Naik Gunung? Kemping aja ah!

Baru-baru saja saya ikut kemping di kaki gunung Salak, ceritanya sekalian reuni Pecinta Alam SMA saya. Halah, cuman semalam saya di sana, pulang-pulang kaki saya pengkor 3 hari. Biar dikata kemping di kaki gunung, tetap harus hiking bukan? Kami semua tertawa mengingat masa lalu dimana kami sedang rajin-rajinnya naik gunung dan tidak pernah punya masalah. Sekarang saya saja heran kenapa saya dulu mau-maunya naik gunung – sudah capek-capek naik eh turun lagi. Berhubung ‘faktor U’ dimana kemampuan fisik yang sudah berkurang dan waktu yang semakin terbatas, biasanya saya dan teman-teman hanya mengendon di base camp untuk kemping. Enak rasanya ngumpul-ngumpul bersama teman di kedinginan malam alam terbuka. Jadilah tradisi naik gunung diganti dengan kemping bersama teman-teman.

Dulu setiap naik gunung punya 3 macam rokok: Marlboro putih untuk dihisap sembari jalan, Gudang Garam Filter untuk dihisap kalau ada istirahat sebentar, dan terakhir Dji Sam Soe saat bermalam atau sebagai rokok kuncian untuk merayakan di atas gunung. Bayangkan betapa kuatnya napas kala itu – dan betapa tidak sehatnya hidup! Sekarang boro-boro jalan sambil merokok, lah untuk mengobrol sepatah kata saja susah karena sibuk mencari napas. Dulu malah bisa gaya-gayaan bawa ‘botol gepeng’ alias alkohol murah meriah supaya menambah hangat, katanya. Apa coba?

Sekarang semakin tua, semakin ingin nyaman dan untungnya sudah punya duit untuk membayar kenyamanan itu. Soal makanan, semakin tua semakin borju. Dulu kan standar kemping adalah bawa mie instan dan keripik. Sekarang wajib bawa nasi, sosis, bakso, telor, kornet, roti isi (kalau perlu yang merk Daily Bread), dan lain-lain. Minuman saja berbagai jenis, seperti kopi, teh, susu dan air mineral yang banyak jadi tidak usah harus memasak air setiap ingin minum. Dengan jenis makanan yang demikian, tentu kompor juga tambah canggih – dulu pakai parafin, sekarang kompor gas dengan tabung kecil sekaligus peralatan memasaknya. Untuk kebersihan pun bawa tissue kering dan tissue basah, ditambah cairan anti bakteri untuk cuci tangan.

Dulu barang bawaan naik gunung hanya bermodalkan baju, sarung, dan sendal jepit. Sekarang rela bawa sleeping bag dan sepatu naik gunung dengan alas yang tidak licin. Kalau tempat kemping jauh dan membutuhkan waktu menginap beberapa hari, kami patungan membayar porter karena sekarang kami memang tidak mau susah dan untungnya mampu untuk membayar porter. Porter itu hebat sekali, seminggu bisa 2-3 kali jalan bolak-balik, sambil memanggul barang-barang berat pula. Heibat! Ketika saya dan teman-teman kemping sekalian diving di Pulau Sanghiyang, kami malah patungan untuk membayar 2 orang pembokat khusus untuk bersih-bersih dan memasak. Sehabis diving, makanan sudah tersedia. Sehabis makan, tidak perlu cuci piring. Ah, nikmatnya!

Kemping pun sudah punya gadget sendiri, sekarang tak usah repot-repot berteriak memanggil teman yang jalan jauh di depan atau minta sesuatu yang tertinggal di belakang. Kalau masih di kaki gunung, sinyal handphone masih ada, tinggal kirim SMS (untuk menghemat baterai berhubung tidak ada listrik untuk men-charge). Kalau sinyal sudah habis, kami baru menggunakan HT sebagai alat komunikasi. Mengenai alat transportasi karena dulu kami masih anak kos dan miskin, bela-belain nebeng truk orang (dulu rasanya bangga sekali bawa ransel dan nangkring di truk sayur mayur). Sekarang sih naik mobil dan parkir di titik terdekat dengan lokasi. Kalau masih dirasa jauh dan susah dijangkau, tinggal cari teman yang punya mobil 4-Wheel Drive seperti Land Rover atau Ford Ranger. Mantab kali!

Saat ini untuk naik gunung lagi, rasanya malas sekali. Bagi saya intinya adalah kumpul-kumpul bersama teman di alam terbuka, jadi tak perlu repot-repot naik gunung karena masih banyak tempat lain yang lebih mudah dijangkau. Namun kalau pun saya dipaksa harus naik gunung lagi, saya cuman mau naik gunung Rinjani. Itu pun syaratnya panjang: harus bawa porter yang juga jago masak, bawa makanan yang enak dan banyak, jalan sesantai-santainya, dan bersama teman-teman yang asik juga. Setuju?

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

7 comments

  • Mo naik gunung, ke pantai, ke hutan, ke luar negeri… kalo ngumpul rame-rame bersama temen2x deket rasa nya asikk sekali…
    pointnya memang kebersamaan.. hehehe…,, tapi kalo masih muda… segalanya di handle sendiri lebih punya tantangan dan pastinya nantinya bisa jadi kenangan manis :).

    Reply
  • Asik memang waktu inget masa muda dulu naek gunung bareng teman, tapi terakhir gue naik gunung gede mentok nge camp di kandang badak aja, males mau terusain lagi keatas. tapi kalo kemping2 aja gue biasa di sukamantri, bogor. Asik banget tuh tempatnya

    Reply
  • Botol gepeng? Gak salah lagi “mansion”, andalan kalo kemping di tempat yg dingin2, murah meriah, bahkan dulu sempet dijual dlm bentuk sachet.. Gokil…

    Reply
  • I would say after mountain climbing go to a spa or massage center.. For me it was all I needed.. LOL

    I would agree to different places that are more accessible and more fun.. But mountain climbing can be a bit challenging and you would likely to have it at least once a month or something..

    Great post.. thanks,.. Keep me updated of the next adventure.. hehehe

    Reply
  • Nggak kuat lagi kalo daki2 gunung, terakhir naik puncak sikunir Dieng sama kawan2 mapala, sama judule nya reunian juga, haiyaa … nafas udah mau putus aja. ???

    Bener T, intinya kebersamaan, aku kalo traveling bareng kawan2 dekat judulnya reunian sambil tamasya. ?

    Reply

Leave a Reply