112 tuch baru dilaunching tahun ini..nomor darurat polisi kita….
gw diving cmn berani sampe kedalaman 4m..krn gk bisa berenang….hehehhe
June 27th, 2009 at 6:24 am
Ngeri baca posting mbak trinity kali ini. Soalnya sy pas lg d bunaken. Untungnya instruktur sy ngerti bgt sm org yg br nyoba diving pertama kali :d
June 27th, 2009 at 12:11 pm
ngeeriiii….. ai kan di manado nih…respon to milka..gue tahu orgnya lhoo tour leader dr tour A kan..n rombongan dealer dr perusahaan S kan…. tragis bgt tuh bpk.. masih muda n beranak 2 kecil2..
June 28th, 2009 at 9:03 pm
hai mbak..memang seharusnya awam diajarin cpr. lha wong g susah jg kok. pas tugas d pulau yang sebag besar pduduk penyelam,aku smpet ngajarin mereka cpr. lumayan lah,meski g smuany bisa dg baik… jangankan d tmpat tpencil kaya bunaken. d center kesehatan yg kayanya lengkap aj,alat resusitasi masi terbatas. g tiap ruangan ada..
July 2nd, 2009 at 4:47 am
setuju banget sama mayawati, hantulaut en mas ihsan kusasi…
yang pada sok2an itu, disuruh bungy jumping juga pada kencing di celana tuh…
mo belajar cpr gampang kok, dulu gue belajar di rs harapan kita. di bagian jantung. waktu itu sih masih murah banget. gak tau deh sekarang. ato kontek aja tuh mas ihsan kusasi. hehehe…
July 2nd, 2009 at 1:16 pm
Hi Ms.T
kalau saya gak slah inget Ms. T pernah ke thailand kan. kalu saya boleh tau temapat wisata di tahailan yang bagus apa saja ya?
thanks Ms.T
July 4th, 2009 at 12:09 pm
Ya tuhan, serem ya…
Semoga bisa jadi pelajaran yang berharga buat kita…
July 5th, 2009 at 3:48 pm
jadi pengen belajar CPR nih ?
July 12th, 2009 at 9:40 am
q jg dah baca bukunya The Naked Traveler! ibu q smpe nanya baca apa toh kok ketawa2 smpe segitunya! he.. ketauan akhirnya dia ikutan baca!
Jamannya masih aktif di pramuka sering ikut camping, pesen dari senior yang paling aq inget sampe sekarang kalo datang k kota ato tempat baru, first tempat yang harus dicari ntu fasilitas kesehatan sama kantor polisi terdekat! jadi kalo ada ap2 bisa langsung tau deh harus kemana..
July 21st, 2009 at 7:31 pm
Ada sih, Call 112 for anything related to Police matter, at least itu yg gw baca di billboard gede di jalan. Apa bisa ya tlp nomor itu kl ada susah kita?
Gw pernah diajarin CPR pas kerja di Klinik Internasional di Bali, pake boneka, aduh susah bener niupnye!!! Kudu kuat paru2nya…
July 25th, 2009 at 6:11 pm
Yg menarik d sini, menurut sy mengenai 911. Untuk menyelamatkan seekor kucing saja, polisi mau turun tangan. Dan benar kata mbak, kalau di Indonesia, laporan ini itu, selalu ada UANG PELICIN nya. Pengalaman saya dengan para “pemeras legal” itu lebih menyedihkan dan menggeramkan. Benci saya kalau ingat kejadian itu. Tapi Alhamdulillah, ada sedikit kemajuan mengenai kedisiplinan polisi skrg. Contohnya, waktu sy mau memperpanjang SIM. Sekarang, tanpa “orang dalam” pun, kita urus sendiri tidak nunggu lama kok. Dan tidak ada polisi yang berani “main belakang” lagi. Mudah2an ada kemajuan lain yang terus dan terus. Amin. MERDEKA
August 3rd, 2009 at 2:54 am
Btw kalo belajar praktek langsung CPR dimana ya? Liat berita anak Michael Jackson aja udah ngerti prosedur CPR, sdgkan saya perasaan udah berumah tangga saja tdk tau cara praktek langsungnya, waktu sekolah dulu hanya diajarkan sekilas2 saja, itupun hanya teori.
August 12th, 2009 at 9:09 pm
@ Yuni : Setuju mba! Saya jua udah punya anak 2 g tau gimana CPR sebenarnya. Tapi kalo mo sok tau doank sie bisa… Di pilem Barat sering liat
Emang di Indonesia ini, kitalah yg harus pandai2 menjaga diri sendiri. G bisa ngarepin orang lain tuh!
@ Fhoto666 : Emmmmberrr…. Saya juga pernah tuh! Sebel sama PNS! Udah dapet banyak tunjangan, kok masie tega2nya meras kita yg lg kebingungan ngurus masalah yg berkaitan ama MEREKA! Gw trauma masalah ngurus ganti Blangko Sertifikat rumah! Haaalaahhh… dioper sana sini gw! Bete…! Masa buat minta stempel aja butuh waktu seMINGGU!!!
August 17th, 2009 at 3:59 pm
I got panic attack when I was in Gili Island..right when I reach 20 Meter depth..but thank God I Dove with the Brilliant DM..he Saved my Life..and God saved my life.>>.
September 1st, 2009 at 10:32 pm
CPR, yang pertama JANGAN PANIK.!!! ITU RULE OF THUMBS !!! Coba panggil orang tsb untuk lihat respon dia, kalau tidak ada respon, periksa napasnya dengan cara tempelkan telinga kita di lubang hidung korban sambil perhatikan pergerakan dadanya. Kalau lemah, lakukan CPR.
Tekan dada korban dengan dua telapak tangan kita tangkupkan pada posisi jantung ( tarik garis imajiner diantara dua puting susu dan tentukan titik tengah dari garis itu - disitu posisi jantung). tekan dengan ritme yang konstan dengan kecepatan 100 x / menit. Tekan 30 Kali dan berikan bantuan pernafasan “mouth to mouth” sebanyak 2x. lakukan berulang2 sampai pasien sadar atau petugas medis datang.
Pemberian nafa bantuan : sangga leher pasien dengan tangan, pencet hidungnya dan tiup mulut pasien sebanyak dua kali.
tujuan CPR adalah menjaga jantung tetap dapat memompa darah ke tubuh terutama otak. Sembari kita lakukan CPR, minta orang lain untuk menghubungi petugas medis.
Semoga bermanfaat
September 25th, 2009 at 1:50 pm
haduh..haduhhh…memuakkan bgt tu instrukturnya….bir membawa petaka….jd inget kejadian malpraktek dokter gara2 si dokter minum2 bir semalam sbelum kerja….
December 6th, 2009 at 8:22 pm
mba T, saya tau kejadian ini. Kebetulan, DM yang anaknya meninggal ini adalah Instruktur saya ketika belajar diving tahun 2002 yang lalu. sedih sekali karena kejadian yang sebetulnya bisa dicegah seandainya kita semua hati - hati dengan diri kita sendiri apalagi menyangkut nyawa. duhhh…
nggak nyangka saya bisa baca kejadian ini lewat mata salah seorang rombongan.
thanks for sharing mba, Pak FK (Ayah DM itu) sekarang masih aktif jadi diving guide dan kemarin sama - sama diving di acara Guiness world of record di Manado.
GBU
December 7th, 2009 at 6:08 pm
dear mbak T, pinjem buat share di miling list-nya IBP ya ….
Thanks b4