There is always a first time

by Tjahja Junindra*

TJ & istri di Masjid Sultan, Kampong Gelam, Singapore
TJ & istri di Masjid Sultan, Kampong Gelam, Singapore

Sudah ‘tuwir’ baru bisa jalan ke luar negeri. Begitulah nasib saya, yang kiranya cukup mewakili sebagian besar orang kantoran level menengah Indonesia. Sekalipun punya corporate title cukup keren, belum tentu gajinya cukup besar. Kalaupun bekerja di perusahaan asing, belum tentu dapat fasilitas overseas training. Kalaupun bisa menabung, sebentar kemudian menikah, dan setelah itu mencicil rumah, mengkredit mobil dan mengangsur ini itu, habislah alokasi tabungan. Boro-boro pelesir ke luar negeri, ke Bali saja belum tentu lima tahun sekali. Sebetulnya pelesir bisa disiasati agar bujetnya minim. Tapi buat orang kantoran seusia saya, pelesir irit-irit cenderung dipandang aneh, yang ketuaan untuk sebuah petualangan lah, yang pelit lah, dll. Tapi saya dan istri sih biasa jalan-jalan irit. Ke Bali misalnya, naik mobil, tanpa punya target lokasi, tanpa reservasi hotel, patokannya cuma satu: tanggal sekian harus pulang karena cuti sudah habis.

Menjelang usia 36, saya dan istri baru bikin paspor untuk perjalanan yang sederhana sekali: ke Singapore dan lanjut ke Malaysia. Karena sudah biasa pelesir di dalam negeri tanpa rencana detail, maka pola yang sama kami lakukan juga untuk perjalanan perdana ini. Kami cuma membeli tiket pesawat one way ke Batam dan memesan budget hotel di Singapore untuk satu malam. Selebihnya urusan nanti. Tips pelesiran kami googling dari internet, dan karena kami cinta laut maka salah satu keyword-nya adalah pantai mana yang bagus di Malaysia, hasilnya adalah Perhentian Island atau Langkawi. Wah, mencar banget tempatnya! Yah itulah, lihat nanti saja di sana. Tiba di Marina Bay Singapore, saya dapat cap perdana di paspor yang masih polos itu, rasanya bahagia banget. A dream came true! Sudah lama ingin ke luar negeri, baru kesampaian sekarang. Singapore segalanya sempurna, ya kotanya, ya manusianya, ya hotelnya, pokoknya puasss! Untuk lanjut ke Malaysia, kami bertanya ke beberapa travel agent soal paket wisata pantai. Ternyata hanya ada paket ke Langkawi, itupun mahal. Maka rencana diubah: ke KL dulu, baru disana nanti dipikir lagi.

Sore hari kami pun berangkat ke KL naik bus, sekitar jam 11 malam tiba di perbatasan sisi Singapore. Begitu lancarnya proses imigrasi: penumpang turun dari bis beserta seluruh bawaannya, paspor dicap, dan masuk bus lagi. Bus lalu berjalan dua kilometer dan berhenti lagi untuk pemeriksaan imigrasi sisi Malaysia, sekali lagi kami turun berikut semua bawaan. Seorang petugas imigrasi yang masih sangat muda memeriksa paspor saya. “Mau kemana?”, katanya galak. “KL”, jawab saya. “Tiket pulangnya ?”, tanyanya lagi. “Nanti saya beli tiket train di KL ke Singapore”, jelas saya. “Tidak bisa, tidak boleh masuk, kembali ke Singapore, bawa tiket pulang baru boleh masuk”. Saya berusaha menjelaskan bahwa kami hanya ingin melihat KL satu hari saja dan menunjukkan voucher hotel semalam. Petugas tetap galak, “Pokoknya tak boleh masuk Malaysia, pergi ke seberang jalan sana nanti ada bus ke Singapore”. Dialek Melayu orang sana cukup sukar dipahami, apalagi dalam suasana tegang seperti ini. Kami semakin panik karena semua penumpang lain telah sukses melalui imigrasi dan sudah masuk bus. Akhirnya petugas bertanya, “Berapa banyak uang yang kamu bawa?”. Kepanikan lain muncul, kami akan menjadi korban pemerasan. Ternyata maksudnya untuk membuktikan bahwa kami punya cukup uang untuk beli tiket pulang dan hidup beberapa hari di sana. Saya buka dompet dan tunjukkan beberapa ratus Ringgit. “Tidak bisa. Terlalu sedikit”. Saya tunjukkan beberapa kartu kredit gold. “Tidak bisa. Tunai”. Saya buka ransel dan ambil simpanan USD (memang uang saya umpetin di tas terpisah-pisah buat jaga-jaga kalau kemalingan biar masih ada yang lain). Setelah saya tunjukkan USD itu, si petugas nyerocos, “Mau jadi apa negara saya kedatangan orang seperti kelian… bla bla bla “. Aduh sakit hati ini, rasa kebangsaan ini benar-benar diinjak. Sering saya baca berita pelecehan kepada WNI oleh orang Malaysia, sekarang saya alami sendiri. “Kami pelancong”, itu kata terakhir saya, dan dibalas dengan cacian atas realita pendatang haram dari Indonesia. Namun akhirnya cap diberikan juga di paspor kami. Cis!

Setelah masuk bus, beberapa penumpang bertanya apa yang terjadi. Seorang penumpang usia akhir 20an yang duduk di dekat kami memperkenalkan diri, katanya dia aslinya orang Bandung tapi sudah beralih warganegara Malaysia, profesinya EO untuk band-band Indonesia yang tour ke Singapore dan Malaysia. Teman baru ini menjelaskan bahwa di Malaysia tidak mudah untuk pelesir irit-irit karena karakter bangsa sana yang memang dasarnya unfriendly dan belum sadar wisata. Jam 3 dini hari, bus sampai di Puduraya KL. Saya kira terminalnya bagus, ternyata tidak lebih bagus daripada terminal bus Bungurasih di Surabaya! Sialnya lagi, penumpang diturunkan di pinggir jalan yang suasananya seperti di Pulo Gadung. Deretan taksi butut dengan sopir berwajah India memenuhi sepanjang jalan. Mengerikan! Si teman baru berkata, “Mas, orang-orang ini semua evil (itu exactly yang dia bilang: evil), catat nomor hape saya ini, nanti kalau ada apa-apa telepon saya”. Lalu dia berjalan meninggalkan kami yang terbengong-bengong di pinggir jalan. Beberapa saat kemudian dia kembali lagi. “Saya tidak tega meninggalkan kalian disini, sebentar lagi adik ipar saya menjemput, saya antarkan sampai ke hotel”. Aduh leganya. Saya berikan nama dan telepon hotel tujuan kami kepada si penolong dan dia menelpon ke resepsionis hotel minta diberitahu arah. Lama berputar-putar tak karuan, akhirnya kami bertanya kepada seseorang. Sial, rupanya si resepsionis memberikan arahan yang salah! Begitu tiba di hotel yang katanya bintang tiga itu, saya berpikir pantas saja hotelnya ngasih diskon abis, rupanya sepi pengunjung, kurang terawat, dan punya resepsionis yang dodol tanpa minta maaf pula.

Kami bangun ketika hari sudah cukup siang. Tiba-tiba istri saya berkata ngambek, “Pulang! I don’t want to be here! I don’t want to go to Langkawi“. Yah, beginilah kalau kesan pertama yang buruk membuat kami kapok. Maka siang itu kami cari tiket kereta ke Singapore sambil mampir ke Petronas tapi tidak bisa naik ke atas menara karena kesiangan, lalu putar-putar kota dengan bus dan sky train, kemudian mencari Petailing (pasar produk fake branded) tapi tidak ketemu juga walaupun sudah tanya sana sini. Duh! Besoknya kami ‘kabur’ naik kereta non AC, pemandangan yang disuguhkan pun cuman kebun karet dan sawit yang monoton. Rasa lega yang luar biasa ketika kami tiba di Singapore. Kami pun menghabiskan sisa liburan di Singapore, naik turun subway, keluar masuk mall, ke kebun binatang malam-malam dan jalan kaki keliling kota sampai gempor.

—–
* Tjahja Junindra (TJ), hampir 40 tahun, pengusaha kecil bidang survei riset pemasaran, tinggal di Surabaya tapi berkantor di Jakarta. Punya hobi nyemplung laut tetapi tidak bisa berenang, alhasil dia terpaksa ribet membawa jaket pelampung kemana-mana. Di dunia maya, TJ adalah salah satu penggiat pada milis Paguyuban Karl May Indonesia.


Trinity

Indonesia’s leading travel writer & blogger whose life story became a movie. Author of 15 books incl “The Naked Traveler” series.

110 Comments

  • Dessy
    May 19, 2010 12:58 pm

    wah saya aja yg tinggal di singapur nga berminat untuk pergi ke malaysia..dan nga merekommend ke temen2 untuk pergi kesana..nga ada yg bagus disana..mendingan ke thailand atou jelajahin indonesia yang lebih indah berkali2 lipat. buat apa kta nambahin pemasukan orang malaysia dan belanja disana? sementara mereka ga anggep kita?

  • ari kuncoro
    May 30, 2010 10:03 am

    Om TJ! ternyata gw juga punya pengalaman yang sama waktu di border Singapore-Malaysia. tapi keadaannya dibalik. waktu itu gw keluar dari Johor Bahru dan mau masuk ke Singapore.. gw kena kasus ama petugas imigrasi singapore. gilaa.. gw udah dianggap kayak teroris, imigran gelap, gembel, kutu busuk yang cuma mau gerogotin dan bikin ketidak tertiban di Singapore. padahal kalo nge-gembel aja sih emang udah niat dari awal.. hahaha.. Masa mau masuk singapore aja disuruh sidik jari tangan kanan kiri, digerepe-gerepe dari atas ampe bawah, ditanya ini itu, disuruh pake kacamata secara live. -soalnya di paspor gw pake kacamata, dan waktu kejadian gw pake softlens- kebayang kan puyengnya kepala waktu make softlens ditambahin kacamata, mereka cuma mau nyamain muka live gw ama muka yg ada di foto paspor.. duuh penglihatan gw rasanya mirip mata normal ketiban lensa minus.. busyeett dah.. udah gitu dompet digeledah tanpa ampun, karena emang gw gak bawa duit banyak, gw cuma bilang “please officer i just wanna buy ur f*&kin merlion’s keychains and try your subway cause in my country i have only busway..” hag hag hag…

  • malon
    July 14, 2010 10:43 am

    saya aja disuruh ikut pelatihan ke malingsia ogah, takut lagi sial or apes…..

  • len
    August 23, 2010 3:46 pm

    Memang menyebalkan kok ke malay itu,secara sy sudah berapa kali ke sana,tapi kok ya semakin kesini mereka makin kurang ajar ya?? Apa karena mereka mikir lebih superior gitu? Haloo?? Wake up!!
    Makanya gw setuju pemotongan nominal rupiah,biar gak mereka rasa uang kita ancur banget di banding mereka.
    Kalau boleh kasih saran sih,bisa gak negara kita lebih tegas terhadap mereka?
    Seperti,hentikan pengiriman tki kita (arahkan saja pengirimannya ke negara lain)
    Biar mereka blingsatan gak ada tki,siapa yg mau ngerjain kebun nya? Biar mereka nangis2 bombay karena merugi..
    Kita gak terlalu susah kok klo gak berhub sama mereka,mereka yg akan susah klo gak bisa berhubungan sama kita..tau gak sih,besar sekali devisa yg mereka dapat dari turis atau pasien indonesia yg datang berobat ke sana?
    Semoga mereka cepat tobat!!

  • rina
    September 27, 2010 8:20 pm

    Saya juga punya pengalaman buruk naik bus dr sing ke KL, saat pemeriksaan imigrasi saat itu saya pergi dengan tante saya, semua uang tante saya yang simpan di tas nya, saat mau dicap, saya yang duluan dan ditanya bawa uang berapa, saya jawab RM 500 sebagai formalitas jawaban saja, sebenarnya uang yang dibawa lebih dan masih ada US dollar juga, dan petugas menyuruh saya menunjukkan uang tersebut, saya bilang ada pada tante saya di belakang antrian, langsung saja saya disuruh ke kantor dan menghadap sendirian, disana saya langsung ditanya2 tujuan ke malaysia dan masalah uang, lalu tante saya dipanggil masuk juga, kami bertiga dengan sepupu saya yang masih SMP dimaki2 dengan masalah saya hanya bawa uang RM500 mau buat apa? Indo semua bodoh! Tak ada otak, dan cacian2 penghinaan yang tidak ada sangkut pautnya selama hampir setengah jam dengan nada kasar, membentak2 ( petugas orang Melayu ), dan dia juga tidak percaya saya punya uang, kami sungguh sakit hati, shock dan trauma mendapat perlakuan sekasar itu, padahal dalam paspor lama saya masi ada student visa di Limkokwing yang yang lumayan mahal biayanya yang menunjukkan kita tidak serendah dan semiskin yang dikatakan petugas tersebut, akhirnya setelah mau 1 jam kami diloloskan juga dalam keadaan yang sangat2 tidak kami sangka2 mendapat perlakuan seperti itu yang belum pernah kami alami di negara2 lain.

  • linda
    November 23, 2010 3:54 pm

    kl aku enggak pernah tertarik tuuh ke malay..perasaan gak ada bagus2nya biasa ajah..mending ke tana toraja atau bunaken deh..cuma petronas ajah bangga. plis deh.

  • meutia
    November 24, 2010 3:25 pm

    Saat transit di KLIA, untuk kembali ke Australia dari Vietnam, saya dipanggil-panggil petugas bandara. Pesawat yang akan berangkat ke Makasar sudah menunggu beberapa orang, tetapi ybs tidak muncul-muncul. Tampaknya saya yang berjilbab dan sedang duduk manis di sekitar ruang tunggu dikira tidak paham arti panggilan terakhir dari petugas. Tiba-tiba seorang petugas yang tak sabar melihat saya tetap cuek, berteriak, “kalau ditinggal pesawat, tanggung jawab sendiri ya,”. Saya pura-pura merem, padahal hati sakit sekali diperlakukan petugas bandara seperti itu. Saat giliran saya masuk ke ruang boarding tersebut, petugas yang teriak-teriak tadi menatap tajam, mengambil passport, mengecek boarding pass sambil bertanya dengan nada datar, “dari mana? mau ke mana?”. Saya tersenyum pahit, “dari Vietnam, pulang conference, mau ke Perth,” jawab saya sambil mengambil paspor. Si petugas langsung terdiam, membiarkan saya berlalu tanpa mau berkata apa-apa. Hmm, saya kasihan pada orang emosional dan suka buruk sangka.

  • aoth
    February 4, 2011 12:35 am

    Kecopetan di Pudu Raya – lagi nunggu bis ke Singapura. Sial, mana sudah tengah malam pula. Nunggu taksi sopirnya berwajah melayu atau china, pengalaman kalo india suka tepu2 untuk balik lagi ke apartment temen. Kejadian 3 tahun lalu – pas imlek. Sekarang ketawa ketir mengingat kejadian ini tiap imlek. hmmmmmm….

  • me
    February 12, 2011 5:16 pm

    minggu lalu sy baru pergi ke melaka…rute SG-melaka-SG…saya pergi bersama suami saya seorang singaporean…tetapi sy memang tidak ada ijin tinggal di singapur karna slama ini masih tinggal di indonesia… pada loket imigrasi masuk kembali singapur di johorbahru…petugas imigrasi menanyakan apakah sy punya tiket kembali ke indonesia, sy menunjukan tiket online yg ada di BB saya…dia jg menyuruh sy membacakan kode booking, jam dll…suami sy langsung menanyakan kepada dia : ada masalah apa sampai ditanya2, dia istri sy…petugas imigrasi blg tidak ada masalah dan langsung cap paspor sy … sebagai pemegang paspor indonesia, tampaknya memang kita mengalami hal-hal yg kurang enak seperti ini..:(

  • ARIE
    February 22, 2011 1:37 pm

    aduh…kok serem2 ya ? padahal udah booked untuk 14 Mei 2011 ke KL en rencana mo maen ke SG, gimana neh ? Padahal niat mo backpaker bener…

  • yulia
    March 7, 2011 2:07 pm

    Tahun 2009 saya dan teman-teman backpacker-an ke KL setelah dari phuket. pagi jam 10 sampai di terminarnya Airasia. karena kita baru pertama kali ke sana, jadi banyak tanya2 yang selalu di jawab dengan kata-kata ‘nggak tau’ dan ‘naik taksi saja’. karena sakit hati kita bertekad gak mau nanya2 lagi..setelah berhasil sampe bukit bintang,cari penginapan selalu di bilang penuh. akhirnya kita langsung ke warnet untuk ngerubah penerbangan kita yang tadinya besok sore ke singapur menjadi sore itu juga.

  • Roy
    March 24, 2011 1:55 am

    Buat semua teman2 di Indonesia,lebih baik batalkan rencana ke malaysia. Org2nya kurang ramah sama bangsa kita. Gak jelas kenapa, sinis aja bawaannya. Saya sih waktu ke malaysia lancar2 aja lewatin imigrasinya. Ke malaysia langsung dari jakarta ke KL pake Air Asia. gak ada masalah. Cuma ya org2nya aja sebagian besar pd belagu2, meski tdk semua. Etnis Bangladesh yg jualan makanan lebih ramah. Cuma saya dapet masalah pas masuk Singapur lewat Johor. Sampe ditahan diruang imigrasi sekitar 30 menitan. Kayaknya gara2 saya pake celana pendek tentara loreng hijau, rambut pendek cepak hehehe. Maklum pertama ke luar negeri, gak tau kalo di imigrasi itu harus kelihatan necis, kl perlu pake jas dan dasi deh biar lancar di imigrasinya. lagian pas masuk Sin pas perayaan hari kemerdekaan dia, pas ada parade militer segala. SIN bagi saya sama aja kyk di JKT, lebih bagus JKT malah, lebih meriah dan lebih rame hehehe. Males saya balik lagi ke SIN juga. Biaya hidupnya muahaallll.
    Kali ke 2 ke KL pas mau ke China, transit doang sekitar 4 jam. Gak ada masalah sama sekali. Petugas imigrasi cm nanya mau apa ke Hangzhou Cina? dijawab : mau jalan – jalan, dia senyum, lalu “bletakkkkk” passport di cap.
    Pulang dr Cina mampir lagi di KL, maklum naik Air Asia terus, dan lagi2 lancar2 aja. malah sempet nginep di KLIA dari jam 11 malem sampe jam 5 subuh. Soalnya pesawat ke JKT baru brkt jam 7 pagi. Lumayan nginep gratis, daripada di Hotel hehehe.
    Malaysia secara umum oke, hanya saja kenapa banyak warga mereka yang benci sama kita ya???

  • Roy
    March 24, 2011 2:04 am

    nambah dikit lagi.
    Kayaknya kalo ke malay lewat darat vias Sin emang rada ribet ya?? soalnya dianggap mau cari kerja dan gak balik lagi mungkin. Kalo lewat udara langsung ke KL gak ada masalah kl kita datang sebagai turis. Cuma kl sebagai worker lain cerita. Saya lihat pas di bandara LCCT worker asal indonesia digiring dan diomel2in sama petugas dengan muka pongah. kasian ngeliatnya.lebih parah lagi pekerja asal pakistan atau bangladesh, abis deh di maki di imigrasi.
    So, sebagai solidaritas thd rakyat kita, saya juga gak mau lagi ke malaysia. paling transit doang lah

  • aning
    March 25, 2011 1:06 am

    wah seru bacanya. saya jg pernah ngalami deg2an nya nyebrang ke KL dari Sin via darat. hanya berbekal doa agar nasib baik menyertai, krn klo modal duit jelas tak memenuhi syarat. hehehe syukurlah waktu itu bisa dicap paspornya tznpa ribut2 mesti sempat ada kejadian salah pintu waktu mau keluar dan didatangin ibu petugasnya. untung lagi dianya baikan. tp, setuju, gak usah ke KL lagi.

  • bunda_fathan
    April 6, 2011 5:36 pm

    kaya’nya 9 dari 10 pengalaman ke KL tidak menyenangkan ya… sy hy pernah transit aja di KL tp ga turun dr pesawat. pengalaman wkt ke Spore ma HK fine2 aja. padahal di HK kan banyak TKI/TKW dr Ind juga. Tadinya sy and klg pengen tau juga ma KL…tapi kalo liat dari comment2 disini…ga jadi deh… kayanya lbh banyak negara lain yg lbh recommended dlm meperlakukan tamu. even di Ind juga, jauhh msh byk tempat wisata yg blm dieksplorasi, mending jd tamu di negeri sdr dulu deh..:p

  • Lily
    June 17, 2011 5:20 pm

    Sy punya teman yg menikah dgn penduduk malaysia. Awal tinggal disana dia udah gak fun, secara orangnya senang bergaul dan asik bgt buat kita (rada ancur sih…). Menurutnya orang2 disana tuh gak enak diajak temenan, tepatnya mungkin sirikan (mungkin krn dia orang indonesia y..). Ada cerita yg bikin dia gemes bgt, waktu itu dia mau pasang AC dikamar anaknya. Karena rumahnya dia itu bangunan yg dibangun msh jaman penjajahan inggris, jd temboknya keraaaasss bgt. Otomatis khan mesti dibolongin yg menimbulkan suara yg berisik. Tiba2 datang polisi diraja malaysia, dibilang tetangga dibelakang rumahnya complain berasa terganggu gitu (benar2 gak ada toleransinya, masa orang ngebangun gak boleh berisik). Karena tahu, yg punya rumah istrinya orang indonesia, dah hari itu memang hanya teman sy yg ada dirumah dia kena denda (Hhiiii sebgtunya, reseh..). Dan memang ternyata tetangga belakang rumahnya sirik abis… dgn teman sy ini. Wah.. banyak d yg gak enak ttg malaysia, yg bikin dia makin rindu utk bisa balik ke indonesia lg. Nasihat sy, pikir2 dulu y klo ada yg calonnya orang malaysia. Daripd nyesel kemudian…. miris…

  • Boy
    July 19, 2011 1:20 am

    Pengalaman bolak balik dari johor ke singapore beberapa kali, ada bebera[a hal yang dicurigai oleh imigrasi singapore, krn dipikir kita ingin memperpanjang tinggal di singapore atau di malaysia, karena di cap 30 hari, beda kalau di batam ke singapore hanya dicap 14 hari. Saya selama ini tidak pernah bawa uang sin atau ringgit yg banyak, kalau ditanya mau apa ke Malaysia bilang saja saya pelancong. Kalau perlu gertak petugas imigrasinya. Malah saya bingung lebih ketat imigrasi di Indonesia, kalau di Malaysia asal bilang kita pelancong aman2, lansung cap.. beres, barang tidak pernah diperiksa.

  • Chika
    July 23, 2011 8:44 am

    Makanya sejak hari pertama saya menginjakkan kaki ke KL saya selalu pakai bahasa Inggris untuk bicara dgn petugas imigrasi Malay, resepsionis hotel, shopkeeper, dll. So, sekalipun mrk tau saya orang “Indon” mrk tetap respek krn ternyata saya ga bego2 amat

  • uja
    July 26, 2011 10:11 am

    salam dr malaysia,

    Emangnya kalian ga tau kenapa semua ini bisa terjadi?
    Kerana TKI kalian illegal mahupun legal, mereka sering melakukan kriminal disini. Sangat menyusahkan kami.

  • nebula
    August 18, 2011 2:58 pm

    Orang malaysia kampungan tidak pernah keluar negeri, jangan pernah ke negeri kampungan tidak tahu sopan santun itu. Nggak ada apa-apanya dengan jakarta, bandung atau bali.

  • vicco
    July 14, 2012 10:49 pm

    Saya malah pernah berikrar: nggak kan ke malaysia lagi, kecuali hanya transit!
    Saya masuk singapura dgn passport kosong ngga pake dilihat lho muka saya, lsgs cap… dr singapura landing di lcct kl, petugas imigrasinya amit amit, kyk tukang kredit nagih tunggakan 5 bulan… pdhl jabatannya aja ‘kakitangan imigresen’ sok galak… apalagi supir bis, org ga pny duit ‘syiling’ malah disuruh turun.. bru jd supir bis aja belagu… malaysian chinese tukang kweetiau goreng sama aja, tidak beretika.
    Malaysians got big problems with attitude…
    Not recommend to travel to malaysia, except for urgent only, or to transit only.

    Singapore and Thailand would be better for regional travel

    • galau
      October 13, 2016 2:18 pm

      dan ternyata turis dari malaysia klo datang ke Bali nyusahin loh mas. pengalaman teman yang guide lokal di Bali. Turis malaysia itu kalo makan mesti tau kokinya siapa.. gak percaya klo makanan halal ya emang halal.. klo kokinya bukan muslim doi ngga mau makan dan lebih milih makan di McD.. wkwkwkwk

  • -Kharis A Arief
    July 20, 2012 12:02 pm

    WAHHHHHHHHHHHHHHHHHH, jadi pengen jalan jalan lagi. Seneng baca informasi beginian

  • hamida
    July 30, 2012 1:34 pm

    saya berencana mau ke KL 3 september 2012 , dengan air asia hanya untuk melancong saja selama 3 hari.agak was2 juga baca liputan yg udah pernah kesana kok rata2 negatif ya…padahal aku berangkat sendiri dari Surabaya ( baru nanti bertemu di KL dengan teman2 dari Jakarta ) bisa minta di bantu info teman yg tinggal di KL for emergency ( hiks mendadak nervous !! ? plisss infonya…

  • kelvin sanjaya
    July 31, 2012 12:47 pm

    tenang saja mas
    saya udah hampir 12 kali ke malysia
    dulu waktu ke singapore > malaysia
    tapi kami dari singapore ke johor baru lebih dekat cuma perlu naik taksi
    ntar dari johor ke KL
    kakak saya kuliah di Kl
    jadi sudah hampir tahu semua jalan
    kalo mau ke petronas pergi sebelum jam 09.00
    karna cuma ada 150 tiket dalam sehari
    pergi aja genting , sun-way , time square
    bersikaplah sdikit seperti orang malaysia
    dan saat lain kali ke malaysia saya anjurkan jangan naik bus
    jika mereka mau kita bisa ditinggalkan bus

  • eka pryadi
    September 20, 2012 8:10 am

    seru baca cerita dan coment2nya, alhamdulillah ketika saya kesana july kemarin semua lancar, riset penting bgt dan banyak senyum, beli tiket sambil senyum, di imigrasi senyumin petugas imigrasi hehehe. saya di malaysia hanya beberapa jam di kl-2 hari di melaka dan ke SG via jalur darat. tapi memang untuk KL biasa aja, tapi untuk haritage city kyk melaka recomemded untuk jelajahi 🙂

  • fujiyama
    October 6, 2012 11:22 am

    WOW….!!!

    gwa 6 bulan sekali ke malaysia,

    masalah rakyat malay yg smbonk,,
    gwa ga ambil pusing,,
    dalam hati loe nya jha katrok
    emang gua pikirin…

    loe gue and 😛

  • Trackback: Apa Sih Istimewanya Singapore Zoo? | hari-hari-bunda.com
  • Me
    October 30, 2012 1:50 pm

    saya terakhir kali “ke” malaysia juga merasa diremehkan. benarnya aku ga ke malaysia, cuma fly thru aja. ehhh, pesawat mereka ninggalin saya, padahal dari indo pesawat mereka delay sendiri. saya complain kata mereka gue ketinggalan pesawat, gue argue mati2an, enak aja … akhirnya aku diizinkan terbang besok hari dan diberi hotel semalam plus airport-hotel-airport transfer. Tapi aku dibiarkan menunggu berjam2. aku ajak bahasa indo, dibales bahasa inggris….blueeehhhh….

  • aci
    December 18, 2012 8:17 pm

    saya ada rencana mau ke spore dan johor, stay di hotel di johor selama 6 hari. 3 hari pertama niatnya mau city tour di spore. kalau kita bolak balik imigrasi spore-johor kira2 ada masalah gk ya? karna mau jalan2 nya di spore tp nginep nya di johor (berhub mau irit dan mau ke legoland jg di johor jd skalian) ada yg bisa ksh ide most visited place at johor? thx 🙂

  • roy
    December 19, 2012 7:55 pm

    Saya baru pulang liburan dari kl ternyata kl ga seindah yg dibicarakan n dipromosikan org..setelah saya kesana perasaan biasa ªjª ga ada hal yg menakjubkan ternyata kl cuma gini ªjª..ga ada hal yg unik n berkesan..setiap saya bertanya semua jawaban cuek n geleng kepala ªjª ga ada ramahnya..kena tipu transport wisata nya..ternyata liburan diindonesia lebih menarik jkt walau macet n sesak tpi mengesankan..bdg surga shopping n kuliner,jogja..semarang,sby,bali,dll ohhh indonesia ternyata aku ttp cinta indonesia dengan segala keunikan dan keanekaragaman adat,budaya,bahasa,makanan,yg ga ada duanya dinegara manapun..mari kita dukung pariwisata indonesia..dengan berlibur dinegara sendiri..

  • Erwan Fadly
    January 27, 2013 11:55 am

    Mas2 sekalian,
    Pertama sekali saya ingin meminta maaf atas kebiadapan pihak authority di Malaysia..
    Saya amat berharap agar mas bisa faham yang itu adalah di Semenanjung Malaysia atau lebih tepatnya majority orang Malay. Cuba mas melawat North Borneo atau dikenali sebagai Sabah atau Sarawak.
    Walaupun tempat kami tidak ada shopping kompleks yang mega ataupun kekurangan fasiliti bertaraf 5 bintang, Saya pasti sebagai seorang Sabahan, pelawat kami akan layan dengan sebaiknya…kelebihan natural seperti pulau Sipadan yang terkenal seluruh dunia dan juga Gunung Kinabalu tertinggi di Asia tenggara. Pasti tidak ada sesalan.
    Walaupun dengan kebanjiran pendatang asing atas dasar political geography oleh orang Malay, kami tidak bisa menghina/memperlekehkan pelawat2 asing.

    apa2pun, Selamat travelling.. 🙂

  • Annisa
    February 8, 2013 11:23 am

    Wow..ternyata banyak yg senasib sama saya. Saya baru aja tadi malam balik dr Malaysia. Di bandara setelah dicheck paspor saya tiba2 saya dipaksa masuk ke ruangan kantor imigrasi saya. Petugasnya laki2 sepanjang jalan menuju kantor imigrasi malah bentak2 saya & teriak “cepat jalannya!!!!”. Pdhl saya sendiri ga tau salahnya apa. Ibu saya ikut mendampingi saya. Sampai didlm kantor, saya & ibu saya tanya “ada apa ya Pak?”. Bukannya dijelasin tp justru kita dibentak habis2an. Ibu saya dibilang “diam kamu! Kamu kalau bertanya coba baik2. Saya tau kamu lbh tua dr saya tp tolong sopan”. Aduh kesel setengah mati. Rasanya mau saya tonjok!. Setelah disuruh duduk & nunggu kurang lbh 20 menit, saya dipanggil. Ternyata saya ga salah apa2. Yg salah itu petugas imigrasi yg lupa nge-stamp paspor saya wkt kedatangan. Wkt saya mau keluar dr ruangan, saya msh dibentak2. Aduh maunya apa sih org2 Malingsia ini?!

  • vita
    February 8, 2013 6:48 pm

    Saya rencananya berangkat bulan April ke KL and that will be the 1st time for me traveling abroad cuma untuk berburu stamp supaya lolos visa ke korea doang ( hahahaha.. culun sekali alasannya). Kalo kek gini mending gak usah deh.. putar haluan!

  • tania
    February 9, 2013 9:10 pm

    kebetulan sept 2012 saya baru berkunjung ke melaka & KL, nemenin nyokap cek kesehatan di melaka, dan karena semua oke, langsung kabur ke KL dan ngabisin 3 hari ngoprek2 daerah bukit bintang (karena males pergi jauh2, dan nyokap perlu istirahat juga)..

    selama disana ga ada kesan direndahkan sebagai orang indo sih (saya cukup fasih bahasa inggris dan kata orang muka saya japanese :p), imigrasi bolak balik lancar2 aja, cuma karena di LCCT membingungkan (petunjuk arahnya bikin saya bingung, atau bahasa melayu itu sendiri yg saya kurang paham jelas), sempet diomelin petugas karena ngaco, ini saya anggap wajar karena memang kesalahan saya 😆

    di melaka yg sudah sering dikunjungi orang indo, semua oke, resepsionis di fenix at least bahasa melayu-nya jelas atau bisa english..
    di KL saya menginap di My Hotel (dekat Puduraya, sekitar 400mt lah) yg ternyata resepsionisnya org india, tidak bisa melayu sama sekali, untung semua oke..

    untuk ke petronas, ada jembatan direct dari belakang mall pavillon di bukit bintang, tembus di KLCC, sedikit lagi sampai di petronas 😀

    berhubung saya belum pernah ke SG, jadi perbandingan harga cuma didengar dari teman2 dan web, saya rasa harga di KL somehow lebih murah (maklum, cewek), makan kisaran 6 RM sudah lumayan, bahkan mie paling enak yg saya makan di melaka (mie vegetarian) cuma RM 5 untuk 2 porsi!

  • ira
    March 10, 2013 1:16 pm

    bbrp kali ke S’pore via KL , sepertinya perjalanan terakhir kemarin adalah pengalaman yang paling terburuk yg pernah saya alami selama transit di KL. Waktu itu saya travel bersama suami dan anak saya yang masih berumur 3 tahun. Singkat cerita, waktu itu kita jalan2 menggunakan sarana kereta monorail yang di KL Sentral, soalnya klo naik argo takut ketipu sama supir2nya gitu. Biasanya begitu mau masuk ke monorail, kan ada tuh pintu palang tempat kita charging ticket, nah waktu mau masuk, suami saya gendong si kecil, walaupun si kecil udah kena charge juga (lbh murah daripada org dewasa), tapi saya ngeri ngeliat pintu nya yg walaupun cuma setinggi paha orang dewasa, cuma buka tutup nya cepet banget kan. Tapi sama si petugas si kecil disuruh masuk sendiri, gk ush di gendong. And guess what happened next????? pertama suami yang lewat gk ada masalah, trus giliran gesek tiket lagi si kecil yg mau lewat, tuh pintu begitu kebuka, nutupnya langsung cepet banget dan anak saya dihantam itu pintu brengsek persis di pipi kanan dan kiri p nya (si kecil tinggi nya pas banget sepintu itu). Namanya saya sebagai ibu spontan teriak2 disitu minta tolong orang yg lewat plus kebetulan ada si petugas yg disitu, ehhh dasar A****G! (maaf kasar kata2nya), satupun gk ada yang perduli lewat begitu aja, paling banter cuma melototin saya yang teriak2 disitu plus anak saya yang udah nangis sekenceng2nya karena kesakitan. Saya langsung datengin si Petugas yang cuek bebek, ngadu, tapi apa hasilnya????? Dia cuma ngelongo sok2 gak ngerti inglis, saya bahasa melayu, ehh dia tetep melongo’, dasar G*B**K!!! bener2 dah! semenjak itu saya ngerasa trauma banget, tiap mau ke S’pore via KL selalu terbayang2 kejadian itu, saya msh gk bisa terima betapa sakit hatinya dapat perlakuan dicuekin begitu. Rasanya biar dikasih gratisan, saya gk sudi ke KL lagi! apalagi bawa si kecil, gak!!!

  • vinny
    April 29, 2013 1:31 am

    Kalo soal katroknya org malay si… Kyknya dia hidup dmn2 jg katrok. Temenku yg nikah ma org OZ pernah cerita, masa org malay g bs bhs english? Udh gt dia pernah ngeludahin temen kerja suaminya lagi. Untung ga dilaporin polisi. Udh gt mualesnya, juoroknya, mata duitannya minta ampun. Indonesia jorok, tp dia lbh jorok lagi. Hadehhh. Tepok jidat. Tmn2 OZ pd ga suka ma dia. Krn zero ramah/senyum. Na, akhir kata cmn tmnku aja yg mau nemenin dia. Scara ksian jg dia dipojokin sm org OZ lainnya. 🙂

  • hermin
    May 8, 2013 9:23 pm

    ini TJ yang juga suka baca blognya miss complain bukan? 🙂

  • eva
    August 21, 2013 11:55 am

    Saya baru pulang dari KL, dan saya sdh bertekad bahwa gak akan merekomendasikan siapapun ke malaysia.

    Orang Malaysia kasar, tidak ramah. Dan sebenarnya lebih indah negara kita. MENANGNYA DARI SISI KOTA YANG LEBIH TERTATA DAN PUBLIC TRANSPORTNYA. Tapi mestinya kita jg bisa kalau punya warga negara cuma sejumlah mereka.

    Di imigrasi anak saya dianggap “bising” dan disuruh masuk duluan dengan kasar. Bagaimana kalau dia hilang di seberang sana krn kami belum masuk. Petugas dengan muka bete memeriksa paspor tanpa mengecek nama kami maupun memandang muka kami. Terakhir yang diperiksa paspor anak saya yang perempuan, yang sudah saya suruh masuk karena dibilang bising (dan tidak dilarang juga oleh dia). Dia memarahi saya. saya bilang kan tadi dianya sendiri yang suruh masuk karena dianggap bising. Dia malah pasang muka tambah bete, dan bilang apa di Indonesia bisa begitu? Saya bilang saya oke-oke saja di imigrasi Indonesia, gak ada dimarah-marahi spt disini. Saya tanya, jadi gimana? Anaknya mau dipanggil lagi..eh, dia malah ngomeli saya..benar-benar menyebalkan malaysia, padahal itu di imigrasi kepulangan…

    Gak bakalan deh saya mau ke Malaysia lagi, walau kunjungan pertama saya dengan teman kantor gak seperti ini..tapi kunjungan kedua dengan keluarga benar-benar merasakan tidak ramahnya orang Malaysia.

    Pariwisata kita sebenarnya lebih menang kemana-mana..baik indahnya maupun ramah orangnya..Berada di Malaysia justru membuat saya semakin merasakan kelebihan Indonesia dibanding malaysia..Pantes mereka semua-semua mau caplok punya kita..Soalnya gak punya apa-apa..Pertugas hotelnya saja gak standar banget..Sudahlah bego-bego, gak ramah pula..minim senyum dan jorok..

    Buat yang mau ke KL..gak usah deh..mending Thailand deh..lebih murah disana shoppingnya..

  • eva
    August 21, 2013 11:59 am

    Di KL, baik kunjungan yang dulu maupun yg kemarin..saya gak belanja apa-apa..karena lebih mahal kok jatuhnya dibanding di Indonesia..Jangan bandingkan dengan Singapore kalau masalah harga, karena Singapore memang mahal.

    Makan mungkin lumayan..gak murah juga sih..standarlah..Tapi bener memang, penjual kwetiaw aja kasar..gak ramah..

    saya sampai search “imigrasi malaysia yang menyebalkan” saking jengkelnya karena ingin tahu bagaimana pengalaman orang-orang lain di malaysia..yg menurut agen travel saya memang banyak yang gak enak..

  • indah
    September 4, 2013 7:28 pm

    pengalaman saya ke sana cukup berkesan dan baik2 saja meskipun hari terakhir waktu pulang ke indonesia,di klia petugas perempuannya cukup sok galak.tidak ada perlakuan yg tidak menyenangkan,saya pikir saya cukup beruntung ya.5hari 5mlm di sana,saya juga naik bus dari kl ke sin,alhamdullilah tetap baik2 saja.petugas imigrasi juga cukup mengejutkan,ramah dan sopan. padahal sy sudah cukup gemetaran setiap kali melewati imigrasi malaysia.supir taxi nya india,dan china,tidak ada satupun yg tidak ramah,harga juga bisa tawar,bbrp teman memang berpesan,kalau melewati imigrasi malaysia memang kudu rapi dan jgn minderan.mungkin juga karena tki kita ya,. atau ketika kami berkunjung memang dalam promosi visit malaysia 2014,jadi mereka mungkin benar2 mau merubah badbehav nya,syukur2 kejadian buruk seperti mas tj tidak terjadi lagi ya pada kita turis indonesia.

  • Dame Rina Purba
    September 26, 2013 5:27 am

    Saya gk pernah tertarik pergi ke Malaysia, tapi waktu 2009 hanya pergi Ke Johor Bahru..dari Spore naik bus…setelah dapat stamp di imigrasi..gk ada masalah…tapi begitu sampai di Johor Bahru..saya bilang sama suami..pulang aja..ha..ha…yg penting dpt stamp..cum a masuk mall sebentar…15 menit kemudian..balik..ha..ha..kunjungan tercepat yg pernah kami lakukan 🙂

  • Dwi Mart
    October 2, 2013 12:44 pm

    Hmmmm setau saya klo thun 2009 memang nggak mudah masuk mslaysia…tp dr thun 2012ni sampai skg sangat2 mudah…

  • Skittles
    December 10, 2013 9:09 pm

    Pengalaman pertama ke MY thn 1998 dari Singapore lwt Johor (klu gak salah) diimigrasi berjalan lancar, tp saya ilfil liat stasiun busnya dan mal seputar situ yang menurut saya gak lebih bagus dengan stasiun bis cicadas haha dan menurut sy pun KL gak ada bagus2nya..Sebenernya nggak ada pengalaman buruk sih cuma tahun segitu pergi ke Sing + MY buat kantong sy ckp mahal dan ngerasa dapetin yg gak sepadan, sejak itu selama bbrp tahun MY sy coret dari list melancong, saya mampir lg ke MY semenjak ada Air Asia itupun rada terpaksa karena harus transit atau tugas kantor

  • Hasti
    January 26, 2014 3:43 pm

    Sy prnh ribut di klcc malingsia.gara2 petugas imigrasinya bentak2 ibu2 TKW.gak terima bgt bangsa qt digituin.apalagi TKI yg jelas2 terpaksa ninggal keluarga demi sesuap nasi.akhirnya kubentak2 balik si petugas imigrasinya bwt belain ibu2 TKW.dan sejak itu sumpah gak akan nginjek malingsia lg.
    skrg sy pny tour travel khusus keluar negeri tp sy gak mau ngelayani tour ke malingsia meski nilainya ratusan juga.gak sudi!mending tdr di rmh drpd ngasih devisa bwt malingsia

  • Sari Yusuf
    February 1, 2014 5:04 pm

    Bagus Mbak Hasti! Kita harus bela harga diri bangsa, sudah jadi rahasia umum orang Malaysia menganggap Indonesia rendah. Saya mending ke Nigeria kale daripada ke KL … he he he

  • Erda
    February 3, 2014 11:18 pm

    Pernah nemenin teman yang first timer ke Singapore & KL (rutenya ke SPore dl), eh.. pas di KL mereka ga enjoy banget sama kotanya, katanya serem & boring. Hari kedua saya seharian nonton MotoGp di Sepang, eh.. mereka cuma maen ke Bukit Bintang sebentar, trus lanjut tiduran di guest house aja.
    Nah, kalo saya setiap tahun ke Malaysia cuma untuk nonton MotoGp sih. Atau sekedar passing thru alias numpang lewat doang tuk tujuan ke negara lain. That’s it, nothing else. Ga pernah tertarik juga untuk xplore, padahal banyak yg bilang Penang & Langkawi lumaya ok. Tp kalo ada yang nraktir ke sana sih saya mau, hehehe.. [^_^].
    Sejauh ini tidak ada pengalaman buruk berurusan dengan pihak Imigrasi Malaysia, apalagi di suruh nunjukin duit segala. Maybe karna saya selalu sok speaking english (meski grammer ga jelas, dan dulu jeblok banget nilai D di MKDU B.Inggris. Trus saya juga punya jawaban andalan kalo ditanya mau ngapain “I’m going to see MotoGp” atau “Transit Only!I’m going on vacation to bla…bla.. (sebut negara mana)” ditambah dengan ekspressi wajah sok tajir.
    Tapi buat saya pribadi, kalo ingin berlibur sih mending ke Thailand atau Vietnam sekalian.

  • Chandra Dimas
    February 7, 2014 4:18 pm

    Kalian tau gk sih malaysia itu kan oemalas tapi gayanya sok bgt padahal kaya anjing tau
    saya sempat sih dapat pengalam buruk bahkan masuk lokap hanya gara2 tiket
    padahla udah berapa puluh kali ke malaysia tapi pada awal 2014 tepat nya tgl 5january itu adalah pengalamn yg tak terlupakan dan q benci dgn malaysia apalgi dgn petugas india yg brengsek2 orangnya
    harus di ngat malaysia anjing bgt apalgi petugas imigrasi nya oadahal udah brapa puluh kali qsaya flighy ke malaysia dannegara lain

  • Mila
    May 17, 2014 2:34 pm

    Kalau bukan karena mak ku mo berobat, ga akan pernah kuinjak Negara Maling ini.
    Kejadian nya masih baru minggu lalu, Aku dibentak-bentak sopir taxi dari etnis china,salahku dimana ga ngerti,nyari kesalahan aja kayaknya biar bayar lebih, terakhir bawa-bawa nama bangsa, ini melayu, indonesia indonesia..gitu dia bilang, dia ga sadar kalo dia tu asalnya dari daratan china bukan melayu. Numpang aja kok sombong! Langsung kangen Indo jadinya.
    Kalo ga ingat mak ku sakit udah ku habisi tu si driver belagu and stupid.
    Hindari aja kontak dengan mereka sebisa mungkin, kalo memang ga urgent, darurat, emergency ga usah napak disana deh. Sakit hati yang ada. Banyak penipu dan kasar manusianya.
    Indonesia jauh lebih bagus dan orangnya lebih ramah, kita punya segalanya dan mereka iri. hihihiii..

    Indonesia lebih ngangenin… ^.^

    MALAYSIA is NOT a recommended country to visited!! RACISM country in the world.

  • Robin
    May 21, 2014 9:47 pm

    Tengkyu Bgt tuk info2 nya

    Qta jg akan berpetualang Dr sin ke KL dan setelah melihat ulasan diatas koq jadi gentar yahhhh…huhuhu takut gimana2 gitu pas di imigrasi huaaaa…

    Seandainya ga bisa masuk KL gmn ?

    Ohya adakah pengalaman ketika Share 1 kamar tuk ramai2 di Malaysia terutama hotel di bukit bintang gt misal masuk rame2 gitu pdhl qta pesen 1 kamar gt hehehehe

    Adakah yg punya pengalaman?

    Tengkyuuuu banget..salam traveller

  • Indomen
    May 29, 2014 9:01 pm

    ORANG MALAYSIA YG DI IMIGRAN DI BUH AJ TUH KALAU BKIN MASLAH.UNTUNG AJ G BERURUSAN SMA ORANG PALEMBANG…HABIS ITU UG DI IMIGRASI…BRENGSEK MALAYSIA..FUCKK!!!!!

Leave a Reply

Leave a Reply