Ketemu ‘Malaikat’ di Airport

Kalau Anda terbang long flight dan maunya bayar murah, harusnya Anda pernah terpaksa menginap di airport. Apalagi Jakarta jarang jadi kota asal untuk terbang direct flight karena hampir semua pesawat yang menuju ke Eropa atau Amerika biasanya bermula dari Singapura. Untuk mendapatkan tiket murah, pasti jam keberangkatannya bukan di jam yang convenient. Contohnya saja, terbang dari Jakarta ke Singapura pada jam 11 malam untuk mengejar pesawat berikutnya pada jam 7 pagi. Well, di manapun airport untuk transit dan bila negara itu tidak memerlukan visa, sebenarnya bisa saja kita ke luar airport menghabiskan malam dengan minum-minum di kota. Tapi selain karena saya seorang yang disoriented – tidak tahu arah dan tidak bisa membaca peta – naik taksi ke kota dan minum-minum tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi saya yang seorang backpacker.

Kalau Anda menghargai privasi dan kenyamanan, silakan menginap di Hotel Transit yang berada di dalam airport. Saya pernah (terpaksa) menggunakan fasilitas ini di airport Kuala Lumpur karena saya sudah lelah sekali berlibur selama 3 minggu keliling Asia Tenggara, dan tiba di aiport sudah jam 1 pagi sementara pesawat berikutnya jam 8 pagi. Saya langsung saja check in di Hotel Transit yang ternyata harga menginapnya paling mahal dibandingkan penginapan-penginapanan a la backpackers selama 3 minggu sebelumnya. Sistem menginap di hotel transit adalah per lot, satu lot sama dengan 6 jam, kalau tidak salah harga per lot sebesar 200 Ringgit (hampir Rp 500.000,-) untuk single bed. Kamarnya kecil dan ada kamar mandi di dalamnya. Di dinding ada korden motif bunga-bunga berwarna pink, yang begitu kordennya dibuka ternyata hanya dinding belaka sebagai ‘kamuflase’ biar disangka ada jendela dan biar terlihat seperti layaknya kamar di hotel beneran gitu loh. AC-nya pun AC sentral, tidak bisa dikecilkan atau dibesarkan sesuai keinginan. Enam jam kurang lima belas menit, telepon akan berdering keras, artinya harus segera cabut dari kamar itu atau ditawarkan perpanjangan jam oleh petugas reception. Duh, lima belas menit bagi saya kurang cukup untuk ‘mengumpulkan nyawa’ – belum lagi melakukan kegiatan ritual lainnya di kamar mandi.

Kalau Anda tahan dingin dan ‘ogah rugi’ bayar hotel, Anda bisa tidur di bangku ruang tunggu atau bahkan di lantai airport yang berkarpet biar bisa selonjor. Tidak usah kawatir, banyak kok orang yang memanfaatkan ‘fasilitas’ ini. Pernah suatu kali karena tahu kita (terpaksa) transit 5 jam di airport Bandar Seri Begawan, saya dan teman-teman saling mempersiapkan ‘singgasana’ tidurnya: saya dengan badan tertutup selendang pashmina warna shocking pink dari ujung kaki ke ujung kepala, teman yang lain dengan kedua kakinya yang dimasukkan ke dalam tas saking dinginnya, dan yang parah adalah teman satu lagi yang tidur dengan selimut dan bantal hasil nyolong dari pesawat (ini cara yang paling nyaman tapi butuh keberanian)! Zzzz…..kami pun pergi ke alam mimpi. Tiba-tiba ada suara laki-laki berteriak kasar, ”Hooi! Bangun! Bangun!” sambil menggetok-getokkan benda keras ke kursi yang begitu terdengar sangat berisik. Begitu membuka mata, terlihat para satpam dengan muka garang sedang mengerubungi kita sambil memegang pentungan. Gila, kita udah diperlakukan seperti gembel tidur di stasion bis aja! Tapi saya yakin ini hanya terjadi di Brunei kepada orang yang tidur di bangku airport dengan muka Asia, maklum pasti disangka TKW alias pembokat.

Dasar saya ndeso yang tidak tahan dinginnya AC, suatu malam transit di airport Changi Singapura saya memilih ke lantai dua untuk tidur di ruang outdoor untuk perokok. Di sana ada bangku kayu panjang yang lumayan bisa untuk merebahkan badan plus ‘AC’ khusus, bukan ‘Air Conditioning’ tapi singkatan dari ‘Angin Cepoi-Cepoi’. Tidak berapa lama saya tertidur, tiba-tiba ada sinar sangat terang yang meyorot saya bagaikan spot light dan suara yang sangat memekakkan telinga sampe budeg. Sumpah, saya pikir ada malaikat yang datang menjemput saya! Rasanya badan saya lemas sekali dan tulang-tulang terlepas perlahan-lahan dari tubuh saya. Pikiran saya pun jadi flash back mengingat semua dosa yang pernah saya lakukan. Tidak, jangan sekarang! Akhirnya saya memberanikan diri membuka mata, ternyata saya melihat ada pesawat yang terbang rendah sekali di atas muka sampai anginnya menghempas! Setelah sadar atas apa yang terjadi, ah pantas saja demikian karena lokasi tempat tidur saya persis di sebelah landasan pesawat! Namun lama-lama suara bising itu jadi musik penghantar tidur saya bagaikan lagu nina bobo.

Jadi moral of the story: ada harga ada mutu. Jika Anda berani bayar mahal, tentu Anda akan mendapat pesawat yang mempunyai waktu transit seminim mungkin sehingga tidak usah tidur di airport. Jika harus transit lama juga dan mau bayar ekstra untuk hotel plus tahan dinginnya AC, tentu Anda tidak akan ketemu ‘malaikat’ seperti pengalaman saya.

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series – which will become a movie in 2017.

7 comments

Leave a Reply