Pulau Indah Terjajah

Have you been to Indonesia?” tanya saya kepada seorang teman di Italia.
Yes I have, but only stayed in Cubadak for 2 weeks,” jawabnya.
Cubadak? Baru kali ini saya dengar. Kok bisa teman saya itu bela-belain ke Indonesia hanya untuk leyeh-leyeh di Pulau Cubadak selama 2 minggu, tidak pernah ke Bali, tidak pernah ke Jakarta. Apa rahasianya sebuah pulau terkenal bagi turis asing tapi tidak bagi orang Indonesia? Saking penasarannya (dan kebetulan karena saya senang ‘berburu’ pulau), saya pun pergi ke Pulau Cubadak yang ternyata ada di Sumatra Barat. Dari Padang dapat ditempuh selama 2,5 jam naik mobil ke arah selatan dan 10 menit naik speed boat. Saya pun terkesima begitu kapal mendarat karena yang menyambut kami adalah seorang wanita berkulit putih dan sibuk memayungi kami (saya jadi merasa bangsa yang superior). Di resor ini tidak ada tamu orang Indonesia lain selain kami, selebihnya orang Italia. Saat makan yang selalu bersama-sama di ruang makannya dengan meja besar, saya benar-benar tidak merasa berada di Indonesia karena semua orang berbahasa Italia. Pulaunya benar-benar tenang, hanya ada 12 bungalow menghadap pantai dan di belakangnya hutan. Pasirnya putih, airnya yang berwarna emerald green sama sekali tidak berombak, pokonya tak terasa ada di pantai karena seperti berada di danau besar yang dikelilingi oleh pegunungan yang berawan. Keren abis!

Resor lain yang dimiliki oleh orang Italia adalah Pulau Gangga yang terletak di Sulawesi Utara, 2 jam naik mobil dari Manado dan sejam naik speed boat. Seperti biasa, kami adalah satu-satunya tamu dari Indonesia, sisanya orang asing dari berbagai negara. Sedangkan di Pulau Menyawakan – salah satu pulau di Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah – dimiliki oleh orang Swedia. Kedua pulau ini juga sangat indah, pasirnya putih bersih, airnya biru jernih. Pulau dengan resor yang dikelola bule ciri khasnya adalah lokasi yang sepi dan tersembunyi, tidak ada tukang jualan lewat-lewat atau warung-warung di pinggir pantainya. Biasanya kamar-kamarnya berinterior minimalis dengan bangunan yang terbuat dari gedek dan atap rumbia (keponakan saya yang berumur 5 tahun yang pernah menginap di resor a la bule berkomentar, “Kok hotelnya kayak kandang kuda?”), bahkan di Pulau Moyo kamarnya terbuat dari tenda terpal besar. Meskipun mereka men-charge dalam dolar, tapi sepadan dengan privasi yang kita dapatkan.

Berbeda dengan resor yang dikelola Indonesia – contohnya Pulau Sepa, Kepulauan Seribu – bangunannya terbuat dari tembok dengan interior yang ramai. Di benak sebagian besar orang Indonesia menginap di hotel adalah: menginap di kamar tembok dan ber-AC. Ukuran resornya pun pasti besar yang terdiri dari puluhan bahkan ratusan kamar. Parahnya, ada hall yang dilengkapi dengan karaoke atau live band yang berisik sik sik! Tapi memang tidak bisa disalahkan, memang orang kita senang kumpul-kumpul beramai-ramai sambil ngerumpi haha-hihi.

Masih banyak lagi pulau-pulau di Indonesia yang (sayangnya) dimiliki atau dikelola oleh orang asing, seperti Pulau Moyo di Sumbawa, Pulau Maratua di Kalimantan Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Raja Ampat di Papua, dan lain-lain. Tidak tepat juga dikatakan bahwa lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia adalah murni karena kesalahan Malaysia – meskipun kedua pulau ini masuk wilayah Indonesia namun Malaysia lah yang pertama kali membuat kehidupan di pulau ini dengan membuka bisnis hotel dan diving. Sebagai seorang scuba diver, terus terang saya lebih setuju dikelola Malaysia karena alam bawah lautnya jadi lebih terjaga. Maaf kalau ada yang tersinggung. Sebaliknya, saya tetap berharap mudah-mudahan pulau-pulau bagus lainnya di Indonesia seperti Pulau Sempu di Jawa Timur atau Pulau Kakaban di Kalimantan Timur tidak dibangun resor oleh investor asing maupun lokal.

Dengan banyaknya jumlah pulau di Indonesia, sadarkah Anda bahwa Anda hanya pernah pergi ke sebagian kecilnya saja? Saya sangat suka pantai dan pulau yang sepi, hanya dengan tidur-tiduran di pasir sambil memandang air laut dan diterpa angin laut saja saya sangat bahagia. Herannya, Indonesia yang merupakan negara kepulauan tapi jarang ada pulau yang bersih dan indah. Masa di antara 17.000 pulau jarang sekali ada yang bagus? Salut dengan Filipina dan Maldives, mereka adalah salah dua negara kepulauan tapi bisa menjaga kebersihan dan keindahan pulau-pulaunya.

Catatan: Mudah-mudahan Anda tidak tertarik pergi ke pulau-pulau di atas, karena nanti jadi ramai dan berisik. Hehehe!

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series – which will become a movie in 2017.

15 comments

  • Cerita yg ini sangat lucu, Santy sampai ketawa ngakak sendirian (jgn2 dikira or-gil kali??). Btw, kenapa cerita2 seru ini tdk disertakan dgn foto?

    Reply
  • Mbak Trinity, saya salah satu pengagum mbak. Salut bs jalan2 sendiri k berbagai negara. Saya sudah terkena virus traveling mbak neh…dan merasakan nikmatnya traveling sendiri disuatu pulau atau daerah. Kapan buku nake traveler jilid 2 diterbitkan? 🙂

    Reply
  • yay!kemaren akhirnya rampung baca naked traveler, beneran mo ada jilid 2 mbak?ditunggu ya.
    mo tanya dong mbak, beneran mereka(pulau2) itu telah dijual?
    memang mereka dulu sapa yg punya?
    lalu status pulau dan perairan di sekitar mereka(pulau2) itu berarti bukan punya indonesia lg dong?

    Reply
  • salam mbak…
    minggu 11 april 2010 saya kepulau cubadak, betul mbak pulau itu keren bgt, tenang, sejuk, dan mahal.
    saya berhasil kesana karena ada temen saya dari prancis nginep disana. jadi saya diundang untuk kesana.
    sesampainya saya disana, saya ditanyai dan hanya diijikan kearah bungalaw teman saya saja dan itu pun tidak boleh lama, hanya 30 menit saya pun sudah disuruh pergi, benar-benar merasa terjajah rasanya. teman saya pun merasa tidak enak terhadap perlakuan sipemilik.

    Reply
  • Harga nginep di cubadak @USD105/mlm/orang.
    Hehehe aku tadinya plan untuk nginep di cubadak 28-30 mei ini, tapi fully booked. Even kalo nginep di sikuai n mau nyebrang ke cubadak juga ga boleh. Mereka bener2 menjaga privasi tamu kali ya biar ga terlalu rame.

    Reply
  • ane pernah tuh snorkeling di maratua….
    huuu mangstab…. terus pasirnya…. wuihhh… ane sempet teriak2 waktu pertama kali nginjek pasirnya, soalnya ane kira lumut (dan ane paling jijik sama lumut) ternyata pas diliat… wow pasir……

    Reply
  • Pingback: dreams do come true « kangenkasur

  • Pingback: Pulau Indah Terjajah – Journal and Traveling

Leave a Reply