Kuping Babi, Embrio Bebek, atau Kecoa?

Kalau sedang backpacking, makan di pinggir jalan itu menjadi agenda sehari-hari. Maklum harganya murah dan porsinya juga lumayan besar, selain itu cepat pula dalam penyajiannya. Soal rasa sih menurut saya enak-enak saja – mungkin karena saya menganggap semua makanan itu hanya ada enak dan enak sekali. Makanan jenis ini ada di pinggir jalan, baik di gerobak maupun ada di tenda kecil, pokoknya jualan yang tidak perlu masuk ke dalam sebuah ruangan restoran. Di negara kita nongkrong sebentar di depan rumah saja sudah banyak tukang jualan lewat. Ada bakso, mie ayam, nasi goreng, sate, bubur ayam, lontong sayur, es cendol, es kelapa, es podeng, dan lain-lain. Jajanan di tenda-tenda pinggir jalan lebih beragam lagi, ada pecel lele, ayam bakar, gado-gado, sop kambing, martabak, roti bakar, sampai ke makanan jepang dan dim sum.

Di negara barat, jualannya itu-itu saja. Standar makanan pinggir jalan mereka adalah burger, hot dog, kentang goreng, sosis (paling enak bratwurst Jerman!), pizza, dan es krim. Saya juga sering lihat orang jualan gulali, atau disebut cotton candy. Tapi justru jenis makanan barat itu telah mendunia sehingga bisa didapat di mana mana. Selain harga, bedanya tentu dari saos dan ukurannya. Contohnya burger pinggir jalan di Indonesia isinya kebanyakan bukan terbuat dari daging cincang yang tebal tapi patty – daging merah tipis yang banyak dijual di supermarket juga. Bandingkan dengan burger di Selandia Baru yang benar-benar bikin blenger, rotinya besar berwijen, ada selada, bit, tomat, bawang bombay, daging, telor ceplok, keju, bacon, mayonnaise, mustard, saos tomat. Perbandingan harganya, Rp 5000 versus NZ$ 5.

Khusus di Eropa, selain makanan yang telah mendunia tadi, biasanya tersedia jenis makanan yang dipengaruhi para imigran, seperti kebab dan shawarma. Yang agak lain paling jualan chestnut, sejenis kacang yang berukuran besar dan berwarna coklat ini biasanya dijual di gerobak dan dipanggang. Juga ada crêpe, yang mayoritas dijual di Perancis. Cuman kalau di Indonesia crêpe-nya manis sebagai makanan penutup, di Perancis bisa jadi makan siang karena isinya bisa ham, keju, dan telor. Di selatan Australia yang beda ada jualan meat pie, pie isi daging – enak kalau dimakan pakai sambal Indonesia. O ya, salah satu trik menambah napsu makan di luar negeri adalah membawa sambal sendiri, cukup yang sachet rasanya langsung selangit.

Di Asia kurang lebih sama dengan di negara kita. Dari semua negara Asia, kesamaan makanan pinggir jalannya adalah makanan yang terbuat dari nasi atau mie. Suatu pagi di Manila, saya kelaparan dan pengen sarapan. Pergilah saya ke warung depan hostel dan memesan makanan yang saya juga lupa apa namanya, pokoknya saya cuma bilang ‘breakfast’. Tak lama kemudian datanglah sepiring nasi putih, ceplok telor, dan kornet goreng. Idih, samaan gitu sarapannya kayak di Indonesia! Makanan pinggir jalan di Filipina kebanyakan gerobak berisi aneka barbeque, seperti ayam (setengah ekor), usus ayam, ceker ayam, aneka sosis, daging babi dan kuping babi. Saosnya ada dua, yang rasanya asam manis dan saos sambal. Yang aneh adalah balut, embrio telur bebek yang hampir menetas – meskipun sudah direbus, kalau dimakan bunyinya ‘kress’ karena masih ada bulu dan tulangnya! Ada lagi Banana Cue, pisang bakar yang dilumuri karamel dan ditusuk kayak sate. Wih! Sedangkan pencuci mulut yang terkenal adalah halo-halo – seperti es campur di negara kita, isinya kolang-kaling, kacang merah, jagung, nata de coco, pakai susu kental dan es krim ubi berwarna ungu di atasnya. Ya ampuun, enak banget!

Di Thailand sama aja, banyak gerobak jualan aneka barbeque. Ada juga jualan mie goreng yang disebut pad thai, atau nasi goreng yang disebut khao pad. Sup tom yam yang terkenal banyak dijual di pinggir jalan saja enak banget, disajikan panas-panas dan pedes banget lagi. Yang sama dengan negara kita lagi adalah jualan buah di gerobak, tapi biasanya hanya satu jenis buah saja seperti nanas. Sosis tradisional juga ada, terutama di daerah utara Thailand, terbuat dari daging cincang babi yang dibumbui. Yang paling aneh dan menjijikkan adalah jualan gorengan di gerobak, bukannya tahu atau tempe seperti di negara kita, tapi berisi cacing, belalang, jangkrik, kecoa, bahkan kalajengking! Gorengan jijay itu dijual bak kacang rebus di kita, dibungkus kertas yang dibentuk selongsong segitiga, dimakan iseng sambil jalan-jalan.

Soal kebersihan makanan pinggir jalan yah jangan ditanya deh, apalagi soal kebutuhan gizi. Tapi apa boleh baut, sebagai backpacker cuman itu makanan yang murah, tinggal berdoa saja semoga tidak sakit perut atau typhus. Yap, backpacker yang harus adventurous dalam segala hal, juga harus adventurous dalam hal makanan.

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

5 comments

  • bener bangetttt..hidup di negara maju tuh tersiksanya karena ngga setiap saat kita bisa dapetin makanan ringan dengan enak dan murah. ngga ada gorengan, mie ayam lewat, nasi goreng lewat dll…trus kalo kelaparan malam-malam juga ngga mudah dapat makanan di luar, terpaksa harus masak sendiri! atau harus sedia makanan buanyaaaakkkk di apartemen hehe

    Reply
  • aq ga mau cb balut..kasian.mbk T kalo kita yg muslim rada susah cr makanan yg halal..bisa2 ga makan krn semua bilang ‘no halal’..itulah!!adventurous jg sih tapi mo gmn lagiii..

    Reply
  • soal kebersihan saya kasih bintang di filipina. Saya makan di sebuah restoran, sendok garpu yang sudah dicuci mereka masukkan dalam panci elektrik untuk memasak sendok garpu itu.

    Malamnya saya makan di warteg jualan mi instan dekat hotel… Eh meski warung pinggir jalan, mereka juga masukkan sendok garpu ke dalam pot isi air mendidih (meskipun bukan elektrik). Dan kebanyakan penjual memakai sarung tangan…

    Di Thailand juga, tk buah – motong-motong buah pakai sarung tangan utk menjaga kebersihan.

    Reply

Leave a Reply