The Naked Traveler

Archive for February, 2006

Sekilas Banda Aceh Kini

Baru-baru ini saya melakukan 2 hari perjalanan bisnis ke Banda Aceh, cerita tragis mengenai gempa dan tsunami tahun lalu membuat saya ingin tahu seperti apa kota itu sekarang. Pesawat yang membawa saya ke sana penuh, Business Class dipenuhi bule-bule membawa laptop. Dari atas sebelum pesawat akan mendarat, saya melihat betapa Aceh itu subur dan indah. Meskipun terlihat ada pergeseran garis pantai akibat sapuan tsunami namun pegunungannya indah, sawahnya hijau, pantainya bersih, dan air lautnya biru. Seandainya saya ada waktu untuk diving di Pulau Weh…

Tak jauh dari bandara, terdapat pemakaman massal puluhan ribu warga korban tsunami – mengingatkan saya pada makam Killing Fields of Choeung Ek. Di sebelah kanan terdapat spanduk besar bertuliskan welcome humanity heroes, thank’s for your help (thanks pakai tanda kutip). Saya pun melihat banyak kendaraan baru dan bagus hasil sumbangan PBB maupun LSM luar negeri, baik berupa mobil ambulance, pemadam kebakaran, panser, pick up, truck, ranger, dan lain lain. Warga negara asing pun banyak terlihat di jalan, entah apa kerjanya. Mereka berpakaian a la Indiana Jones, tapi ada juga memakai celana pendek dan kaos singlet seperti turis. Ternyata tidak cuma bule-bule saja, tapi ada juga segerombolan orang asal India. Yang membuat saya mengerutkan kening adalah ketika saya melihat beberapa cewek Jepang yang memakai rok mini, stocking dan jaket kulit hitam di siang bolong. Ngapain coba cewek-cewek dengan berpakaian seperti itu di sini?

Saya pun menyempatkan diri untuk mampir di Masjid Raya Baiturrahman, landmark kota Banda Aceh. Saya jadi teringat salah satu stasion TV yang menayangkan gambar orang-orang dari atas masjid tersebut berdiri ketakutan menyaksikan banjir bandang yang besar yang menyapu kota. Padahal masjid itu besar dan tinggi namun tidak tampak rusak, kecuali menara di depannya yang dindingnya sedang direnovasi. Pusat kota Banda Aceh sendiri sudah bisa dibilang pulih, sudah ramai dengan toko-toko, ada beberapa bank dengan ATM, juga restoran-restoran (masakan khas andalannya adalah ‘ayam tangkap’ dan ‘mie Aceh’ dengan kuah pedas yang nikmat). Bekas-bekas tsunami terlihat dari tanah yang lembab dan kotor, kaca-kaca bangunan yang masih pecah dan belum diperbaiki, atau atap-atap yang masih bolong-bolong, namun tidak banyak. Sekolah-sekolah masih ada yang rusak sehingga beberapa sekolah dijadikan satu. Di pinggiran kota saya juga melihat perumahan penampungan korban tsunami yang terbuat dari papan tripleks.

Tak jauh dari masjid terdapat plang Hotel Kuala Tripa yang dulunya merupakan hotel terbagus di Aceh namun sudah rata dengan tanah. Saat ini hotel terbaik yang ada di Banda Aceh adalah Hotel Sulthan, hotel berbintang tiga ini konon peninggalan zaman Belanda sehingga konstruksinya kuat sehingga tidak hancur berat. Karena satu-satunya hotel yang representatif, selalu fully booked terutama dengan bule-bule yang bekerja di LSM, bahkan mereka mem-book restoran secara permanen untuk acara makan mereka. Harga menginap sebelum tsunami katanya hanya 150 – 300 ribu per malam, sekarang naik lebih dari 100% meskipun sebagian kamar hotel masih direnovasi. Pemandangan dari jendela kamar tipe deluxe di lantai 2 adalah tanah yang becek dan tumpukan kayu-kayu yang lepas terhantam air.

Yang menarik bagi saya adalah hukum Islam yang ditegakkan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini. Ketika keluar dari bandara, ada billboard besar bertuliskan ‘Anda memasuki daerah Syariat Islam’ dengan gambar orang berbaju Muslim. Di kota pun ada beberapa promosi pemerintah melalui spanduk, seperti spanduk bertuliskan ‘wanita berbaju ketat sama dengan syeitan’ dengan tipe font pada katasyeitan’ yang berdarah-darah. Atau spanduk yang bertuliskan ‘warga kota diwajibkan untuk berbusana Islami, menutup aurat, tidak ketat, dan tidak tipis’. Polisi Syariat yang berseragam khusus terlihat berpatroli menangkap wanita yang tidak berkerudung atau pria-wanita yang berduaan di tempat umum tanpa surat nikah. Bagaimana dengan saya yang bukan Muslim? Katanya sih tidak apa-apa, tapi kan males juga kalau didatangi polisi jadi saya pun turut memakai baju lengan panjang dan kerudung. Problem saya adalah ketika saya berpakaian seperti itu, bagaimana saya merokok? Kedua, kalau saya berenang di pantai (misalnya saya jadi diving di Pulau Weh), baju apakah yang harus saya pakai?

Mengangkang di Kepala Porter

Alat transportasi paling beragam – mulai dari roda dua sampai roda banyak, bahkan tanpa roda – rasanya hanya ada di negara-negara Asia, entah karena kontur negaranya, kondisi ekonominya, atau karena orang Asia memang sangat kreatif. Sebagai independent traveler sekaligus backpacker, kemewahan menggunakan bis turis ber-AC sungguh tidak adventurous (sebenarnya sih tidak sanggup bayar), tapi menggunakan alat transportasi tradisional dan bergaul dengan orang lokal jauh lebih menyenangkan.

Di Siem Reap, dengan harga 5 US$/hari saya menyewa ojek untuk keliling-keliling kota termasuk mengunjungi candi-candi di kompleks Angkor Wat yang luas. Si mas tukang ojek yang masih muda juga merangkap guide, dia mengerti sejarah dan seluk beluk percandian. Saya pun jadi punya teman ngobrol karena dia berbahasa Inggris meskipun patah-patah – belakangan saya ajari bahasa Indonesia (kata-kata favoritnya adalah “Ayo cabut!”). Di Pnom Pehn, ojek juga merupakan alat transportasi utama tapi tukang ojeknya kebanyakan kakek-kakek dengan motor yang sudah tua-tua. Motor pun dimodifikasi dengan memanjangkan jok belakang menggunakan kayu sehingga dapat memuat 3 orang sekaligus. Hati-hati, kemampuan bahasa Inggris mereka parah, saya sering dibuat nyasar. Cara mengatasinya, saya selalu membawa peta dan menunjuk benar-benar arahnya, saya juga mencari tahu bagaimana mengucapkan tempat yang dimaksud dengan bahasa lokal. Kalau pede, kita juga bisa menyewa motor seperti yang saya lakukan di Pulau Koh Samui, Thailand. Lucunya, saya pernah lupa mencatat nomor plat motor sampai saya kebingunan mencari di antar ratusan motor di tempat parkir karena ternyata semua motor sewaan itu bentuk dan warnanya sama!

Jangan heran di Colombo dibanjiri lautan bajaj karena bajaj berasal dari India, negara yang berbatasan dengan Sri Lanka. Bentuk bajajnya lebih kecil sedikit daripada di Indonesia tapi suara dan getarannya tetap menyebalkan. Di Bangkok, saya memilih untuk menyewa becak genjotan manusia untuk membawa saya keliling ke tempat-tempat wisata. Si tukang becak bersedia mengantar, menunggu, dan memberi informasi bagaimana cara masuknya meskipun dengan bahasa Tarzan. Berbeda dengan di Filipina, becaknya bermotor seperti di kota Medan dengan gerobak di belakangnya yang muat sampai 3 orang. Kalau jalan menanjak, si tukang ojek menyuruh kami mengatur tempat duduk berjejer di belakang, begitu jalanan datar kami baru duduk hadap-hadapan.

Di beberapa tempat bahkan ada pangkalan gajah sebagai salah satu alat transportasi komersial. Contohnya saja di di utara kota Chiang Mai, Thailand, tempat Meo hill tribes tinggal. Jijik juga naik gajah, kulitnya yang keras tapi bernyawa dikerubutin serangga kecil-kecil. Si pawang menyangka saya takut dan berkata, “Don’t worry, elephant is vegetarian!”. Di candi Phnom Bakeng, salah satu situs di Angkor Wat tempat orang melihat matahari terbenam di antara kemegahan kompleks candi ratusan tahun yang lalu, terletak di atas gunung. Bagi orang yang tidak sanggup mendaki dengan kemiringan 60º, tersedia gajah yang membawa ke atas. Hebat, saya pikir gajah itu cuman bisa jalan di daratan yang rata, ternyata di sana gajah-gajah itu bisa trekking ke dalam hutan, menyebrang sungai, naik gunung, dan berjalan di jalan setapak dengan 4 kakinya yang sejajar.
Yang paling tersiksa adalah ketika saya naik Jeepney (angkot di Filipina yang menggunakan Jeep Willis zaman Perang Dunia yang telah dimodifikasi). Dari kota Puerto Princessa ke Sabang di Pulau Palawan membutuhkan waktu 4 jam dengan jalan yang off road. Jeepney yang kecil itu bisa dinaiki sampai 45 orang sampai ke atap bahkan supirnya pun pangku-pangkuan dengan penumpang. Di tengah jalan turunlah hujan deras dan semua orang berdesak-desakan masuk, jendelanya yang tanpa kaca ditutupi plastik gulung. Duh, pengapnya tidak karuan! Pulang dari Sabang, sekali lagi saya disiksa Jeepney. Di atas atap mobil selain manusia ada 2 kontainer besar berisi ikan hidup, 2 ekor babi, plus 4 ekor ayam. Atap mobil sebentar-sebentar bunyi berdebum karena si babi seperti main surfing bersusah payah menjaga keseimbangan. Kapok akibat pengap, saya bela-belain duduk di pinggir jendela bolong namun air amis dari ikan dan ‘tokai’ babi menyiprat masuk melalui jendela saya! Yikes!

Alat transportasi yang paling lucu ada di Filipina, tepatnya di Pulau Boracay. Begitu sampai, kapal berhenti jauh dari garis pantai jadi kami harus rela nyebur berbasah-basahan dengan kedalaman air sekitar sepaha. Di bawah kapal ada segerombolan lelaki, dari gelagatnya sih saya menebak mereka adalah porter. Betapa kagetnya saya ketika tahu bahwa mereka bukan porter pengangkat barang, tapi pengangkat orang! Saya perhatikan satu per satu orang turun dari kapal, naik ke atas si porter – pilihan gayanya: bisa mengangkang di antara kepala porter dengan kedua kaki menjuntai di badannya, bisa duduk di salah satu sisi pundak porter, atau digendong di punggung porter dengan resiko masih kena basah – diangkutlah sampai ke pinggir pantai. Teman saya yang dapat giliran turun dari kapal jelas-jelas menolak digendong karena dia pakai rok mini dan G-String, hehe! Saya pun jadi risih dan kami memilih untuk nyebur ke laut. Beberapa hari kemudian kami harus kembali menggunakan kapal yang ternyata masih ngedok jauh dari garis pantai. Daripada berbasah-basahan sampai di Manila, mending digendong. Sadar diri bertubuh besar, saya memilih porter yang bertubuh paling gede, lalu diangkat lah saya di pundak kanannya (daripada mengangkang di kepalanya) dan berjalan lewat laut yang berombak. Meskipun serasa putri-putri zaman Majapahit, saya tetap teriak-teriak takut tidak balance karena bisa-bisa kecebur ke belakang. Di antrian belakang saya ada cowok bule yang sempat sangsi mau diangkat, “I weigh 90 kg, you know?”, tapi para porter justru berebut untuk menggendong. Hebat!

Satu malam bersama TKI

Maaf, bukannya saya menjelek-jelekan para Tenaga Kerja Indonesia, tapi saya selalu merasa terganggu sekaligus terhibur ketika saya harus satu pesawat dengan mereka. Maklumlah, sebagai backpacker kemungkinan sepesawat dengan para TKI besar sekali. Kita dapat bertemu mereka jika naik pesawat ‘ecek-ecek’ kelas ekonomi ke atau dari negara tujuan para TKI seperti Dubai, Bandar Sri Begawan, dan Kuala Lumpur. Kelakuan mereka membuat saya kasihan, nelangsa, sebal, sekaligus malu – mereka adalah bangsa kita juga bukan?

Dimula saat memasuki pesawat dimana mereka sering kebingungan duduk di mana sehingga berebutan menduduki kursi kosong, bahkan sering tidak mau dipisah dengan teman-temannya meski salah nomor tempat duduk. Malah ada yang cuek duduk pangku-pangkuan sampai tangannya ditarik pramugari untuk disuruh pindah. Barang bawaan mereka yang sejibun pun tidak mau ditaro di bagasi atas tempat duduk, kadang ngotot-ngototan dengan pramugari yang mau memindahkan tas mereka ke bagasi yang kosong. Saat take off, kebanyakan tidak tahu harus pasang sabuk pengaman dan menegakkan kursi, bahkan masih banyak di antara mereka yang asik berjalan-jalan ngerumpi dengan teman-temannya meskipun posisi pesawat sudah miring. Sehabis take off, mulailah keluar bau-bauan tidak menyenangkan, seperti minyak si nyong-nyong, balsem berbau pedas, dan bau-bauan menyengat lainnya. Maksudnya supaya tidak mabok, tapi tetap saja ada yang muntah-muntah.

Ketika makanan datang, sekali lagi pramugari dibuat bingung saat harus menawarkan pilihan makanan karena jawabannya adalah selalu menganggukan kepala untuk kedua jenis makanan. Berniat untuk membantu pramugari, saya sampai mengajari pramugari berkata ‘kambing’ dan ‘ayam’ untuk menawarkan pilihan makanan lamb with rice or chicken with potato. Lalu sepanjang lorong pramugari itu bertanya, “Kambing? Ayam? Kambing? Ayam?”. Hehe, lucu juga mendengar pramugari ngomong 2 kata bahasa Indonesia dengan aksen bule dan intonasi yang aneh. Yang nyebelin, entah karena tidak tahu atau bagaimana, ada di antara mereka membuang sisa makanan di lantai pesawat. Paling parah ketika salah satu dari mereka ada yang membawa camilan kacang kulit, dengan santainya dia membuang semua kulit kacang di lantai. Duh! Pernah juga ada pramugari yang naik darah memarahi TKI sambil tarik-tarikan piring karena mereka ngembat peralatan makanan (besoknya ternyata ada TKI yang nekat, lepas dari pengawasan pramugari tapi ditangkap oleh petugas boarding karena ketahuan di Sinar X dia ngembat peralatan makanan).

Toilet pun… haduh, ampun! Selain bau, masa ada yang nekat buang air kecil di lantai toilet pesawat – ada air berwarna kuning menggenang di lantai! Oh tidak! Saya pun pindah ke toilet lain yang keadaannya tidak lebih baik, ada ceceran kotoran di mana-mana! Huek! Lepas dari persoalan makanan dan toilet, saya pikir keadaan akan lebih tenang. Penerbangan yang memakan waktu lama dimanfaatkan mereka untuk menggunakan fasilitas personal TV. Namun karena tidak tahu bagaimana cara menyalakan video dan mencari channel, mereka sibuk memencet-mencet tombol remote. Favorit mereka adalah menonton film India dengan volume yang keras sampai saya bisa mendengarnya lewat headset mereka. Parahnya lagi, mereka tertawa-tawa dengan suara kencang dan bertepuk tangan ketika jagoannya menang. Halah, saya mau tiduuur!

Karena saya jadi tidak bisa tidur, saya mencari hiburan sendiri dengan menguping pembicaraan di antara mereka. Di sebelah saya ada 2 orang perempuan, yang satu perempuan yang masih polos dan lugu, yang satu lagi perempuan yang berdandan (gincu merah, bedak kuning tebal, baju ketat warna ngejreng, celana jeans bermanik-manik, dan sepatu hak ulekan). Si dandan berkata kepada si polos, “Suamiku itu orang Yemen, uh orangnya cemburuaaan banget. Sering loh dia nelponin suamiku di kampung dan marah-marah. Lah wong saya sekarang mau pulang aja, dia nggak ngebolehin aku duduk sama cowok di pesawat. Hihihi…hihihi….”. Lalu si polos ikutan terkikik, “Hihihi… hihihi…” Meskipun topiknya tidak penting tapi hihi-hihi itu berlangsung lama sampai saya akhirnya beneran ketiduran…

Phobia-mu jadi Phobia-ku!

Traveling bersama teman yang mempunyai phobia membuat kita jadi ketularan phobia – kita jadi ikutan panik melihat teman yang panik. Sepertinya phobia naik pesawat (aviophobia) paling banyak diderita orang, saya saja punya 4 orang teman yang menderita phobia tersebut. Salah satunya adalah teman yang paling sering traveling bersama saya, padahal dia suka banget traveling dan pekerjaannya mengharuskan dia sering naik pesawat. Setiap kali saya duduk di sebelahnya, saya sering jadi ikut senewen. Pertama, dia harus duduk di jendela – dia menolak naik pesawat kalau tidak mendapat duduk di jendela. Pesawatnya pun tidak mau pesawat dari penerbangan ecek-ecek, untuk penerbangan domestik minimal harus naik Garuda. Baru masuk pesawat, mukanya sudah tegang. Saat pramugari memperagakan cara keselamatan, menurut dia kata-katanya terdengar seperti ‘Mayday, mayday!’. Begitu pesawat lepas landas, keringat dingin berkucuran di mukanya yang pucat, begitu pula kedua telapak tangannya. Matanya terpejam sambil komat-kamit membacakan doa. Kalau ada goncangan, tangan saya kena jambak. Aduh!

Orang yang mempunyai phobia ketinggian (acrophobia/altophobi) pasti tidak mau diajak naik roller coaster atau bungy jumping, sebab berada di ketinggian pun mereka sudah mau muntah. Saya pernah jahat memaksa teman ikutan bungy jumping di Selandia Baru, promosi saya ‘kapan lagi bungy di negara asalnya?’. Tapi berada di pinggir tebing dan melihat kabel tempat kami diikat untuk loncat, membuat mukanya pucat seperti mayat dan terduduk lemas. Dia tidak dapat berkata apa-apa selain minta dipapah kembali ke dalam bis karena pusing. Haduh, maaf! Herannya, semakin tua seseorang kadang tidak sadar kalau akhirnya mempunyai phobia. Contohnya ibu saya yang saya ajak naik gunung batu Sigiriya di Sri Lanka. Kami berdua santai saja naik, apalagi ibu saya dulunya anak Menwa dan suka naik gunung. Tapi di tengah jalan, saat kami harus melipir persis di tebingnya, angin pun bertiup keras. Saya pun melihat muka ibu saya yang pucat dan mendengar ibu saya berteriak-teriak minta tolong. Sejak itu dia kapok berada di ketinggian.

Ada lagi teman saya yang belakangan baru sadar dia mempunyai phobia terhadap ruang tertutup (claustrophobia) gara-gara dia pernah terkena panic attack saat menyelam di kedalaman 100 feet. Setahun kemudian kami berencana menyelam di Derawan, dia pikir dia sudah lupa akan kepanikannya. Namum baru 5 meter kami pelan-pelan turun menyelam, matanya melotot panik, tubuhnya kejang dan langsung menolakkan badannya ke atas permukaan air. Sebagai buddy-nya, saya kan jadi takut juga karena sangat membahayakan keselamatan seseorang bila saat menyelam langsung melejit ke permukaan air. Halah! Sejak itu dia jadi takut berada di tempat dimana dia tidak bisa keluar dalam hitungan detik, seperti basement, gua, dan kedalaman lautan.

Yang paling aneh adalah teman saya yang punya phobia sama cicak – entah apa namanya jenis phobia ini. Makhluk kecil tak berdaya itu bisa membuat teman saya ketakutan luar biasa. Suatu hari kami sedang mengendarai mobil, tiba-tiba ada cicak jatuh di luar kaca depan mobilnya. Seketika itu, dia yang sedang menyupir berteriak-teriak panik sambil mengangkat tangan dan … melepaskan setir! Duh, apa saya tidak jadi panik juga?

Mungkin ketakutan terbesar saya adalah takut nyasar berhubung saya adalah seorang yang disoriented. Namun saya tidak menggolongkannya dalam phobia karena saya tetap tidak kapok traveling ke mana-mana, sendiri pula. Kalau rasa takut akibat nyasar datang, rasanya saya langsung sesak napas, dada rasanya seperti tertusuk, dan keluar keringat dingin. Kalau sudah begini, saya harus duduk tenang di tempat sepi, mengambil napas dalam-dalam, merokok, baru otak saya jernih lagi dan mulai mengulang membaca peta pelan-pelan. Contohnya suatu hari di Florence, Italia, saya menaruh ransel saya di locker stasion kereta api dan maksudnya saya mau keliling-keliling selama 3 jam sebelum kereta berangkat. Di peta kelihatannya Museum Uffizi itu dekat, begitu juga dengan The Duomo. Namun saking asiknya jalan-jalan saya lupa waktu dan tinggal setengah jam lagi kereta akan berangkat, sementara saya tidak tahu sedang berada di mana dan bagaimana caranya kembali ke stasion. Waduh, rasanya mau pingsan! Saya sampai dipapah polisi saking lemasnya, padahal saya cuman mau bertanya bagaimana caranya ke stasion kereta. Untung polisi Italia ganteng-ganteng, hehe!

Pulau Indah Terjajah

Have you been to Indonesia?” tanya saya kepada seorang teman di Italia.
Yes I have, but only stayed in Cubadak for 2 weeks,” jawabnya.
Cubadak? Baru kali ini saya dengar. Kok bisa teman saya itu bela-belain ke Indonesia hanya untuk leyeh-leyeh di Pulau Cubadak selama 2 minggu, tidak pernah ke Bali, tidak pernah ke Jakarta. Apa rahasianya sebuah pulau terkenal bagi turis asing tapi tidak bagi orang Indonesia? Saking penasarannya (dan kebetulan karena saya senang ‘berburu’ pulau), saya pun pergi ke Pulau Cubadak yang ternyata ada di Sumatra Barat. Dari Padang dapat ditempuh selama 2,5 jam naik mobil ke arah selatan dan 10 menit naik speed boat. Saya pun terkesima begitu kapal mendarat karena yang menyambut kami adalah seorang wanita berkulit putih dan sibuk memayungi kami (saya jadi merasa bangsa yang superior). Di resor ini tidak ada tamu orang Indonesia lain selain kami, selebihnya orang Italia. Saat makan yang selalu bersama-sama di ruang makannya dengan meja besar, saya benar-benar tidak merasa berada di Indonesia karena semua orang berbahasa Italia. Pulaunya benar-benar tenang, hanya ada 12 bungalow menghadap pantai dan di belakangnya hutan. Pasirnya putih, airnya yang berwarna emerald green sama sekali tidak berombak, pokonya tak terasa ada di pantai karena seperti berada di danau besar yang dikelilingi oleh pegunungan yang berawan. Keren abis!

Resor lain yang dimiliki oleh orang Italia adalah Pulau Gangga yang terletak di Sulawesi Utara, 2 jam naik mobil dari Manado dan sejam naik speed boat. Seperti biasa, kami adalah satu-satunya tamu dari Indonesia, sisanya orang asing dari berbagai negara. Sedangkan di Pulau Menyawakan – salah satu pulau di Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah – dimiliki oleh orang Swedia. Kedua pulau ini juga sangat indah, pasirnya putih bersih, airnya biru jernih. Pulau dengan resor yang dikelola bule ciri khasnya adalah lokasi yang sepi dan tersembunyi, tidak ada tukang jualan lewat-lewat atau warung-warung di pinggir pantainya. Biasanya kamar-kamarnya berinterior minimalis dengan bangunan yang terbuat dari gedek dan atap rumbia (keponakan saya yang berumur 5 tahun yang pernah menginap di resor a la bule berkomentar, “Kok hotelnya kayak kandang kuda?”), bahkan di Pulau Moyo kamarnya terbuat dari tenda terpal besar. Meskipun mereka men-charge dalam dolar, tapi sepadan dengan privasi yang kita dapatkan.

Berbeda dengan resor yang dikelola Indonesia – contohnya Pulau Sepa, Kepulauan Seribu – bangunannya terbuat dari tembok dengan interior yang ramai. Di benak sebagian besar orang Indonesia menginap di hotel adalah: menginap di kamar tembok dan ber-AC. Ukuran resornya pun pasti besar yang terdiri dari puluhan bahkan ratusan kamar. Parahnya, ada hall yang dilengkapi dengan karaoke atau live band yang berisik sik sik! Tapi memang tidak bisa disalahkan, memang orang kita senang kumpul-kumpul beramai-ramai sambil ngerumpi haha-hihi.

Masih banyak lagi pulau-pulau di Indonesia yang (sayangnya) dimiliki atau dikelola oleh orang asing, seperti Pulau Moyo di Sumbawa, Pulau Maratua di Kalimantan Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Raja Ampat di Papua, dan lain-lain. Tidak tepat juga dikatakan bahwa lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia adalah murni karena kesalahan Malaysia – meskipun kedua pulau ini masuk wilayah Indonesia namun Malaysia lah yang pertama kali membuat kehidupan di pulau ini dengan membuka bisnis hotel dan diving. Sebagai seorang scuba diver, terus terang saya lebih setuju dikelola Malaysia karena alam bawah lautnya jadi lebih terjaga. Maaf kalau ada yang tersinggung. Sebaliknya, saya tetap berharap mudah-mudahan pulau-pulau bagus lainnya di Indonesia seperti Pulau Sempu di Jawa Timur atau Pulau Kakaban di Kalimantan Barat tidak dibangun resor oleh investor asing maupun lokal.

Dengan banyaknya jumlah pulau di Indonesia, sadarkah Anda bahwa Anda hanya pernah pergi ke sebagian kecilnya saja? Saya sangat suka pantai dan pulau yang sepi, hanya dengan tidur-tiduran di pasir sambil memandang air laut dan diterpa angin laut saja saya sangat bahagia. Herannya, Indonesia yang merupakan negara kepulauan tapi jarang ada pulau yang bersih dan indah. Masa di antara 17.000 pulau jarang sekali ada yang bagus? Salut dengan Filipina dan Maldives, mereka adalah salah dua negara kepulauan tapi bisa menjaga kebersihan dan keindahan pulau-pulaunya.

Catatan: Mudah-mudahan Anda tidak tertarik pergi ke pulau-pulau di atas, karena nanti jadi ramai dan berisik. Hehehe!

You are currently browsing the The Naked Traveler blog archives for February, 2006.