Becak di Landasan Pesawat

Airport paling ‘lucu’ adalah ketika Anda berada di airport dimana airport tersebut melayani penerbangan dengan menggunakan pesawat kecil, biasanya pesawat baling-baling berkapasitas 4 sampai 40an orang. Wajib hukumnya pada saat check in, bagaikan bagasi kita sendiri harus naik timbangan dan petugas akan berteriak di depan umum berapa berat badan kita dan dicatat di boarding pass (beruntunglah bagi Anda yang tidak bertubuh gemuk seperti saya!). Berat badan inilah yang menentukan posisi tempat duduk kita di dalam pesawat, supaya balance. Perlakuan terhadap berat badan pun berlaku terhadap bagasi dimana bagasi tidak boleh lebih dari 10 kg per orang, kalau lebih berarti Anda harus membayar kelebihan bagasi yang lumayan mahal – itupun kalau memungkinkan untuk diangkut.

Di airport Tanjung Redeb (Kalimantan Timur) saat boarding menunggu pesawat datang, saya mendengar suara sirene kencang sekali sebanyak 3 kali dengan jeda beberapa menit. Saya pun bertanya artinya kepada penumpang yang duduk di sebelah saya yang saya yakin adalah penduduk setempat. Jadi begini artinya: sirene pertama adalah pemberitahuan bahwa akan ada pesawat mendarat sehingga harap mengosongkan landasan…bagi orang-orang yang menggembalakan ternaknya. Sirene kedua untuk mengusir orang yang sedang main bola yang biasanya masih nekat main di tengah landasan. Sirene ketiga berarti pesawat sudah benar-benar akan mendarat!

Kelucuan lain yang terjadi di airport kecil adalah saat transit di airport Busuanga (Filipina), pesawat akan mengambil penumpang lain untuk sama-sama menuju Manila. Karena haus dan ada selang waktu beberapa saat, maka kami nyelonong aja ke luar airport dan nongkrong di warung. Lagi asik-asiknya minum, terdengar suara orang berlari ke arah kami, hah, di pintu warung kami berdirilah pilot pesawat tadi sambil teriak, “Boarding! Boarding!”. Hehe, seorang pilot harus turun dari pesawatnya dan kejar-kejaran sampai ke warung untuk memanggil para penumpangnya! Dengan malu, saya dan teman-teman pun berlari-lari masuk dan menjawab, “Coming! Coming!

Airport paling favorit saya adalah airport El Nido, sebuah kota kecil di utara pulau Palawan di Filipina. Begitu pesawat yang membawa saya dari Manila mendarat, saya sampai heran karena tidak ada bangunan berbentuk airport sama sekali di dekat landasan. Ada juga sebuah rumah kayu dengan garasi terbuka tempat orang berkumpul. Rupanya ‘garasi’ itu adalah tempat counter check in dimana cuman ada satu meja tinggi dan timbangan. Di sisi-sisi ‘garasi’ terdapat bangku kayu panjang, di bawahnya terdapat ember-ember berwarna merah yang digantung berisi pasir. Percaya atau tidak, di setiap ember bertuliskan “use this in case of fire“! Busyet, hari gini kalau ada kebakaran cara mematikan apinya masih harus disiram pasir!

Saya lalu bertanya kepada petugasnya bagaimana cara pergi ke pusat kota karena tidak ada jalan raya di belakang ‘garasi’ dan tidak ada tricycle (kendaran beroda tiga khas Filipina, semacam becak bermotor) yang merupakan kendaraan umum di kota kecil. Jawabnya, “Just wait here, Ma’am. After the plane take off, the tricycles will come here.” Hah? Rupanya si petugas tau kalau saya masih bingung. Ia lalu menambahkan, “Because tricycles here are using the same runway, Ma’am!” Huahaha! Gile juga, pesawat dan becak menggunakan jalan yang sama! Tak berapa lama kemudian begitu pesawat lepas landas, ada bunyi sirene yang kencang tanda landasan ‘aman’. Lalu terdengar suara berisik segerombolan motor yang digas pol, terlihat debu yang bertebangan, dan… di balik kabut debu itu …jreng, jreng…segerombolan tricycle pun datang dengan supir-supir becak yang gagah serasa di film Renegade. Hebat kan?

Kehebatan lain dari airport El Nido adalah saat saya harus terbang balik ke Manila. Dengan naik tricycle, saya memasuki area airport dan tricycle yang memang berjalan atas landasan pesawat! Sehabis check in, ada tiga pilihan menunggu pesawat: berenang di pantai yang indah persis di sebelah airport, tidur-tiduran sambil berayun di hammock di bawah pohon, atau duduk di bangunan utama yang asri bagaikan lobby resort yang mewah dan disediakan aneka minuman gratis. Enak kan boarding di airport seperti ini?


Trinity

Indonesia’s leading travel writer & blogger whose life story became a movie. Author of 15 books incl “The Naked Traveler” series.

6 Comments

  • Dewiezulu
    January 24, 2013 5:55 pm

    Ternyata baca cerita lama lucu juga yaa..apalagi baca cerita airport2 kecil..moga2 sudah bnyk kemajuan pada airport2 tersebut…

  • Filia
    August 3, 2013 8:47 pm

    ha ha ha ha! berhasil banget tulisan ini!
    jadi pengen ke sana buat nyobain tricycle-nya!
    ha ha ha ha ha

  • adino
    October 18, 2013 9:51 pm

    Hebat bgt blog mba trinity, pas posting awal2 gini commentnya ga lebih dr 10 tp posting2 yg terbaru commentnya gileeee ratusannn…

  • Saiful Bahri on wisata lombok
    October 11, 2015 11:12 am

    tricycle serbaguna

  • vindhya
    March 23, 2017 10:22 pm

    12 tahun laluuuu… Aduuuh.. kusuka airport kecil begini! Masih begini nggak yaaaa?

  • Gunadi
    November 16, 2017 9:47 pm

    tidak bermaksud apa-apa, ada timbangan gak di sebelah hammock yg disebut di alinea terakhir itu?

Leave a Reply

Leave a Reply